Ribuan warga tumpah ruah memadati bantaran Sungai Cikoang di Desa Cikoang, Kecamatan Laikang, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan. Suasana penuh suka cita dan kekhidmatan menyelimuti perhelatan akbar Maudu Lompoa atau Maulid Besar, sebuah tradisi turun-temurun masyarakat adat setempat dalam memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Berbeda dengan perayaan maulid di banyak daerah lain yang digelar tepat pada awal hingga pertengahan bulan, warga Cikoang secara konsisten melangsungkan puncak peringatan pada pengujung bulan Rabiulawal. Momentum ini tidak hanya menjadi wujud penghormatan religius, tetapi juga medium utama untuk merekatkan tali silaturahim antarwarga perantau dan keluarga di kampung halaman.
Pesona Julung-Julung dan Simbolisasi Rasa Syukur
Daya tarik utama dalam perayaan Maudu Lompoa adalah kehadiran puluhan julung-julung, yakni perahu kayu tradisional yang dihias sedemikian rupa dengan kain warna-warni, selendang sutra, hingga aneka ornamen khas Makassar. Di atas perahu-perahu tersebut, warga menyusun rapi berbagai bahan pangan dan hasil bumi sebagai sedekah bersama.
Gunungan telur rebus yang diwarnai cerah, beras ketan aneka rasa (*songkolo*), ayam kampung panggang, hingga perangkat sandang seperti sarung tenun dan pakaian ditata bertingkat mengelilingi replika perahu. Perahu ini melambangkan bahtera kedatangan ajaran Islam yang dibawa oleh para ulama terdahulu melintasi samudera.
"Maudu Lompoa adalah cermin kebersamaan kami. Warga menabung berbulan-bulan demi menyiapkan sedekah terbaik. Puncaknya kami rayakan di akhir bulan agar seluruh keluarga besar dari rantau bisa berkumpul dan berbagi berkah," ujar Daeng Maro, salah seorang tokoh adat setempat.
Jejak Sejarah dan Pelestarian Silaturahmi
Secara historis, tradisi Maudu Lompoa berakar kuat dari ajaran Sayyid Jalaluddin Al-Aidid, seorang ulama keturunan Hadramaut yang menyebarkan Islam di wilayah Cikoang pada abad ke-17. Tradisi ini terus dirawat lintas generasi sebagai bentuk komitmen menjaga identitas budaya dan spiritualitas masyarakat.
Beberapa keunikan dan tahapan utama dalam rangkaian perayaan Maudu Lompoa meliputi:
- Rangkaian Ritual Adat: Prosesi diawali dengan pencucian beras khusus (a’dengka ase) menggunakan lesung kayu secara bergotong royong.
- Lantunan Zikir dan Barzanji: Pembacaan riwayat Nabi Muhammad SAW dalam syair Barzanji yang dilantunkan semalam suntuk oleh para tetua adat dan pemuka agama.
- Pembagian Berkah Pangan: Penyerahan isi julung-julung kepada para pemuka agama, kerabat, yatim piatu, serta masyarakat kurang mampu sebagai bentuk pemerataan berkah.
Magnet Budaya dan Penggerak Ekonomi Warga
Kemeriahan Maudu Lompoa kini tidak lagi sekadar ritual keagamaan lokal, melainkan telah berkembang menjadi magnet wisata budaya berskala nasional. Ribuan pengunjung, budayawan, hingga fotografer dari berbagai daerah berdatangan untuk menyaksikan langsung kemegahan arak-arakan perahu hias di tepian sungai.
Antusiasme masyarakat yang tinggi turut menggerakkan perekonomian lokal. Pedagang kuliner tradisional, pengrajin anyaman, hingga penyedia jasa transportasi meraup berkah ekonomi selama perayaan berlangsung. Tradisi ini membuktikan bahwa pelestarian nilai-nilai spiritual dan kearifan lokal mampu berjalan beriringan dengan penguatan harmoni sosial dan kesejahteraan masyarakat.
Comments (0)