Wamenkomdigi Ingatkan Humas Jaga Humanis, Warga Gandaria Luncurkan Kompos Keliling

Di tengah derasnya arus disrupsi teknologi dan tantangan lingkungan, dua inisiatif menarik muncul sebagai cerminan adaptasi masyarakat. Di ranah komunikasi

Jul 12, 2026 - 02:46
0 0
Wamenkomdigi Ingatkan Humas Jaga Humanis, Warga Gandaria Luncurkan Kompos Keliling

Di tengah derasnya arus disrupsi teknologi dan tantangan lingkungan, dua inisiatif menarik muncul sebagai cerminan adaptasi masyarakat. Di ranah komunikasi, pemerintah mengingatkan pentingnya sentuhan manusia di era kecerdasan buatan, sementara di tingkat akar rumput, warga di Jakarta Selatan menghadirkan solusi kreatif untuk mengurangi timbunan sampah organik. Kedua cerita ini menunjukkan bahwa inovasi tak selalu tentang kecanggihan, melainkan tentang keberpihakan pada nilai dan keberlanjutan.

Pesan Wamenkomdigi: AI Harus Dilengkapi Nilai Humanis

Perhumas

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria menegaskan bahwa profesi hubungan masyarakat (humas) tidak akan tergerus oleh kemajuan AI, asalkan praktisinya mampu memperkuat nilai-nilai humanis. Dalam sebuah forum yang dihadiri ratusan praktisi humas di Jakarta, akhir pekan lalu, Nezar menyoroti bahwa teknologi seperti generative AI memang mampu memproduksi konten dalam hitungan detik, namun esensi komunikasi terletak pada empati, etika, dan pemahaman mendalam terhadap audiens.

"AI hanyalah alat bantu. Ia bisa menyusun siaran pers, menganalisis sentimen media, bahkan menciptakan visual, tetapi kemampuannya berhenti di situ. Yang tidak bisa digantikan adalah intuisi manusia, kepekaan terhadap konteks sosial, dan kemampuan membangun trust," ujar Nezar.

"AI hanyalah alat bantu. Ia bisa menyusun siaran pers, menganalisis sentimen media, bahkan menciptakan visual, tetapi kemampuannya berhenti di situ. Yang tidak bisa digantikan adalah intuisi manusia, kepekaan terhadap konteks sosial, dan kemampuan membangun trust," ujar Nezar.

Nezar mendorong para humas untuk menguasai literasi digital dan AI, namun tidak menjadikannya sebagai pengganti nalar. Ia menyebutkan bahwa dalam situasi krisis, respons cepat berbasis AI bisa menjadi bumerang jika tidak disertai kebijaksanaan manusia. Oleh karena itu, peningkatan kapasitas sumber daya manusia menjadi kunci agar industri humas tetap adaptif dan bermartabat.

Lebih lanjut, Nezar berpesan agar kurikulum pendidikan humas mulai menyisipkan materi etika AI dan manajemen reputasi di era algoritma. "Kita butuh humas yang paham coding, tetapi juga fasih membaca dinamika emosi publik," tambahnya.

Komling: Inovasi Warga Olah Sampah dari Pintu Rumah

Inisiatif Warga Gandaria Utara Kurangi Sampah Dari Rumah

Sementara itu, di Kelurahan Gandaria Utara, Jakarta Selatan, sekelompok warga meluncurkan program "Kompos Keliling" atau Komling, sebuah terobosan pengolahan sampah organik yang dikumpulkan langsung dari rumah-rumah. Program ini bertujuan memutus rantai penumpukan sampah sisa makanan yang selama ini menjadi masalah besar di perkotaan.

Inisiatif Komling berawal dari keprihatinan terhadap volume sampah yang terus meningkat dan minimnya kesadaran memilah sampah dari sumbernya. Setiap pagi, tim relawan menggunakan gerobak motor menyusuri gang-gang permukiman untuk mengambil ember berisi sisa sayur, kulit buah, dan sisa makanan dari warga yang telah mendaftar. Sampah itu kemudian dibawa ke pusat pengomposan sederhana milik komunitas untuk diolah menjadi kompos dalam waktu sekitar dua hingga tiga pekan.

"Kami tidak mau sekadar mengeluh soal banjir atau bau sampah. Ini aksi nyata yang hasilnya bisa dirasakan bersama, komposnya bahkan sudah mulai dipakai untuk kebun kecil di sini," kata Dewi, salah satu penggagas Komling.

"Kami tidak mau sekadar mengeluh soal banjir atau bau sampah. Ini aksi nyata yang hasilnya bisa dirasakan bersama, komposnya bahkan sudah mulai dipakai untuk kebun kecil di sini," kata Dewi, salah satu penggagas Komling.

Menariknya, Komling tidak hanya mengurangi volume sampah yang dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA), tetapi juga mengedukasi warga untuk lebih bertanggung jawab terhadap limbah rumah tangga. Sejauh ini, sekitar 150 kepala keluarga telah berpartisipasi, dan jumlah itu diperkirakan terus bertambah seiring semakin dikenalnya program ini melalui media sosial dan komunitas lingkungan. Setiap keluarga menyetor rata-rata 1-2 kilogram sampah organik per hari, yang berarti dalam sebulan terkumpul lebih dari 4,5 ton sampah yang berhasil dialihkan dari TPA.

Proses pengomposan dilakukan dengan metode sederhana menggunakan bioaktivator lokal. Kompos yang dihasilkan bertekstur halus dan beraroma tanah, siap digunakan untuk menyuburkan tanaman hias, kebun toga, atau dijual untuk menambah kas komunitas. Ke depan, pengelola Komling berencana memperluas jangkauan ke RW tetangga dan menggandeng UMKM kuliner agar sisa produksi dapur mereka juga bisa diolah.

Benang Merah: Inovasi yang Berpijak pada Kemanusiaan dan Lingkungan

Meskipun bergerak di dua ranah yang berbeda, pesan Wamenkomdigi dan gerakan Komling di Gandaria Utara memiliki benang merah yang sama: teknologi dan inovasi harus dimanfaatkan untuk memperkuat, bukan menggantikan, peran manusia serta menjaga keseimbangan alam. Di satu sisi, praktisi humas didorong untuk tidak kehilangan jiwa kemanusiaannya di tengah banjir konten buatan mesin. Di sisi lain, warga kota membuktikan bahwa dengan kreativitas dan gotong royong, persoalan lingkungan bisa diurai tanpa harus menunggu proyek besar pemerintah.

Kedua inisiatif ini menjadi cermin bahwa di era yang serba digital dan instan, justru nilai-nilai tradisional seperti empati, kolaborasi, dan keberlanjutan menjadi pembeda. Seperti pesan Wamenkomdigi, "Teknologi maju bukan untuk meniadakan manusia, melainkan untuk memperluas kapasitasnya." Hal itu sejalan dengan semangat warga Gandaria Utara yang membuktikan bahwa perubahan besar bisa dimulai dari langkah kecil di depan rumah.

Melalui dua kisah ini, kita diingatkan bahwa masa depan Indonesia yang inklusif dan berkelanjutan hanya mungkin terwujud jika setiap elemen bangsa—pemerintah, profesional, dan masyarakat—bergerak bersama, berbekal akal sehat dan hati nurani.

[SOCIAL_TWEET]: Wamenkomdigi @nezarpatria ingatkan praktisi humas perkuat nilai humanis di era AI. Sementara warga Gandaria Utara luncurkan Komling, solusi inovatif olah sampah organik dari rumah. Dua kisah inovasi penuh makna! 🌱🤖 #AI #Humas #KomposKeliling #InovasiSosial #KurangiSampah[SOCIAL_TG]: 📰 Dua inovasi inspiratif: 🤖 Wamenkomdigi tekankan nilai humanis di era AI bagi praktisi humas. 🌿 Warga Gandaria Utara luncurkan Komling, program olah sampah organik dari rumah. Baca selengkapnya!

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User