LONDON — Pemimpin tertinggi Gereja Inggris, Uskup Agung Canterbury Sarah Mullally, dikabarkan mencabut penghargaan antaragama yang sebelumnya diberikan kepada seorang ulama Muslim Pakistan. Pencabutan itu dilakukan hanya berselang enam hari setelah penghargaan diserahkan, menyusul laporan surat kabar The Telegraph yang mengungkap dugaan keterkaitan sang ulama dengan sebuah geng pemerasan dan penculikan.
Ulama yang dimaksud adalah Tahir Ashrafi, utusan khusus Pakistan untuk kerukunan antaragama. Menurut laporan yang dikutip RT.com, Ashrafi dituding melindungi sebuah kelompok kriminal yang diduga melakukan penculikan, penyiksaan, dan pemerasan terhadap warga yang dituduh melakukan penistaan agama di Pakistan. Tuduhan ini mencuat ke permukaan publik setelah penghargaan bergengsi tersebut justru menjadi bumerang bagi penerimanya.
Kronologi Pencabutan Penghargaan
Rangkaian peristiwa ini berlangsung cepat dan penuh kontroversi. Berikut urutan kejadiannya berdasarkan laporan media:
- Uskup Agung Canterbury Sarah Mullally menyerahkan penghargaan antaragama kepada Tahir Ashrafi sebagai bentuk apresiasi atas upaya kerukunan lintas iman.
- Enam hari setelah penyerahan, The Telegraph merilis laporan investigatif yang mengaitkan Ashrafi dengan dugaan perlindungan terhadap geng pemerasan.
- Gereja Inggris kemudian menarik kembali penghargaan tersebut, sebuah langkah yang dianggap jarang terjadi dalam sejarah hubungan antaragama.
- Ashrafi dilaporkan membela saudaranya secara terbuka dan bahkan menyebut seorang hakim yang menyelidiki kasus itu sebagai "anjing".
Dugaan "Geng Penistaan" dan Lonjakan Penahanan
Laporan The Telegraph menyebutkan bahwa saudara Ashrafi diduga memimpin apa yang disebut sebagai "blasphemy gang" atau geng penistaan. Kelompok ini dilaporkan menjebak para pemuda melalui dunia maya, lalu memeras mereka dengan ancaman pelaporan berdasarkan undang-undang penistaan agama Pakistan. Undang-undang tersebut membawa hukuman berat, termasuk ancaman hukuman mati.
Media Inggris itu mengeklaim geng tersebut bertanggung jawab atas "lonjakan besar" jumlah orang yang dipenjara karena kasus penistaan dalam beberapa tahun terakhir. Angka ini menjadi indikator serius bahwa penyalahgunaan regulasi keagamaan bisa berubah menjadi alat pemerasan sistematis.
| Aspek | Keterangan |
|---|---|
| Penghargaan | Diberikan Uskup Agung Canterbury, dicabut 6 hari kemudian |
| Penerima | Tahir Ashrafi, utusan khusus kerukunan antaragama Pakistan |
| Dugaan | Melindungi geng yang menculik dan memeras korban |
| Ancaman Hukum | Hukuman mati atas tuduhan penistaan agama |
Respons dan Dampak Diplomatik
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak Gereja Inggris maupun Kedutaan Pakistan di London terkait pencabutan tersebut. Namun, langkah Uskup Agung Canterbury dinilai sebagai sinyal kuat bahwa institusi keagamaan tidak ingin nama baiknya tercoreng oleh dugaan pelanggaran hukum serius.
"Pencabutan penghargaan dalam hitungan hari menunjukkan bahwa verifikasi latar belakang penerima masih menjadi titik lemah dalam diplomasi antaragama," ujar seorang pengamat hubungan internasional yang enggan disebut namanya.
Kasus ini juga menyoroti persoalan lebih luas mengenai penyalahgunaan undang-undang penistaan di Pakistan, yang selama ini dikritik lembaga hak asasi manusia internasional. Tuduhan terhadap Ashrafi menambah daftar panjang kekhawatiran tentang bagaimana hukum agama bisa digunakan sebagai alat menekan kelompok rentan dan memeras keuntungan ekonomi.
Bagi Gereja Inggris, insiden ini menjadi pukulan reputasi di tengah upaya membangun dialog lintas iman. Sementara bagi Islamabad, sorotan internasional atas dugaan geng pemerasan yang beroperasi di bawah payung tuduhan penistaan berpotensi mempersulit posisi diplomatik Pakistan di forum global.
Beritatercepat.com akan terus memantau perkembangan kasus ini, termasuk kemungkinan pernyataan resmi dari Vatikan, Gereja Inggris, dan pemerintah Pakistan.
Comments (0)