Shanghai Heboh — Sepiring Telur Orak-Arik Dijual Rp1,3 Juta

Dunia kuliner kembali melahirkan fenomena yang mengundang decak kagum sekaligus kontroversi. Restoran Jinlong Dabianlu di distrik Hongkou, Shanghai, mendad

Jul 09, 2026 - 13:06
0 0
Shanghai Heboh — Sepiring Telur Orak-Arik Dijual Rp1,3 Juta

Dunia kuliner kembali melahirkan fenomena yang mengundang decak kagum sekaligus kontroversi. Restoran Jinlong Dabianlu di distrik Hongkou, Shanghai, mendadak viral setelah menyajikan menu yang begitu simpel namun bertabur kemewahan: telur orak-arik seharga 588 yuan atau setara Rp1,3 juta. Hidangan yang lazim menjadi andalan sarapan ekonomis ini berubah menjadi simbol keeksklusifan di tangan koki mereka.

Video yang beredar di platform media sosial menunjukkan proses memasak yang dramatis. Sang koki berdiri di hadapan pelanggan sambil mengocok telur-telur istimewa, lalu menuangkan pasta truffle hitam dan taburan daun emas 24 karat yang berkilau di atas wajan panas. Bukan sekadar makan, tapi pertunjukan—begitulah konsep yang diusung restoran ini.

Apa yang Membuat Harganya Fantastis?

Bukan telur biasa yang digunakan. Restoran ini mengklaim menggunakan telur dari ayam Langya, ras premium asal Provinsi Shandong yang dibesarkan dengan pakan khusus kaya nutrisi. Satu kilogram telur Langya di pasar Tiongkok sudah mencapai 120 yuan (Rp270 ribu), empat kali lipat harga telur konvensional.

Komposisi utamanya:

  • 3 butir telur ayam Langya premium
  • 15 gram pasta truffle hitam Perigord impor Prancis
  • Lembaran emas murni 24 karat sebagai topping
  • Disajikan langsung oleh koki secara tableside performance

Setiap porsi membutuhkan setidaknya dua telur besar yang dikocok dengan mentega impor, lalu dilipat perlahan dengan tambahan truffle hitam yang aromanya langsung menyeruak begitu wajan panas menyentuhnya. Proses ini menjadi tontonan eksklusif bagi tamu yang rela merogoh kocek dalam-dalam.

Ledakan di Media Sosial

Sejak pertama kali diunggah, konten tentang telur orak-arik emas ini telah ditonton lebih dari 50 juta kali di Douyin (TikTok Tiongkok). Komentar netizen terbelah: sebagian menggelengkan kepala karena dianggap terlalu berlebihan, sebagian lain penasaran dan menjadikannya bucket list kuliner.

"Ini gila. Dengan uang segitu saya bisa beli telur setahun penuh," tulis seorang pengguna Douyin. Namun ada pula yang berkomentar, "Kalau mampu beli kenapa tidak? Ini pengalaman, bukan sekadar makanan."

Pihak restoran sendiri tidak gentar dengan kritik. Manajer Jinlong Dabianlu, Liu Wei, dalam wawancara singkatnya menyatakan bahwa menu ini diciptakan sebagai jawaban atas permintaan kelas atas. "Pelanggan kami mencari sesuatu yang berbeda, sesuatu yang tidak bisa mereka temukan di tempat lain. Telur ini adalah kanvas untuk kemewahan," ujarnya percaya diri.

Fenomena "Luxury Comfort Food"

Langkah Jinlong Dabianlu sebenarnya bukan yang pertama. Tren "luxury comfort food"—mengubah makanan rakyat biasa menjadi hidangan super-mewah—telah menjadi strategi pemasaran ampuh di kota-kota besar seperti Shanghai, Beijing, dan Shenzhen. Restoran bintang lima kerap menyulap mi instan dengan lobster, atau bubur ayam dengan abalone dan sarang burung walet.

Tujuannya jelas: menciptakan buzz, memancing rasa penasaran, dan menegaskan status sosial para pelanggan. Dalam kasus telur orak-arik ini, strategi itu berhasil. Reservasi di restoran tersebut meningkat 40% dalam dua pekan terakhir, terutama dari kalangan influencer dan pemburu konten.

Namun para kritikus kuliner mengingatkan agar masyarakat tidak terjebak ilusi kemewahan semata. "Telur tetaplah telur. Tidak peduli berapa banyak emas yang ditaburkan, nilai gizinya tidak berubah drastis," kata seorang food vlogger kenamaan Tiongkok dalam ulasannya.

Terlepas dari pro dan kontra, satu hal yang pasti: telur orak-arik tidak akan pernah terlihat sama lagi setelah fenomena Shanghai ini mengguncang dunia maya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User