Semarang — Warga Kembali Seluncur Tanpa Izin di Bendung Pleret BKB Semarang

Lantai miring Bendung Pleret, Banjir Kanal Barat (BKB) kembali disulap menjadi papan luncur dadakan. Sore itu, Rabu (8/7), derap tawa anak-anak memecah sen

Jul 09, 2026 - 22:00
0 0
Semarang — Warga Kembali Seluncur Tanpa Izin di Bendung Pleret BKB Semarang

Lantai miring Bendung Pleret, Banjir Kanal Barat (BKB) kembali disulap menjadi papan luncur dadakan. Sore itu, Rabu (8/7), derap tawa anak-anak memecah senja saat mereka meluncur deras di atas beton basah yang seharusnya steril dari aktivitas publik. Tak ada pengaman, tak ada pengawas, apalagi izin resmi. Mereka datang, naik ke puncak bendungan, lalu terjun bebas ditemani arus yang—untungnya—masih tenang.

Kronologi: Pantauan di Lokasi

Sekitar pukul 16.30 WIB, pantauan tim Beritatercepat merekam pemandangan kontras: puluhan bocah usia sekolah dasar asyik “bersurfing” di bidang miring bendung, sementara sejumlah orang dewasa duduk santai melempar kail di sisi yang sama. Debit air saat itu terpantau rendah dan tidak deras—kondisi yang justru memicu keberanian mereka. Beberapa anak bahkan tampak berlomba, mendaki kembali untuk meluncur berulang kali. Tak satu pun alat pelindung terlihat di tubuh mungil mereka.

“Saya cuma mancing, Mas. Senang lihat anak-anak main, tapi jujur waswas kalau tiba-tiba air kiriman datang. Soalnya di sini bahaya, banyak kejadian,” ujar Slamet (47), warga sekitar yang setia memancing di BKB sore itu.

Fakta Kunci: Bendung Bukan Wahana Rekreasi

Fakta kunci: Bendung Pleret adalah infrastruktur pengendali banjir, bukan taman air. Struktur beton miringnya didesain untuk mengalirkan debit air dengan efisiensi tinggi, terutama saat musim hujan. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Semarang telah berulang kali mengingatkan bahwa aktivitas seluncur di bendung sangat berisiko. Air yang tampak tenang dalam hitungan menit bisa berubah menjadi arus deras yang mampu menghanyutkan siapa pun.

Data internal pengelola menyebutkan, rambu larangan telah dipasang di beberapa titik. Namun, papan peringatan itu kian pudar dan sering diabaikan. Kehadiran petugas juga minim, membuat bendung rawan disalahgunakan sebagai arena bermain saat musim kemarau. Ironisnya, ini bukan kali pertama fenomena serupa viral. Tahun lalu, video anak-anak meluncur di lokasi yang sama sempat heboh di media sosial, namun belum ada penertiban permanen yang diterapkan.

Respons Pengelola dan Ancaman Terselubung

Saat dikonfirmasi, perwakilan Dinas Pekerjaan Umum (DPU) yang membawahi pengelolaan BKB enggan berkomentar banyak. Di luar pernyataan resmi, petugas lapangan mengakui bahwa patroli rutin sulit dilakukan karena keterbatasan personel.

“Kami sudah pasang papan larangan berkali-kali. Tapi warga, terutama anak-anak, sulit dicegah kalau tidak ada yang jaga terus. Apalagi kalau air lagi surut, mereka anggap aman,” tutur seorang staf teknis yang enggan disebutkan namanya.

Surga Semu yang Bisa Menjebak

Kombinasi air rendah dan permukaan licin memang menciptakan sensasi seluncur yang menggoda. Namun, arus kiriman dari hulu (Kali Garang) bisa datang tiba-tiba tanpa peringatan. Tanpa pengawasan dan kompetensi berenang memadai, para bocah yang riang siang itu sesungguhnya tengah menari di bibir jurang. Apakah korban harus jatuh lebih dulu sebelum aparat bersikap tegas?

Laporan ini hadir bukan untuk mematikan tawa, melainkan mengingatkan bahwa keselamatan lebih berharga daripada sepotong kesenangan yang sewaktu-waktu bisa berakhir petaka.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User