Megawati Resmikan Monumen Kudatuli: Simbol Kesabaran Revolusioner dan Cita-cita Sukarno
BARU SAJA: Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri resmi meresmikan Monumen Kudatuli di markas DPP partai, Menteng, Jakarta Pusat. Monumen baja hitam setinggi lima meter itu disebut sebagai buah kontem...
BARU SAJA: Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri resmi meresmikan Monumen Kudatuli di markas DPP partai, Menteng, Jakarta Pusat. Monumen baja hitam setinggi lima meter itu disebut sebagai buah kontemplasi panjang, mewujudkan kesabaran revolusioner dan mimpi Bung Karno.
Didampingi putranya, Prananda Prabowo, Megawati menekan tombol sirine tepat pukul 09.45 WIB. Lampu sorot menyala, menyinari tiga pilar monumen yang menyatu. “Ini bukan sekadar batu. Ini api perjuangan yang tak boleh padam,” ujarnya dalam pidato singkat, disambut gemuruh ribuan kader.
Luka 27 Juli yang Menjadi Pelajaran
Monumen ini didirikan tepat di lokasi bekas titik serangan 27 Juli 1996. Sekitar pukul 06.00 WIB waktu itu, massa yang menamakan diri “Gema Nusa” menerobos pagar dan mengusir pendukung Megawati yang tengah rapat. Lima orang tewas, puluhan hilang, dan kantor partai luluh lantak. Rezim Orde Baru dianggap membiarkan aksi brutal tersebut. Peristiwa kelam itu lalu dikenal sebagai Kudatuli—Kerusuhan Dua Tujuh Juli—yang menjadi luka demokrasi nasional.
- Monumen diresmikan pagi ini di depan Gedung DPP PDIP
- Menggambarkan ketabahan kader menghadapi represi
- Menjadi penanda kebangkitan dan perjalanan demokrasi Indonesia
- Desain terinspirasi Trisakti Bung Karno: politik berdaulat, ekonomi berdikari, budaya berkepribadian
- Api abadi dari Mrapen ditempatkan di rongga monumen, menyala setiap malam
Megawati menegaskan bahwa tugu ini bukan untuk menebar dendam, melainkan belajar dari sejarah. “Kesabaran revolusioner itu bukan diam. Kami sabar tapi tidak akan menyerah pada ketidakadilan,” tegasnya. Pernyataan itu diamini kader yang memenuhi area monumen.
Cita-cita Bung Karno yang Tak Padam
Lebih jauh, Megawati mengaitkan monumen dengan ajaran sang proklamator. Ia menyebut Bung Karno selalu membayangkan Indonesia yang sejahtera secara adil dan makmur. Tiga pilar monumen, katanya, melambangkan Trisakti: fondasi bangsa yang harus dijaga. “Saya hanya melanjutkan cita-cita beliau. Monumen ini pengingat bagi kita semua, terutama generasi muda,” tambahnya.
Hadirin yang terdiri dari elite partai, saksi sejarah, dan keluarga korban tampak haru. Sejumlah tokoh seperti Sekjen PDIP dan ketua DPP turut hadir. Acara juga diisi pembacaan puisi oleh seniman yang merefleksikan tragedi 1996.
Pesan Menjelang Pemilu
Peresmian ini dinilai bukan sekadar ritual internal partai. Sejumlah pengamat melihat langkah ini punya bobot politik tinggi. “Ini deklarasi historis. Megawati mengingatkan publik tentang legitimasi perjuangan PDIP dan garis ideologisnya,” ujar seorang analis politik.
Monumen yang dibuka untuk publik mulai besok ini juga dilengkapi layar interaktif. Layar itu menampilkan kronologi peristiwa Kudatuli berikut konteks demokrasi nasional. “Kami ingin masyarakat belajar langsung. Sejarah tidak boleh dilupakan,” kata Prananda Prabowo.
UPDATE 10.30 WIB: Ribuan kader dari berbagai daerah terus berdatangan. Mereka mengaku sengaja datang untuk menyaksikan simbol perjuangan itu. “Ini bukti bahwa kami tidak akan mundur,” ujar seorang kader asal Jawa Timur.
Dengan berdirinya Monumen Kudatuli, PDIP menegaskan komitmen menjaga api perjuangan Bung Karno. Tugu ini diharapkan menjadi inspirasi untuk terus memperjuangkan Indonesia yang berdaulat, berdikari, dan sejahtera.
Comments (0)