Anak Buruh Harian Kini Bisa Sekolah Gratis Berkat Program Pemprov Banten
SERANG — Beban berat yang selama ini menghantui Sarbini, seorang buruh harian asal Banten, perlahan sirna. Pasalnya, putranya, Nabil, kini bisa melanjutkan pendidikan tanpa perlu lagi mengkhawatirka...
SERANG — Beban berat yang selama ini menghantui Sarbini, seorang buruh harian asal Banten, perlahan sirna. Pasalnya, putranya, Nabil, kini bisa melanjutkan pendidikan tanpa perlu lagi mengkhawatirkan biaya yang selama ini menjadi kendala utama.
Kesempatan itu datang melalui Program Sekolah Gratis yang digulirkan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten. Program ini menjadi jaring pengaman bagi keluarga prasejahtera agar anak-anak mereka tidak putus sekolah hanya karena keterbatasan ekonomi.
Harapan di Tengah Keterbatasan
Sebagai buruh harian, pendapatan Sarbini sering kali hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan pokok keluarga. Menyekolahkan anak di jenjang menengah menjadi kemewahan yang sulit diwujudkan. Setiap awal tahun ajaran, kecemasan selalu muncul membayangi—antara keinginan memberi pendidikan terbaik dan kenyataan pahit dapur yang harus tetap mengepul.
Namun, kecemasan itu kini berganti haru. Ketika Nabil dinyatakan lolos sebagai penerima bantuan, beban yang menggunung seketika mencair. “Akhirnya anak saya bisa sekolah lagi tanpa mikir bayar apa-apa,” ungkap Sarbini dengan mata berbinar saat ditemui di kediamannya, Rabu (15/7/2026).
Program Sekolah Gratis: Solusi Nyata
Program Sekolah Gratis yang digagas Pemprov Banten tidak sekadar menggratiskan uang pangkal atau SPP. Bantuan ini juga mencakup perlengkapan sekolah seperti seragam, buku, dan alat tulis. Dengan begitu, orang tua seperti Sarbini benar-benar terbebas dari pengeluaran pendidikan yang kerap menjadi mimpi buruk bagi keluarga berpenghasilan harian.
Gubernur Banten menegaskan bahwa intervensi ini adalah bagian dari komitmen memutus rantai kemiskinan melalui pendidikan. “Anak-anak dari keluarga buruh, petani, dan pekerja informal lainnya harus tetap punya akses penuh ke sekolah. Ini investasi jangka panjang daerah,” ujarnya dalam kesempatan terpisah.
Masa Depan yang Lebih Cerah
Bagi Sarbini dan keluarganya, bantuan ini lebih dari sekadar keringanan finansial. Ini adalah tiket menuju mobilitas sosial yang selama ini hanya ada dalam angan. Ia berharap Nabil kelak bisa meraih pekerjaan yang lebih baik dan mengangkat derajat keluarga.
“Saya cuma buruh, tidak bisa kasih apa-apa selain doa. Semoga Nabil jadi orang sukses dan hidupnya lebih enak dari saya,” ujarnya lirih. Kini, Nabil kembali bersemangat mengenakan seragam dan menenteng buku-bukunya. Dia bercita-cita menjadi teknisi atau ahli mesin setelah lulus nanti.
Program ini juga membuktikan bahwa kebijakan afirmatif yang tepat sasaran mampu memberi dampak langsung. Data Dinas Pendidikan Banten menyebut, ribuan siswa dari keluarga miskin sudah merasakan manfaat sejak program diluncurkan. Angka putus sekolah pun tercatat menurun signifikan di wilayah yang sebelumnya menjadi kantong pekerja informal.
Dengan hadirnya program ini, mimpi anak-anak seperti Nabil untuk terus bersekolah tidak lagi kandas di tengah jalan. Asa itu kini menyala, menanti masa depan yang lebih baik berkat pendidikan.
Comments (0)