Sep 17, 2026
DI Yogyakarta

YOGYAKARTA — Pameran Buku Menjamur, Daya Beli Pengunjung Justru Tergerus

Kota Yogyakarta kembali dibanjiri berbagai gelaran pameran buku berskala besar hingga bazar komunitas sepanjang triwulan pertama tahun ini. Namun, di balik

YOGYAKARTA — Pameran Buku Menjamur, Daya Beli Pengunjung Justru Tergerus

Kota Yogyakarta kembali dibanjiri berbagai gelaran pameran buku berskala besar hingga bazar komunitas sepanjang triwulan pertama tahun ini. Namun, di balik riuhnya antrean pengunjung yang memadati lorong-lorong stan pameran, para pelaku industri perbukuan dan penyelenggara acara menghadapi kenyataan pahit terkait anjloknya volume penjualan serta pergeseran pola belanja masyarakat.

Fenomena menjamurnya festival literasi di "Kota Pelajar" dinilai tidak berbanding lurus dengan pertumbuhan transaksi finansial. Tingginya frekuensi acara yang diadakan dalam rentang waktu berdekatan disinyalir memecah konsentrasi massa, sementara tekanan ekonomi melemahkan daya beli konsumen yang didominasi oleh kalangan mahasiswa dan pegiat literasi muda.

Lonjakan Frekuensi Acara Membelah Basis Pasar

Dalam kurun waktu beberapa bulan terakhir, sejumlah pameran buku berskala nasional hingga internasional silih berganti digelar di Yogyakarta. Antusiasme masyarakat terlihat dari padatnya kunjungan fisik, namun nilai belanja per individu (basket size) tercatat mengalami penurunan yang cukup signifikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

"Masyarakat memang tetap datang untuk meramaikan pameran, tetapi sebagian besar hanya datang untuk rekreasi visual atau memburu potongan harga ekstrem. Konsumen kini jauh lebih selektif dalam mengeluarkan uang untuk buku fisik," tutur salah seorang koordinator stan penerbit independen di Yogyakarta.

Penyelenggara menggarisbawahi bahwa segmentasi pasar kini terpecah akibat kalender pameran yang padat. Mahasiswa dan pembaca umum yang biasanya menyisihkan anggaran khusus untuk berburu buku tahunan kini harus membagi anggaran mereka ke beberapa pameran sekaligus.

Faktor Pemicu Penurunan Transaksi Penjualan

Berdasarkan evaluasi para pelaku industri penerbitan dan asosiasi buku di daerah, terdapat sejumlah faktor utama yang memengaruhi lesunya transaksi di pameran buku tahun ini:

  1. Penurunan Daya Beli Riil: Kenaikan biaya hidup dan kebutuhan pokok membuat alokasi belanja non-primer, termasuk buku bacaan umum, terpaksa dipangkas oleh konsumen muda.
  2. Saturasi Jadwal Pameran: Jarak waktu antar-pameran yang terlalu rapat menyebabkan titik jenuh di kalangan pembaca, sehingga memicu penurunan antusiasme belanja impulsif.
  3. Persaingan dengan Marketplace Digital: Diskon agresif di platform dagang-el resmi penerbit kerap membuat pembaca memilih mengecek fisik buku di pameran lalu membelinya secara daring.

Strategi Adaptasi dan Harapan Pelaku Industri

Menghadapi anomali pasar ini, penerbit dan promotor pameran dituntut untuk merombak strategi promosi. Penyelenggaraan pameran tidak lagi bisa sekadar mengandalkan tumpukan stok diskon, melainkan harus dikemas melalui pendekatan aktivasi komunitas, lokakarya kepenulisan, temu wicara eksklusif, serta kurasi tema buku yang spesifik.

Para pegiat literasi berharap pemerintah daerah turut memberikan stimulus, baik melalui subsidi sewa ruang pamer bagi penerbit lokal maupun penguatan program literasi terpadu. Kolaborasi yang terarah dinilai menjadi kunci agar ekosistem perbukuan di Yogyakarta tidak hanya ramai secara seremonial, tetapi juga memberikan keberlanjutan ekonomi bagi para penulis, penerbit, dan distributor buku.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS fitri-handayani

Reporter Breaking News. Siap siaga 24/7 untuk peristiwa besar.

Comments (0)

User