AS Luncurkan Gelombang Ketiga Serangan ke Iran Buntut Insiden Hormuz

WASHINGTON, CNN INDONESIA -- Militer Amerika Serikat pagi tadi mengonfirmasi pelaksanaan serangan udara gelombang ketiga terhadap sejumlah sasaran di Iran selatan. Eskalasi terbaru ini merupakan respo...

Jul 12, 2026 - 13:33
0 0
AS Luncurkan Gelombang Ketiga Serangan ke Iran Buntut Insiden Hormuz

WASHINGTON, CNN INDONESIA -- Militer Amerika Serikat pagi tadi mengonfirmasi pelaksanaan serangan udara gelombang ketiga terhadap sejumlah sasaran di Iran selatan. Eskalasi terbaru ini merupakan respons langsung atas insiden keamanan di Selat Hormuz yang memanas sejak awal pekan.

Pentagon menyatakan operasi yang dimulai pukul 03.00 waktu setempat itu menargetkan fasilitas komando dan kendali serta pangkalan penyimpanan rudal milik Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).

Kronologi Eskalasi

Ketegangan antara Washington dan Teheran melonjak tajam setelah insiden Selat Hormuz pada Selasa lalu. Saat itu, sejumlah kapal patroli Iran diduga melakukan manuver agresif terhadap konvoi kapal niaga berbendera Amerika Serikat. Sebuah tanker minyak dilaporkan mengalami kerusakan ringan akibat tembakan peringatan.

Menanggapi hal tersebut, Presiden AS melalui juru bicara Dewan Keamanan Nasional menyebut tindakan Iran sebagai “pelanggaran berat terhadap kebebasan navigasi internasional”. Dalam waktu kurang dari 48 jam, militer AS telah melancarkan tiga gelombang serangan balasan.

Target dan Skala Serangan

Gelombang ketiga kali ini menyasar fasilitas di sekitar Bandar Abbas dan area pesisir Provinsi Hormozgan. Data intelijen awal mengindikasikan setidaknya 12 jet tempur F-35 dan F-18 dari gugus tugas kapal induk USS Carl Vinson dikerahkan dalam misi tersebut.

  • Sasaran utama: Pangkalan rudal balistik Fateh-110 di daerah pegunungan.
  • Metode: Serangan presisi jarak jauh dengan amunisi berpemandu.
  • Waktu: 03.00-04.30 waktu Teheran.
  • Status: Semua pilot dikonfirmasi kembali dengan selamat.

Belum ada pernyataan resmi dari pihak Iran mengenai jumlah korban atau kerusakan. Namun, saksi mata di Hormozgan melaporkan mendengar suara ledakan besar dan melihat kilatan cahaya di langit malam.

Respons Internasional

Rusia dan China segera mengecam aksi militer AS. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia menyebutnya sebagai “provokasi berbahaya yang mengancam stabilitas Timur Tengah”. Sementara itu, Sekretaris Jenderal PBB mendesak kedua pihak untuk menahan diri dan segera memulai dialog.

Di dalam negeri, sejumlah anggota parlemen AS dari Partai Demokrat mempertanyakan apakah serangan ini sudah mendapatkan otorisasi kongres yang sah. Mereka mengingatkan agar pemerintah tidak terseret dalam perang terbuka di kawasan.

Pasar minyak global pun terguncang. Harga minyak mentah Brent melonjak hampir 8 persen dalam dua sesi perdagangan terakhir, menyentuh level tertinggi dalam tiga bulan terakhir. Lonjakan ini dipicu kekhawatiran terganggunya pasokan energi melalui Selat Hormuz, jalur vital bagi seperlima suplai minyak dunia.

Pernyataan Pentagon

Juru bicara Pentagon, Mayor Jenderal Paul Harris, dalam taklimat pers pukul 06.00 pagi tadi menegaskan bahwa operasi ini “proporsional dan terukur”. Ia menambahkan, “Kami tidak menginginkan perang, namun kami tidak akan ragu melindungi aset dan kepentingan kami di kawasan.”

Harris juga mengonfirmasi bahwa serangan gelombang ketiga ini merupakan bagian dari Operasi Sentinel Badai, serangkaian respons militer terencana yang akan dievaluasi berdasarkan reaksi selanjutnya dari Iran.

Sejauh ini, belum ada indikasi Iran akan melakukan serangan balasan besar-besaran. Namun, Komando Pusat AS tetap memberlakukan status siaga tertinggi bagi seluruh aset di Timur Tengah, termasuk di pangkalan udara Al Udeid di Qatar dan Al Dhafra di Uni Emirat Arab.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User