Trump Umumkan Darurat Siber Nasional di Ruang Oval

WASHINGTON D.C. — Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara resmi mendeklarasikan status Darurat Siber Nasional pada Kamis (29/1/2026) di Ruang Oval, Ge

Jul 08, 2026 - 13:30
0 0
Trump Umumkan Darurat Siber Nasional di Ruang Oval

WASHINGTON D.C. — Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara resmi mendeklarasikan status Darurat Siber Nasional pada Kamis (29/1/2026) di Ruang Oval, Gedung Putih. Langkah drastis ini diambil setelah serangan siber massif melumpuhkan sebagian sistem perbankan dan jaringan listrik Pantai Timur selama 72 jam terakhir.

Dengan ekspresi tegang, Trump menandatangani perintah eksekutif yang memberikan wewenang luas kepada Departemen Keamanan Dalam Negeri dan Komando Siber untuk mengambil alih kendali infrastruktur digital kritis. "Kita sedang diserang oleh musuh yang tak kasat mata, dan saya tidak akan tinggal diam," tegasnya di hadapan kamera.

"Ini bukan sekadar kejahatan biasa. Ini adalah tindakan perang terhadap kedaulatan digital Amerika. Sore ini juga, semua aset siber nasional berada di bawah kendali penuh pemerintah federal."

Berikut poin-poin penting dari deklarasi tersebut:

  • Pengambilalihan Infrastruktur: Pemerintah langsung mengambil alih pengawasan jaringan listrik, sistem perbankan nasional, dan pusat data penyedia layanan cloud utama.
  • Larangan Pembayaran Ransomware: Mulai pukul 18.00 EST, seluruh entitas swasta dan publik dilarang melakukan pembayaran dalam bentuk apa pun kepada aktor siber yang mengklaim bertanggung jawab.
  • Pembekuan Aset Dompet Digital Terindikasi: Departemen Keuangan memblokir lebih dari 4.200 dompet kripto yang diduga terkait dengan kelompok peretas "StormFront", yang diyakini disponsori oleh negara asing.
  • Pengerahan Garda Nasional Siber: Unit khusus dari Garda Nasional diaktifkan untuk mengamankan titik-titik rawan, termasuk pembangkit listrik dan pusat distribusi air bersih.

Sekretaris Pers Gedung Putih menyatakan bahwa keputusan ini diambil setelah briefing maraton dengan NSA, FBI, dan CISA selama tiga hari terakhir. Serangan pertama terdeteksi pada Senin malam, menyebabkan gangguan layanan perbankan online di Bank of America, JPMorgan Chase, dan Wells Fargo. Selasa pagi, pemadaman listrik bergilir mulai melanda sebagian wilayah New York, Pennsylvania, dan New Jersey karena sistem SCADA mengalami gangguan aneh.

Trump mengklaim bahwa pelaku telah teridentifikasi dan pemerintah akan memberikan respons proporsional. Namun, ia menolak menyebutkan nama negara yang dimaksud. "Mereka tahu, dan kita tahu. Jawabannya akan datang pada waktu yang tepat. Ini bukan ancaman, ini fakta," tambahnya dengan nada datar.

Pengumuman ini memicu reaksi beragam dari sekutu tradisional Amerika. Sekretaris Jenderal NATO, dalam pernyataan tertulis, menyatakan "keprihatinan mendalam" dan menyerukan agar respons apa pun dilakukan melalui mekanisme aliansi. Sementara itu, Duta Besar Rusia untuk PBB membantah keras segala bentuk keterlibatan dan menyebut tuduhan itu sebagai "paranoia digital yang berbahaya."

Kongres telah dijadwalkan untuk menggelar sesi tertutup pada Jumat pagi guna membahas cakupan penuh kerusakan dan rencana pemulihan. Sumber dari Capitol Hill menyebutkan bahwa beberapa anggota parlemen dari kedua partai telah menyatakan dukungan awal mereka terhadap langkah presiden, meski Partai Demokrat menuntut pengawasan ketat terhadap potensi pelanggaran privasi selama masa darurat.

Di sisi lain, bursa Wall Street mengalami tekanan pada penutupan Kamis sore. Indeks Dow Jones turun 2,1%, sementara Nasdaq terkoreksi 3,4% seiring investor mencerna implikasi dari darurat siber berskala nasional ini. Sektor teknologi dan perbankan menjadi yang paling terpukul, mencerminkan ketidakpastian akan stabilitas sistem digital Amerika Serikat dalam beberapa hari ke depan.

Masyarakat di beberapa negara bagian yang terdampak masih bergulat dengan terbatasnya layanan dasar. Antrean panjang terlihat di pom bensin dan gerai ATM di Manhattan, Brooklyn, dan Philadelphia karena transaksi elektronik lumpuh. Departemen Energi menyatakan pihaknya menargetkan pemulihan penuh jaringan listrik dalam 48–72 jam, "dengan asumsi tidak ada eskalasi serangan susulan."

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User