Wakil Rakyat Desak Tindakan Tegas terhadap Main Hakim Sendiri

JAKARTA, MENIT LALU — Aksi brutal warga yang menghakimi terduga pelaku kejahatan tanpa proses hukum kian meresahkan. Kalangan legislatif bereaksi keras dan meminta aparat turun tangan tanpa ampun.Lo...

Jul 28, 2026 - 01:37
0 0
Wakil Rakyat Desak Tindakan Tegas terhadap Main Hakim Sendiri

JAKARTA, MENIT LALU — Aksi brutal warga yang menghakimi terduga pelaku kejahatan tanpa proses hukum kian meresahkan. Kalangan legislatif bereaksi keras dan meminta aparat turun tangan tanpa ampun.

Lonjakan Insiden Penghakiman Massa

Berdasarkan data yang dihimpun, frekuensi aksi main hakim sendiri melonjak hingga 40 persen dalam dua bulan terakhir. Pemicu dominan adalah ketidakpercayaan publik terhadap kecepatan dan keadilan penegakan hukum.

Di Sukamaju, Jawa Tengah, seorang pria nyaris tewas dikeroyok puluhan warga yang menuduhnya mencuri motor. Korban kritis dengan luka parah di kepala. Petugas yang tiba di lokasi kewalahan meredam massa yang sudah telanjur emosi.

Kasus serupa merebak di Sumatera Utara. Terduga penipu babak belur dihajar massa sebelum akhirnya diselamatkan polisi. Situasi ini dinilai semakin mengancam stabilitas keamanan di daerah.

Kecaman Tegas dari Senayan

Para wakil rakyat mengecam keras gelombang penghakiman liar tersebut. Mereka menyebut praktik ini sebagai "ancaman darurat" yang merusak asas praduga tak bersalah dan wibawa institusi.

"Negara tidak boleh kalah oleh aksi barbar. Kami minta polisi tidak ragu menindak pelaku, tanpa toleransi," tegas seorang anggota dewan yang enggan disebut identitasnya, Selasa (11/2).

Komisi yang membidangi hukum berencana memanggil Kapolri untuk membahas strategi penghentian aksi main hakim sendiri secara nasional. Mereka menuntut penegakan hukum tegas agar efek jera muncul.

Krisis Kepercayaan dan Solusi

Sosiolog Universitas Nasional, Dr. Maya Saraswati, menilai fenomena ini sebagai cermin krisis kepercayaan akut. "Masyarakat frustrasi karena proses hukum lamban dan sering tidak memihak. Akibatnya, mereka memilih jalan pintas yang destruktif," ujarnya.

Di sisi lain, pengamat kepolisian menyoroti minimnya patroli preventif di daerah rawan. Warga merasa harus melindungi diri sendiri dengan cara yang salah ketika kehadiran aparat dirasa kurang.

Para legislator mendorong revisi regulasi yang dapat memberikan hukuman lebih berat bagi pelaku pengeroyokan. Pasal penganiayaan yang ada saat ini dianggap belum cukup membuat jera.

"Kami akan dorong hukuman maksimal. Negara harus hadir melindungi setiap warganya, termasuk yang menjadi korban main hakim sendiri," tambahnya dalam rapat dengar pendapat baru-baru ini.

Sebagai langkah jangka pendek, DPR meminta pemerintah memperkuat program restorative justice di tingkat desa. Edukasi hukum dan penguatan peran tokoh masyarakat diyakini mampu meredam kemarahan massa sebelum berujung kekerasan.

Hingga berita ini diturunkan, Mabes Polri belum memberikan pernyataan resmi. Namun, sejumlah polda melaporkan peningkatan patroli dan imbauan keras agar warga tidak bertindak sendiri.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User