BERITATERCEPAT.COM, YOGYAKARTA — Ratusan perwakilan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi negeri dan swasta se-Pulau Jawa berkumpul di Yogyakarta untuk menghadiri Forum Rembuk Pangan Nasional. Pertemuan akbar ini digelar sebagai wadah konsolidasi gagasan, advokasi, serta pencarian solusi konkret atas berbagai ancaman krisis ketahanan pangan yang membayangi Indonesia di tengah perubahan iklim global dan instabilitas geopolitik.
Forum yang berlangsung secara intensif ini menyoroti sejumlah tantangan fundamental di sektor agraris nasional, mulai dari tingginya ketergantungan terhadap komoditas impor, degradasi kesuburan tanah, masifnya alih fungsi lahan produktif, hingga minimnya minat generasi muda untuk terjun ke sektor pertanian.
Kronologi dan Agenda Pelaksanaan Forum Rembuk Pangan
Pertemuan konsolidasi mahasiswa lintas kampus ini dirancang melalui rangkaian agenda terstruktur yang berlangsung selama tiga hari penuh:
- Sesi Pembukaan dan Diskusi Pleno: Menghadirkan akademisi, pakar agribisnis, serta perwakilan kelompok tani untuk memetakan akar persoalan pangan nasional terkini.
- Focus Group Discussion (FGD) Tematik: Pembagian komisi mahasiswa ke dalam kluster isu kedaulatan benih, keadilan distribusi pupuk, alih teknologi pertanian, dan kebijakan tata niaga pangan.
- Kunjungan Lapangan dan Dialog Petani: Mahasiswa turun langsung ke lahan pertanian di wilayah pinggiran Yogyakarta untuk menyerap aspirasi riil dari para petani lokal.
- Penyusunan dan Deklarasi Piagam Rembuk Pangan: Perumusan draf manifesto berisi rekomendasi advokasi kebijakan yang akan diserahkan kepada kementerian dan lembaga terkait.
Soroti Ancaman Krisis Regenerasi Petani dan Alih Fungsi Lahan
Salah satu poin krusial yang mendominasi perdebatan forum adalah krisis regenerasi petani. Data mutakhir menunjukkan bahwa mayoritas petani aktif di Indonesia saat ini telah berusia di atas 50 tahun. Jika tidak ada terobosan terstruktur dari pemerintah untuk mendorong mekanisasi dan jaminan harga panen, Indonesia terancam mengalami defisit tenaga kerja pertanian dalam dua dekade mendatang.
Selain masalah demografi petani, konversi lahan pertanian basah menjadi kawasan industri dan perumahan komersial dinilai kian tidak terkendali. Kondisi ini secara langsung mengikis kapasitas produksi beras dan bahan pangan pokok lainnya di sentra-sentra produksi utama di Pulau Jawa.
"Ketahanan pangan bukan sekadar angka ketersediaan stok di gudang, melainkan menyangkut kedaulatan bangsa dan kesejahteraan jutaan petani kecil. Forum ini adalah bentuk tanggung jawab moral mahasiswa untuk memastikan masa depan pangan kita tidak bergantung pada pasar global," ujar Koordinator Forum Rembuk Pangan Mahasiswa.
Rekomendasi Kebijakan untuk Pemerintah Pusat
Dari hasil rembuk bersama tersebut, delegasi mahasiswa menyepakati sejumlah poin tuntutan strategis:
- Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B): Mendesak penegakan hukum tegas terhadap pelanggaran alih fungsi lahan sawah produktif.
- Modernisasi Pertanian Ramah Lingkungan: Mendorong alokasi subsidi riset teknologi tepat guna dan penguatan sistem pertanian organik berbasis komunitas.
- Stabilisasi Harga di Tingkat Petani: Memperbaiki tata kelola logistik pangan nasional agar petani mendapatkan harga jual yang layak saat panen raya tanpa membebani konsumen.
Hasil rumusan Forum Rembuk Pangan di Jogjakarta ini rencananya akan dibawa ke tingkat nasional melalui aksi audiensi bersama Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI dan kementerian teknis dalam waktu dekat demi mengawal kedaulatan pangan berkelanjutan.
Comments (0)