Sejumlah peneliti di Inggris mengembangkan cara baru untuk mendeteksi tumor otak: menganalisis sampel air mata. Tim dari University of Manchester yang dipimpin Profesor Petra Hamerlik menjajaki metode ini selama lebih dari 10 tahun dengan dana kampanye Stand Up To Cancer dan The Brain Tumour Charity. Temuan awal terbilang menjanjikan — sebuah studi pendahuluan mengklasifikasi pasien kanker otak dari sampel air mata dengan akurasi sekitar 95 persen.
Penelitian ini penting karena tumor otak termasuk penyakit yang paling sulit dikenali sejak dini. Gejalanya sering kabur: sakit kepala, kejang, atau kebingungan ringan yang bisa dianggap keluhan biasa. Akibatnya, banyak pasien baru terdiagnosis ketika penyakitnya sudah lanjut.
Dinding Darah Otak Menjadi Utama Penghalang
Tantangan terbesar deteksi kanker otak adalah dinding darah otak (blood-brain barrier). Penghalang biologis ini menyaring zat berbahaya agar tidak masuk ke otak, tetapi sekaligus menahan materi tumor di dalamnya. Ketika sisa sel atau fragmen DNA tumor akhirnya lolos ke aliran darah dalam jumlah yang bisa dideteksi, penyakitnya sering sudah maju.
Karena itu, peneliti mencari cairan tubuh lain yang lebih dekat dengan otak. Air mata dipilih bukan tanpa alasan: saraf mata tersambung langsung ke otak, dan air mata dibentuk dari plasma darah yang disaring oleh kelenjar yang dikendalikan batang otak. Kelenjar itu juga memproduksi komponen kekebalan yang vital bagi kesehatan mata.
“Kami berasumsi bahwa saat tumor tumbuh, ia membentuk ulang sistem kekebalan di otak, dan perubahan itu dapat tercemin di dalam air mata,” kata Profesor Hamerlik.
Perbandingan Metode Deteksi Tumor Otak
| Metode | Sifat Pengambilan | Keterbatangan Utama |
|---|---|---|
| MRI / CT Scan | Idebut, citra detail | Mahal, antrean panjang, bukan skrining |
| Cairan serebrospinal | Invasif (lumbar puncture) | Berisiko, tidak nyaman |
| Tes darah (liquid biopsy) | Semi-invasif | Dinding darah otak menahan biomarker tumor |
| Sampel air mata | Non-invasif, tanpa risiko | Masih dalam tahap validasi |
Tahapan Riset Sepuluh Tahun
Perjalanan menuju tes air mata tidak singkat. Tim merangkum prosesnya dalam tahap berikut:
- 2012 — Profesor Hamerlik memulai riset dasar tentang biomarker air mata.
- 2015 — Studi konsep pertama dilakukan di Denmark dengan 164 peserta, mencakup relawan sehat dan pasien tumor otak.
- 2021–2023 — Teknik analisis dioptimalkan; studi validasi memperoleh persetujuan komite etik Inggris pada Juli 2023.
- 2025 — Studi validasi besar bernama INFORM berjalan di NHS dan merekrut pasien dari Inggris, Swedia, Jerman, Yunani, Slovakia, dan Republik Ceko.
Pengambilan sampel sendiri terbilang sederhana. Tim memakai strip Schirmer, alat kertas kecil yang sudah lazim dipakai dokter mata untuk memeriksa mata kering. Pasien cukup menempelkan strip di kelopak mata selama beberapa menit, lalu strip berisi air mata dianalisis di laboratorium.
Kisah Pasien Pendorong Riset
Salah satu peserta studi adalah Alex Davies, 49 tahun, warga Lostock, Bolton. Ia divonis glioblastoma, bentuk tumor otak paling agresif. Alex jatuh mendadak setelah akhir pekan, namun pindaian awal tidak menemukan tumor dan ia sempat diobati sebagai penderita epilepsi. Selama tiga bulan gejalanya memburuk — sakit kepala hebat, gangguan bicara, keseimbangan, dan kebingungan — hingga kejang besar akhirnya memicu CT scan yang mengungkap tumor.
Alex kini menjalani perawatan paliatif di rumah, tetapi tetap mendonorkan air matanya untuk riset. Ia berharap keterlambatan diagnosis pada kasusnya tidak terulang pada pasien berikutnya, dan kontribusinya dapat mempercepat penemuan tes yang lebih awal.
Target: Alat Skrining di Praktik Dokter Umum
Tujuan akhir tim adalah mengubah beberapa tetes air mata menjadi tes cepat di tempat perawatan (point-of-care) yang bisa dipakai dokter umum untuk memutuskan apakah pasien perlu segera menjalani MRI. Tes ini juga berpotensi melengkapi MRI ketika hasil pemindaian tidak jelas.
“Harapannya adalah memberi klinis alat yang cepat dan andal untuk memilah pasien,” ujar Hamerlik. “Ini bukan untuk menggantikan MRI, melainkan mempercepat jalur diagnosis agar pasien mendapat jawaban lebih cepat.”
Meski demikian, penelitian ini masih berjalan dan hasil akhirnya belum bisa dipastikan. Tim menegaskan bahwa tes air mata ditujukan sebagai pelengkap, bukan pengganti diagnosis radiologi. Bila validasi INFORM berhasil, beberapa tetes air mata bisa berubah menjadi salah satu alat paling sederhana untuk mendeteksi tumor otak lebih dini.
Comments (0)