Monday, 24 August 2026 | 17:32 WIB

ANKARA — Turki Berharap Mesir Gabung Pakta Pertahanan Makkah

ANKARA, Beritatercepat.com — Pemerintah Turki menyampaikan harapannya agar Mesir bersedia bergabung dalam Pakta Pertahanan Bersama Makkah atau Mecca Join

Aug 10, 2026 - 08:40
0 2
ANKARA — Turki Berharap Mesir Gabung Pakta Pertahanan Makkah

ANKARA, Beritatercepat.com — Pemerintah Turki menyampaikan harapannya agar Mesir bersedia bergabung dalam Pakta Pertahanan Bersama Makkah atau Mecca Joint Defence Agreement, aliansi keamanan baru yang resmi ditandatangani oleh tiga kekuatan besar dunia Muslim: Arab Saudi, Turki, dan Pakistan. Pakta yang disebut-sebut mengusung konsep mirip Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) itu menjadi babak baru dalam peta arsitektur keamanan kawasan Timur Tengah dan Asia Selatan.

Pakta Pertahanan Bersama Makkah menganut prinsip pertahanan kolektif, yakni serangan terhadap satu negara anggota dianggap sebagai serangan terhadap seluruh anggota. Prinsip ini serupa dengan Pasal 5 NATO yang menjadi fondasi aliansi militer Barat selama lebih dari tujuh dekade. Cakupan kerja sama pakta ini meliputi pertukaran intelijen, latihan militer gabungan, pengembangan industri pertahanan, hingga koordinasi kebijakan keamanan lintas kawasan.

Keinginan Ankara merangkul Kairo bukan tanpa alasan. Dalam berbagai kesempatan diplomatik, para pejabat Turki menilai kehadiran Mesir akan memperkuat legitimasi pakta ini sebagai payung keamanan yang benar-benar representatif bagi dunia Muslim, mengingat posisi Mesir sebagai negara Arab terpadat dan pemilik kekuatan militer terbesar di kawasan tersebut.

Mengapa Mesir Menjadi Bidikan Strategis Ankara

Mesir memiliki sejumlah keunggulan strategis yang sulit ditandingi negara Arab lainnya. Angkatan bersenjatanya diperkuat sekitar 440.000 personel aktif, menjadikannya tentara terbesar di dunia Arab. Selain itu, Kairo mengendalikan Terusan Suez, jalur pelayaran vital yang dilalui sekitar 12 persen perdagangan global dan menjadi urat nadi distribusi energi dunia.

Secara geopolitik, Mesir juga menjadi jembatan antara Afrika dan Timur Tengah, sekaligus tuan rumah markas besar Liga Arab. Menurut sejumlah pengamat keamanan kawasan, kehadiran Mesir dinilai akan mengubah pakta ini dari sekadar aliansi trilateral menjadi poros keamanan lintas kawasan yang memiliki pengaruh diplomatik jauh lebih besar di panggung global.

Peta Kekuatan Militer Negara Pendiri dan Mesir

Berikut perbandingan kekuatan pertahanan tiga negara pendiri pakta dengan Mesir sebagai calon anggota, berdasarkan data publik dari berbagai lembaga pemantau kekuatan militer dunia:

NegaraStatusPersonel Aktif (perkiraan)Anggaran PertahananKeunggulan Strategis
Arab SaudiPendiri±257.000>US$70 miliarPendanaan besar, posisi di Teluk
TurkiPendiri±355.000–425.000±US$40 miliarIndustri pertahanan maju, anggota NATO
PakistanPendiri±650.000±US$10 miliarSatu-satunya kekuatan nuklir dunia Muslim
MesirCalon anggota±440.000±US$5–6 miliarTerusan Suez, tentara terbesar dunia Arab

Jika Mesir bergabung, pakta ini secara kumulatif akan menaungi kekuatan militer gabungan lebih dari 1,7 juta personel aktif, sebuah angka yang menjadikannya salah satu blok pertahanan terbesar di dunia di luar NATO.

Implikasi Geopolitik bagi Kawasan

Pembentukan pakta ini mencerminkan keinginan negara-negara Muslim besar untuk membangun kemandirian keamanan dan mengurangi ketergantungan pada payung pertahanan Amerika Serikat. Eskalasi ketegangan di Timur Tengah dalam beberapa tahun terakhir, mulai dari konflik di Gaza, serangan lintas batas di Teluk, hingga ketidakpastian komitmen keamanan Washington, mendorong Riyadh, Ankara, dan Islamabad mencari formula pertahanan sendiri.

Bagi Turki, keterlibatannya dalam pakta sekaligus menjadi anggota NATO menempatkan Ankara pada posisi unik sebagai penghubung dua blok keamanan besar. Sementara bagi Arab Saudi, aliansi ini memperkuat postur pertahanannya tanpa harus sepenuhnya bergantung pada sekutu Barat.

Jalan Terjal Hubungan Kairo dan Ankara

Meski demikian, upaya merangkul Mesir menghadapi sejumlah tantangan. Hubungan Turki dan Mesir sempat memburuk pasca-2013 menyusul perubahan politik di Kairo, sebelum akhirnya mencair kembali lewat normalisasi diplomatik, pemulihan hubungan tingkat duta besar, dan saling kunjung pemimpin kedua negara dalam beberapa tahun terakhir.

Kairo juga dikenal berhati-hati dalam urusan aliansi militer. Mesir merupakan penerima bantuan militer Amerika Serikat sekitar US$1,3 miliar per tahun, sehingga setiap langkah strategisnya pasti memperhitungkan reaksi Washington. Selain itu, perbedaan prioritas ancaman antara negara-negara anggota bisa menjadi batu ujian bagi soliditas pakta di masa mendatang.

Kendati penuh tantangan, sinyal dari Ankara menunjukkan bahwa perluasan Pakta Pertahanan Bersama Makkah bukan sekadar wacana. Respons resmi dari pemerintah Mesir kini menjadi penentu apakah "NATO dunia Muslim" ini akan berkembang menjadi kekuatan keamanan kawasan yang sesungguhnya.

[SOCIAL_TWEET]: Turki berharap Mesir bergabung dengan Pakta Pertahanan Makkah, aliansi mirip NATO yang digagas Arab Saudi, Turki, dan Pakistan. Kekuatan gabungan bisa tembus 1,7 juta personel! #PaktaMakkah #Turki #Mesir #TimurTengah [SOCIAL_TG]: 🔴 Turki berharap Mesir gabung Pakta Pertahanan Makkah. Aliansi mirip NATO yang digagas Arab Saudi, Turki, dan Pakistan ini berpotensi menaungi 1,7 juta personel militer gabungan jika Kairo bergabung. Baca selengkapnya di Beritatercepat.com

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
fitri-handayani

Reporter Breaking News. Siap siaga 24/7 untuk peristiwa besar.

Comments (0)

User