Monday, 24 August 2026 | 08:20 WIB

Kudus — Petugas Difabel Kibarkan Merah Putih di Peringatan HUT RI

Kudus — Momen membanggakan tercipta dalam upacara peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Seluruh petugas upacara p

Aug 21, 2026 - 09:37
0 1
Kudus — Petugas Difabel Kibarkan Merah Putih di Peringatan HUT RI

Kudus — Momen membanggakan tercipta dalam upacara peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Seluruh petugas upacara pada momen sakral tersebut berasal dari kalangan penyandang disabilitas, termasuk petugas pengibar bendera yang seluruhnya mengibarkan Sang Saka Merah Putih dari atas kursi roda. Momen ini menjadi bukti nyata bahwa keterbatasan fisik sama sekali tidak menghalangi semangat cinta tanah air.

Kebanggaan tersebut terekam dalam unggahan akun Instagram @FKDK Kudus yang kemudian ramai dibagikan warganet. Dalam keterangan unggahannya, forum komunikasi difabel di Kota Kretek itu menegaskan bahwa seluruh jajaran petugas, termasuk pengibar bendera, adalah penyandang disabilitas.

"Seluruh petugas upacara berasal dari kalangan penyandang disabilitas, termasuk petugas pengibar bendera yang seluruhnya menggunakan kursi roda," demikian keterangan yang diunggah @FKDK Kudus.

Unggahan tersebut langsung membanjiri kolom komentar dengan ungkapan bangga dan haru. Banyak warganet menilai upacara ini membuktikan bahwa kesetaraan bukan sekadar wacana, melainkan telah benar-benar diwujudkan dalam momen paling sakral bagi bangsa Indonesia.

Kronologi Upacara Inklusif di Kudus

Berdasarkan unggahan resmi @FKDK Kudus, berikut fakta penting dari upacara yang mengundang decak kagum warganet tersebut:

  1. Seluruh petugas upacara, dari pengatur acara hingga pembaca teks, merupakan penyandang disabilitas.
  2. Petugas pengibar bendera seluruhnya menggunakan kursi roda saat mengibarkan Merah Putih.
  3. Momen tersebut diabadikan dalam foto dan diunggah melalui akun Instagram resmi @FKDK Kudus.
  4. Unggahan itu viral dan menuai apresiasi luas dari warganet di berbagai daerah.
  5. Upacara ini dinilai sebagai wujud nyata keterlibatan penyandang disabilitas dalam agenda kenegaraan.

Kesetaraan dalam Bingkai Kemerdekaan

Momen di Kudus ini sejalan dengan semangat konstitusi. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2022, tercatat sekitar 22,97 juta penyandang disabilitas di Indonesia, atau sekitar 8,5 persen dari total penduduk. Angka tersebut menunjukkan bahwa keterlibatan penyandang disabilitas dalam ruang publik merupakan kebutuhan, bukan sekadar pilihan.

Payung hukumnya pun sudah jelas. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas menegaskan jaminan kesamaan kesempatan dalam seluruh aspek kehidupan, termasuk partisipasi dalam kegiatan sosial dan kenegaraan. Kehadiran petugas upacara dari kalangan disabilitas di Kudus dengan demikian bukan sekadar seremoni, melainkan implementasi nyata dari hak-hak tersebut.

Gedung Agung, Saksi Sejarah Perjuangan

Semangat para petugas difabel di Kudus sekaligus mengingatkan pada sejarah panjang perjuangan bangsa, termasuk peran Gedung Agung atau Istana Yogyakarta. Gedung Agung menjadi kediaman resmi Presiden Sukarno selama masa pemindahan Ibu Kota ke Yogyakarta, ketika kondisi Jakarta dinilai tidak aman akibat kehadiran pasukan asing pascakemerdekaan.

Berikut kilas balik sejarah Gedung Agung yang kini menjadi salah satu istana kepresidenan Republik Indonesia:

  1. 1824: Gedung Agung dibangun pada era kolonial Belanda sebagai kediaman pejabat tinggi pemerintah Hindia Belanda di Yogyakarta.
  2. 1867: Bangunan rusak akibat gempa besar, kemudian dibangun kembali hingga berdiri kokoh seperti sekarang.
  3. 6 Januari 1946: Ibu kota negara resmi dipindahkan ke Yogyakarta; Presiden Sukarno beserta keluarga bertempat tinggal dan bekerja di Gedung Agung.
  4. 17 Agustus 1946: Upacara peringatan pertama kemerdekaan digelar di halaman Gedung Agung dengan pengibaran bendera Merah Putih, menandai tradisi upacara 17 Agustus di Yogyakarta.
  5. Kini: Gedung Agung menjadi salah satu dari enam istana kepresidenan RI dan digunakan untuk berbagai agenda kenegaraan.

Refleksi Kemerdekaan yang Sesungguhnya

Dari halaman Gedung Agung yang menjadi saksi perjuangan, hingga lapangan upacara di Kudus yang diisi petugas berkursi roda, satu benang merah menyatukan keduanya: kemerdekaan dimaknai sebagai ruang yang setara bagi setiap warga negara. Tak ada perbedaan kondisi fisik maupun latar belakang dalam mengibarkan bendera kebangsaan.

Harapan pun mengemuka dari berbagai pihak agar momen inklusif ini tidak berhenti pada satu perayaan, melainkan menjadi pijakan bagi penyelenggaraan kegiatan kenegaraan yang semakin ramah disabilitas. Dengan begitu, semangat kemerdekaan benar-benar dirasakan oleh seluruh anak bangsa, tanpa kecuali.

[SOCIAL_TWEET]: Seluruh petugas upacara di Kudus adalah penyandang disabilitas, termasuk pengibar bendera berkursi roda. Semangat kemerdekaan tanpa batas! 🇮🇩 #HUTRI[SOCIAL_TG]: 🇮🇩 Upacara 17 Agustus di Kudus diisi petugas difabel, pengibar bendera memakai kursi roda. Plus kisah Gedung Agung, saksi sejarah Sukarno.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
fitri-handayani

Reporter Breaking News. Siap siaga 24/7 untuk peristiwa besar.

Comments (0)

User