Tapir Viral di Lampung Disembelih Warga dan Dimasak Rica-rica
Sebuah peristiwa memilukan terjadi di Kabupaten Mesuji, Lampung, saat seekor tapir yang sebelumnya viral karena berkeliaran di Jalan Lintas Timur Sumatera ditemukan tewas dibunuh secara brutal. Satwa
Sebuah peristiwa memilukan terjadi di Kabupaten Mesuji, Lampung, saat seekor tapir yang sebelumnya viral karena berkeliaran di Jalan Lintas Timur Sumatera ditemukan tewas dibunuh secara brutal. Satwa yang dilindungi secara hukum itu disembelih oleh warga setempat dan dagingnya dimasak menjadi hidangan rica-rica, meninggalkan jejak kengerian yang terekam dalam video berdurasi 19 detik. Rekaman tersebut menyebar luas di berbagai platform media sosial dan memicu gelombang kemarahan publik yang mengecam tindakan keji yang tidak menghormati kehidupan satwa langka itu. Beritatercepat.com merangkum informasi dari sejumlah sumber dan laporan di lapangan yang mengonfirmasi kebenaran insiden ini.
Kronologi Penemuan Bangkai Tapir
Video viral yang beredar menunjukkan pemandangan yang sulit ditelan: bangkai tapir itu dalam kondisi mutilasi dengan kepala telah terpisah dari tubuhnya. Potongan-potongan daging disusun di atas hamparan daun pisang di lahan terbuka, menandakan bahwa proses penyembelihan dan pemotongan telah rampung dilakukan. Di latar video, beberapa pria tampak berdiri di sekitar lokasi, dengan satu orang secara terang-terangan menghadap kamera sambil tersenyum dan mengacungkan jari tengah—sebuah gestur menghina yang memicu reaksi keras netizen. Sebilah senjata tajam yang diduga kuat sebagai alat pembunuh satwa itu terletak tidak jauh dari bangkai, semakin memperkuat bukti visual tentang penyiksaan yang dialami hewan malang tersebut.
Dari laporan yang dihimpun media kami, tapir ini pertama kali mencuri perhatian setelah terlihat mondar-mandir di jalan raya provinsi yang ramai, membuat sejumlah pengendara terkejut dan segera mengabadikan penampakannya. Hewan itu diduga tersesat dari habitat alaminya akibat deforestasi atau aktivitas pembukaan lahan yang marak di Sumatera. Namun, alih-alih dilaporkan kepada pihak berwenang untuk direlokasi aman, tapir itu justru diburu dan dibunuh untuk konsumsi.
Status Perlindungan dan Ancaman Pidana
Tapir ( Tapirus indicus ) merupakan salah satu satwa dilindungi penuh berdasarkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, serta Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan terkait spesies prioritas. Satwa ini berstatus genting (Endangered) menurut daftar merah International Union for Conservation of Nature (IUCN) dan dilindungi oleh CITES (Convention on International Trade in Endangered Species). Oleh karena itu, tindakan menangkap, membunuh, atau mengonsumsi daging tapir adalah pelanggaran hukum serius yang dapat dikenai sanksi pidana penjara hingga 5 tahun dan denda maksimal sebesar Rp100 juta.
"Kami sangat menyayangkan peristiwa ini. Tapir adalah spesies kunci yang berperan penting dalam menjaga regenerasi hutan, dan membunuhnya adalah kejahatan lingkungan yang tidak dapat ditoleransi," ujar seorang aktivis konservasi yang enggan disebutkan namanya saat dihubungi media kami.
Pihak Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Lampung dikabarkan telah bergerak cepat menyelidiki unggahan video tersebut untuk mengidentifikasi pelaku dan lokasi pasti kejadian. Tim gabungan dari kepolisian dan BKSDA disebut akan menelusuri bukti digital dan saksi di lapangan guna menegakkan hukum tanpa pandang bulu. Hingga berita ini diturunkan, belum ada konfirmasi resmi tentang penangkapan para pelaku, tetapi tekanan publik yang tinggi di media sosial diharapkan dapat mempercepat proses penyidikan.
Perbuatan ini menjadi pengingat getir tentang masih rendahnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga satwa liar, terutama di wilayah yang berbatasan langsung dengan hutan. Di tengah upaya global untuk menyelamatkan spesies langka dari kepunahan, insiden tersebut justru menunjukkan betapa rapuhnya rantai perlindungan jika tidak didukung oleh penegakan hukum yang tegas dan edukasi yang berkelanjutan. Beritatercepat.com akan terus memantau perkembangan selanjutnya dari kasus ini dan mendesak transparansi dari pihak terkait.
Comments (0)