Bandung — Toko Seragam Sekolah Diserbu, Penjualan Naik 200%

Suasana di Pasar Baru Bandung dan pusat pertokoan tekstil lainnya berubah drastis menjelang tahun ajaran baru. Penjualan seragam sekolah melonjak hingga du

Jul 09, 2026 - 08:14
0 0
Bandung — Toko Seragam Sekolah Diserbu, Penjualan Naik 200%

Suasana di Pasar Baru Bandung dan pusat pertokoan tekstil lainnya berubah drastis menjelang tahun ajaran baru. Penjualan seragam sekolah melonjak hingga dua kali lipat (100%) dibandingkan hari biasa. Hiruk pikuk pembeli, tawar-menawar, dan gesekan plastik kemasan menjadi pemandangan yang tak terhindarkan. Setiap sudut toko dipenuhi orangtua yang berburu kemeja putih, celana abu-abu, rok, dasi, hingga atribut pelengkap seragam.

Ruang Pamer Berubah Jadi Arena Perburuan

Lorong-lorong sempit antartoko dipadati pengunjung. Karyawan toko berlarian melayani permintaan, suara mesin jahit darurat untuk aneka bordir nama dan emblem sekolah nyaris tak berhenti. Rak-rak yang biasanya tertata rapi kini berantakan. Ukuran paling dicari—kemeja putih untuk anak SD kelas 1 atau celana panjang ukuran remaja—langka di hari biasa namun lenyap dalam hitungan jam begitu tiba di display.

Omzet Pedagang Melejit, Stok Terkuras

Sejumlah pedagang mengaku hari-hari jelang tahun ajaran baru adalah momen dengan omzet tertinggi sepanjang tahun. Beberapa toko melaporkan omzet harian naik 150%—200% dibanding pekan biasa.

"Sejak pukul delapan pagi, pembeli sudah mengular di depan toko. Stok ukuran kecil dan menengah biasanya ludes sebelum siang. Kami bahkan harus menolak pesanan bordir kalau sudah melebihi kapasitas,"
ujar Rudi, pemilik toko seragam di kawasan Jalan ABC Bandung.

Rak-rak yang biasanya lengang di tengah hari kini kosong melompong, hanya tersisa gantungan plastik sebagai saksi bisu perburuan. Para pedagang harus bekerja sama dengan konveksi untuk pengiriman darurat dua kali sehari.

Para Orangtua Berburu di Detik-Detik Terakhir

Banyak orangtua baru bisa membeli seragam beberapa hari sebelum masuk sekolah. Alasan klasik: kesibukan kerja, menunggu gajian, atau baru mendapat kepastian ukuran pasti anak.

"Anak saya naik kelas, badannya melar, semua seragam tahun lalu sudah kekecilan. Saya baru sempat beli sekarang karena baru cuti kerja hari ini,"
kata Irma, seorang ibu dua anak yang terlihat membawa setidaknya empat pasang seragam.

Kekhawatiran kehabisan ukuran yang pas terpancar jelas di wajah para orangtua. Beberapa di antaranya terpaksa membeli ukuran lebih besar dan berencana menjahitnya sendiri di rumah, sementara yang lain rela antre hingga berjam-jam hanya untuk memastikan anak mereka memiliki seragam yang cukup untuk hari pertama sekolah.

Rezeki Dadakan bagi Konveksi Lokal

Lonjakan ini juga dirasakan oleh usaha jahit dan bordir skala rumahan di sekitar Bandung. Pesanan bordir nama dan badge sekolah naik hingga tiga kali lipat. Pemilik usaha bordir rumahan bahkan sering harus menolak pesanan karena kehabisan benang dan waktu. Satu pesanan bisa selesai dalam 30 menit, tetapi daftar tunggu bisa mencapai 2—3 jam pada puncak keramaian.

Para pengamat ritel lokal mencatat, fenomena ini bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan indikator pulihnya daya beli masyarakat kelas menengah setelah berbagai tekanan ekonomi. Di tengah lonjakan harga bahan pokok, seragam sekolah tetap menjadi prioritas yang tak bisa ditawar.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User