Tiga Begal di Depok Jerat Korban via Aplikasi Gay
DEPOK — BARU SAJA, tiga begal sadis diringkus aparat setelah terbukti memancing mangsa melalui aplikasi kencan sesama jenis. Penangkapan berlangsung di wilayah hukum Polresta Depok pada Senin malam ...
DEPOK — BARU SAJA, tiga begal sadis diringkus aparat setelah terbukti memancing mangsa melalui aplikasi kencan sesama jenis. Penangkapan berlangsung di wilayah hukum Polresta Depok pada Senin malam (27/7).
Modus Baru yang Meresahkan
Para pelaku menggunakan platform Hornet, aplikasi yang populer di kalangan LGBTIQ, untuk mengincar korban. Mereka memasang profil palsu dengan foto menarik dan menyelipkan kode terselubung di kolom bio. Kode itu berfungsi sebagai undangan tersirat bagi calon korban yang mencari pertemuan tatap muka.
Begitu calon korban terpancing, pelaku langsung meminta nomor pribadi dan mengajak bertemu di tempat sepi. Korban yang lengah langsung dilumpuhkan dengan kekerasan. Barang berharga seperti ponsel, perhiasan, dan dompet langsung diambil paksa.
Fakta Kunci
- 3 pelaku utama ditangkap di wilayah Depok Utara
- Mengincar pengguna Hornet dengan profil gay
- Kode rahasia jadi alat penyaring calon korban
- Pertemuan diatur malam hari di lokasi minim penerangan
- Barang bukti: dua unit ponsel, satu bilah pisau, dan SIM card korban
Kronologi Penangkapan
Kepolisian bergerak cepat setelah menerima laporan dari seorang korban yang nyaris tewas. Korban berinisial R (29) mengaku dihubungi oleh akun bernama “Alex” di Hornet. Akun tersebut menggunakan kode “party” yang dalam komunitas berarti bersedia bertemu untuk aktivitas seksual berkelompok. Merasa penasaran, R mengiyakan dan tiba di sebuah gang gelap di kawasan Cimanggis. Di sana ia dihadang tiga pria dan ditodong pisau.
Beruntung R bisa kabur meski ponsel dan dompetnya raib. Berdasarkan keterangannya, tim siber Polresta Depok melacak aktivitas digital para pelaku. Hanya dalam 24 jam, ketiga tersangka berinisial AT (24), RM (22), dan SP (25) berhasil diciduk di kontrakan mereka.
Pengakuan Mengejutkan
Saat diinterogasi, pelaku mengaku sudah beraksi sebanyak enam kali dalam sebulan terakhir. Mereka secara spesifik mengincar pengguna aplikasi karena dinilai rentan dan enggan melapor. “Kami sengaja pilih yang terlihat lemah dan pendiam dari foto profilnya,” kata AT di hadapan penyidik.
Polisi kini tengah mendalami kemungkinan adanya jaringan lebih luas yang memanfaatkan platform serupa untuk aksi kejahatan jalanan.
Imbauan dan Penyelidikan Lanjutan
Kapolresta Depok melalui keterangan tertulisnya mengimbau masyarakat, terutama pengguna aplikasi kencan daring, untuk lebih waspada. “Jangan mudah percaya pada profil baru. Jika ingin bertemu, pilih tempat terbuka dan ramai. Beritahu keluarga atau teman tentang rencana pertemuan itu,” tegasnya.
Saat ini, ketiga tersangka masih menjalani pemeriksaan intensif. Polisi juga mengamankan sejumlah barang bukti digital untuk mengungkap korban lain yang belum melapor. Penyidik tidak menutup kemungkinan adanya keterlibatan pihak aplikasi dalam memudahkan aksi serupa, meski dugaan itu masih dalam tahap awal penelusuran.
UPDATE: Tim investigasi terus memburu kemungkinan pelaku tambahan yang masih berkeliaran. Masyarakat yang merasa dirugikan diimbau segera menghubungi call center 110 atau mendatangi kantor polisi terdekat.
Comments (0)