Jakarta - Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyampaikan komentar kontroversial terkait pemakaman mantan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Trump mengaku "kaget" melihat besarnya jum
Jakarta - Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyampaikan komentar kontroversial terkait pemakaman mantan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Trump mengaku "kaget" melihat besarnya jumlah pelayat yang hadir dalam prosesi tersebut. Pernyataan ini dilontarkan dalam sebuah wawancara eksklusif, memicu beragam reaksi di kalangan pengamat politik global.
"Saya terkejut. Saya pikir orang-orang membencinya," kata Trump kepada media Axios, seperti dikutip oleh Times Now World dan dirangkum oleh media kami, Senin (6/7/2026). Ia bahkan mempertanyakan kesungguhan para pelayat yang terlihat menangis. "Mungkin itu air mata palsu," imbuhnya.
Pernyataan Trump ini langsung menjadi sorotan karena menyinggung sentimen publik di Iran pasca wafatnya Khamenei yang memimpin negara itu selama puluhan tahun. Di tengah sanksi ekonomi dan ketegangan diplomasi, respons emosional warga Iran terhadap kematian pemimpin tertinggi mereka menjadi subjek interpretasi yang tajam di level internasional. Analis menilai ucapan Trump berpotensi memperkeruh hubungan Washington-Teheran yang sudah rapuh.
Konflik Dagang AS-China Memanas Kembali
Berita lain yang tak kalah menyita perhatian pembaca media kami adalah memanasnya kembali perang dagang antara Amerika Serikat dan China. Pemerintahan Biden disebut tengah mempertimbangkan tarif baru untuk barang impor teknologi tinggi asal China, sebagai respons atas dugaan praktik dumping dan pelanggaran hak kekayaan intelektual. Beijing mengancam akan membalas dengan tindakan setimpal, menggemakan tensi era Trump 2018. Investor global waspada bahwa eskalasi ini dapat mengganggu rantai pasok semikonduktor yang sudah rapuh.
Kudeta Militer di Sudan Memasuki Babak Baru
Dari Afrika, situasi di Sudan semakin mencekam. Junta militer yang berkuasa mengumumkan keadaan darurat nasional setelah faksi-faksi pemberontak menolak perjanjian damai terbaru. Bentrokan bersenjata meletus di ibu kota Khartoum dan sejumlah wilayah Darfur, memaksa ribuan warga mengungsi ke negara tetangga. PBB melalui juru bicaranya mendesak deeskalasi segera dan akses bantuan kemanusiaan tanpa hambatan.
Penemuan Makam Kerajaan Baru di Mesir
Tim arkeolog internasional mengumumkan penemuan spektakuler di Lembah Para Raja, Mesir. Sebuah makam berusia 3.500 tahun yang diyakini milik seorang pangeran dari Dinasti ke-18 berhasil diidentifikasi secara utuh. Ratusan artefak emas, perhiasan, dan gulungan papirus yang masih terbaca ditemukan di dalamnya. Penemuan ini disebut sebagai salah satu yang terpenting dalam satu dekade terakhir, membuka tabir baru tentang kehidupan elit politik Mesir Kuno menjelang era Ramses.
Gelombang Panas Ekstrem Landa Eropa Selatan
Italia, Spanyol, dan Yunani bersiaga menghadapi gelombang panas ketiga musim ini. Suhu di beberapa kota, termasuk Roma dan Sevilla, menembus 47 derajat Celsius. Pemerintah setempat menerbitkan peringatan "kode merah" dan menutup sementara sejumlah objek wisata terbuka. Para ahli iklim menyebut frekuensi gelombang panas yang meningkat ini sebagai bukti nyata percepatan krisis iklim yang memerlukan tindakan mitigasi drastis.
Comments (0)