TPA Jatiwaringin Masih Berasap, Pemulung Bertahan Cari Nafkah

Tangerang, Beritatercepat.com — Asap tebal masih menyelimuti Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin. Kebakaran yang terjadi sejak 30 Juni lalu itu belum sepenuhnya padam, menyisakan bara dan gu

Jul 08, 2026 - 06:01
0 0
TPA Jatiwaringin Masih Berasap, Pemulung Bertahan Cari Nafkah

Tangerang, Beritatercepat.com — Asap tebal masih menyelimuti Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin. Kebakaran yang terjadi sejak 30 Juni lalu itu belum sepenuhnya padam, menyisakan bara dan gumpalan asap yang terus mengepul dari gunungan sampah. Di tengah kondisi yang tidak sehat itu, puluhan pemulung memilih bertahan untuk mengais rezeki dari tumpukan sampah yang masih terbakar.

Pantauan media kami di lokasi, para pemulung tampak mengenakan masker kain seadanya. Beberapa bahkan hanya menutup mulut dengan potongan pakaian bekas. Mereka bergerak di antara gundukan sampah yang masih mengeluarkan asap, memilah plastik, kertas, dan barang-barang bekas yang bisa dijual ke pengepul. Suasana pascakebakaran itu tidak menyurutkan langkah mereka, meski bau menyengat sisa pembakaran dan risiko gangguan pernapasan terus mengintai.

"Mau bagaimana lagi, kami harus makan hari ini. Kalau tidak ke sini, keluarga di rumah bisa kelaparan," ujar Aseng, salah satu pemulung yang ditemui di TPA, saat beristirahat di bawah tenda sederhana yang terbuat dari terpal bekas.

Tantangan Kesehatan dan Minimnya Perlindungan

Aseng mengaku sudah tahu bahaya menghirup asap terus-menerus. Namun, bertahan di dekat sumber api tetap menjadi pilihan karena hasil pungutan justru lebih besar saat ada tumpukan sampah baru yang terbawa oleh proses pemadaman dan pembongkaran. Ia dan puluhan pemulung lainnya rata-rata mendapat penghasilan Rp50—80 ribu per hari, bergantung pada volume dan jenis sampah yang bisa dipilah.

Dari pantaun media kami, sebagian besar pemulung tidak memiliki alat pelindung diri memadai, seperti masker N95 atau sarung tangan tahan panas. Mereka lebih banyak mengandalkan karton bekas sebagai alas duduk dan penutup kepala untuk menghalau panas dari sisa bara di bawah tumpukan sampah. Kondisi ini diperparah dengan cuaca kota Tangerang yang terik siang tadi, membuat asap dan debu dari gunungan sampah kering semakin mengganggu pernapasan.

Proses Pemadaman Terkendala Luasnya Area

Kepala Bidang Pengelolaan Sampah setempat yang dikonfirmasi terpisah menjelaskan bahwa pihaknya masih berjibaku memadamkan titik api yang tersisa. Pasokan air yang terbatas dan akses kendaraan pemadam ke bagian tengah TPA menjadi kendala utama. "Kami sudah menerjunkan beberapa unit pemadam dan alat berat untuk membongkar sampah agar bara tidak merambat. Tapi prosesnya tidak bisa cepat karena luasnya area yang terbakar," katanya, Senin siang.

Sementara itu, keberadaan pemulung yang tetap beraktivitas menjadi perhatian tersendiri. Petugas sempat mengimbau mereka untuk menjauh dari radius berbahaya, namun sebagian besar mengabaikan. Mereka memilih mencari selamat dengan cara sendiri, termasuk naik ke atas gundukan sampah yang dianggap masih aman dari jangkauan api.

Dengan kondisi TPA yang masih berasap, kegiatan pengumpulan sampah dari seluruh wilayah Tangerang juga ikut terdampak. Beberapa truk sampah terpaksa dialihkan sementara ke lokasi penampungan darurat. Meski begitu, denyut kehidupan para pemulung di TPA Jatiwaringin tak berhenti. Asap dan risiko tinggi tak mampu mengalahkan tuntutan perut yang harus diisi setiap hari.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
pandu-rangga

Editor Ekonomi. Editor ekonomi breaking dan update pasar terkini.

Comments (0)

User