Warga Cilegon Perjuangkan Setetes Air Bersih di Tengah Kemarau

CILEGON, DETIK INI JUGA — Ratusan keluarga di wilayah perbukitan Kota Cilegon, Banten, kini berjuang mati-matian demi mendapatkan air bersih. Sumber air utama di kawasan itu mengering total setelah ...

Jul 20, 2026 - 04:29
0 0
Warga Cilegon Perjuangkan Setetes Air Bersih di Tengah Kemarau

CILEGON, DETIK INI JUGA — Ratusan keluarga di wilayah perbukitan Kota Cilegon, Banten, kini berjuang mati-matian demi mendapatkan air bersih. Sumber air utama di kawasan itu mengering total setelah dua bulan tidak tersentuh hujan, memicu krisis yang mengancam kehidupan sehari-hari.

Perjalanan Panjang demi Satu Jeriken

Setiap subuh, puluhan warga—sebagian besar perempuan dan anak-anak—sudah mengantre di satu-satunya mata air yang masih mengeluarkan tetesan kecil. Mereka harus menempuh jalan berbatu sejauh 4 kilometer dengan menenteng jeriken 20 liter. Sabar di ujung tanduk, karena debit air terus menyusut.

Salah seorang warga, Sari (42), mengaku sudah sepekan terakhir hanya bisa mengumpulkan 10 liter air per hari untuk satu keluarga berisi lima orang. "Untuk minum saja pas-pasan. Mandi dan mencuci terpaksa ditunda," ujarnya dengan suara parau. Di beberapa titik, warga bahkan menggali lubang di dasar sungai kering, berharap sisa air tanah masih bisa disedot.

Air Bersih jadi Barang Mewah

Krisis ini dimanfaatkan oknum penjual air keliling. Harga satu tangki kecil berkapasitas 1.000 liter kini melambung hingga Rp150.000, dua kali lipat dari harga normal. Bagi warga dengan penghasilan harian di bawah Rp80.000, angka itu nyaris mustahil dibayar. Alhasil, banyak yang memilih mengandalkan bantuan tetangga atau bertahan dengan air seadanya—meski kualitasnya meragukan.

Seorang pemuda, Dodi (19), terpaksa bolak-balik lima kali sehari menggunakan motor bebek tua demi membawa air dari desa tetangga. "Bensin habis banyak, tapi daripada anak-anak kehausan," katanya. Sementara itu, sejumlah warga lansia terpaksa bertahan di rumah tanpa asupan air memadai karena keterbatasan fisik.

Pemerintah Siaga, Bantuan Tiba Terlambat

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Cilegon baru mengirimkan dua unit mobil tangki pada hari keempat krisis. Penjabat setempat menyebut 500 kepala keluarga sudah terdata sebagai penerima bantuan prioritas. Namun distribusi masih terkendala medan perbukitan yang sempit dan curam. Hingga kemarin, sejumlah dusun terpencil belum menerima satu tetes pun dari tangki pemerintah.

Wali Kota Cilegon berjanji akan mempercepat dropping air dan membangun sumur bor di tiga titik strategis. Tapi warga pesimistis. "Setiap musim kemarau begini, janji selalu sama. Hujan turun, kami dilupakan," ucap Sari.

Ancaman Jangka Panjang

Krisis air di Cilegon bukan sekadar soal kemarau. Alih fungsi lahan hutan menjadi kawasan industri membuat daerah resapan air terus menipis. Laporan Dinas Lingkungan Hidup menunjukkan bahwa 30 persen mata air di wilayah perbukitan telah mati permanen dalam lima tahun terakhir. Pakar tata kota mengingatkan bahwa tanpa rehabilitasi serius, bencana serupa akan berulang dengan intensitas lebih parah.

Untuk saat ini, warga hanya bisa mendongak ke langit, berharap hujan segera turun. "Kami tidak butuh banyak. Asal air bersih mengalir lagi, itu sudah cukup," tutup Dodi, seraya mengangkat jeriken penuh yang baru didapatnya setelah mengantre dua jam. Detik terus berdetak, sementara tetesan air kian langka.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User