Sampah Layangan Putus Menumpuk di Pohon Jakarta
Fenomena baru menambah daftar panjang permasalahan sampah di Ibukota. Jika sebelumnya warga Jakarta akrab dengan tumpukan sampah di bantaran sungai, pasar,
Fenomena baru menambah daftar panjang permasalahan sampah di Ibukota. Jika sebelumnya warga Jakarta akrab dengan tumpukan sampah di bantaran sungai, pasar, dan permukiman padat, kini pemandangan serupa justru muncul di ketinggian. Puluhan, bahkan ratusan layangan putus tersangkut di dahan pohon, menciptakan 'pohon sampah' yang menjulang di tengah kota.
Berdasarkan pantauan di beberapa wilayah seperti Jakarta Timur dan Jakarta Selatan, layangan yang terbuat dari plastik, kertas minyak, dan rangka bambu itu menggantung seperti hiasan tak diundang. Saat angin bertiup, sampah-sampah tersebut berkibar dan menghasilkan pemandangan kontras antara hijau dedaunan dan warna-warni plastik yang mulai kusam. Ironisnya, sebagian besar layangan itu putus akibat tali yang murah dan mudah rapuh, bukan karena faktor cuaca ekstrem.
Dari Mainan Tradisional Menjadi Ancaman Baru
Layangan merupakan bagian dari budaya bermain anak-anak di perkotaan. Namun momen pandemi yang memperbanyak waktu luang di rumah membuat tren menerbangkan layangan kembali marak. Lomba-lomba layangan daring turut menyumbang jumlah layangan yang mengudara setiap akhir pekan. Hanya saja, kesadaran untuk menggunakan tali ramah lingkungan dan membersihkan sisa layangan putus masih minim.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, dalam keterangannya pekan lalu, menyebut fenomena ini sebagai 'sampah musiman yang mulai menetap'.
"Kami mencatat peningkatan volume sampah layangan di atas pohon hingga 30% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Ini bukan sekadar masalah estetika, tapi juga berpotensi merusak tajuk pohon,"ujarnya.
Sampah-sampah itu tidak hanya mengotori pemandangan. Plastik yang melapisi layangan dapat menghalangi sinar matahari mencapai daun, sementara rangka bambu berisiko melukai cabang pohon. Dalam jangka panjang, pohon peneduh yang menjadi andalan menurunkan suhu kota bisa kehilangan fungsi ekologisnya.
Upaya Pembersihan yang Tidak Mudah
Petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) kerap kewalahan membersihkan layangan dari pohon. Masalahnya tidak hanya terletak pada jumlah, tetapi juga pada ketinggian. Untuk pohon setinggi lebih dari 15 meter, petugas memerlukan peralatan khusus seperti cherry picker yang jumlahnya terbatas. Di beberapa titik, warga terpaksa menggunakan galah panjang, yang justru berisiko merusak ranting jika tidak hati-hati.
Berikut sejumlah kendala utama yang dihadapi dalam pembersihan 'pohon sampah' layangan:
- Keterbatasan alat berat – Hanya terdapat 5 unit cherry picker untuk seluruh wilayah Jakarta.
- Kesulitan akses – Pohon yang tumbuh di gang sempit atau kabel listrik membuat jangkauan alat terbatas.
- Volume sampah tinggi – Setiap akhir pekan, petugas mengumpulkan rata-rata 2 ton sampah layangan dari satu kecamatan.
- Keselamatan kerja – Angin kencang sering memaksa penghentian operasi di ketinggian.
Kolaborasi dengan komunitas pun digalakkan. Pegiat lingkungan dari Komunitas Peduli Langit Biru Jakarta, Andi Prasetyo, menuturkan bahwa pihaknya telah melakukan aksi pungut layangan sejak awal tahun.
"Kami mengajak anak-anak untuk tidak lagi menerbangkan layangan di dekat pohon besar, sekaligus memberi edukasi soal bahaya sampah plastik di udara. Tapi butuh peraturan lebih tegas dari pemerintah soal penggunaan tali layangan yang mudah putus dan tidak terurai,"tegasnya.
Di sisi lain, Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif memandang perlu menata kegiatan bermain layangan ke arah yang lebih bertanggung jawab. Wacana festival layangan dengan penonton terbatas dan area aman mulai digulirkan, menggantikan adu layangan bebas yang memicu banyak keluhan warga karena selain sampah pohon, tali layangan juga sempat memakan korban pengendara motor.
Data dan Fakta Terkini
| Aspek | Data 2023 | Data 2024 (per Kuartal I) |
|---|---|---|
| Volume sampah layangan di pohon | 45 ton/bulan | 58 ton/bulan |
| Wilayah titik tertinggi | Jakarta Timur | Jakarta Selatan |
| Petugas kebersihan diterjunkan | 200 orang | 320 orang |
| Kisaran biaya pembersihan per pohon | Rp 150.000 | Rp 185.000 |
Dinas Lingkungan Hidup kini mengalokasikan anggaran tambahan sebesar Rp2,3 miliar untuk penanganan sampah di area vertikal, termasuk pohon dan kabel udara. Program ini mencakup pengadaan alat, pelatihan khusus petugas, serta kampanye 'Langit Bersih Jakarta'.
Diharapkan dengan pengetatan aturan menerbangkan layangan—seperti larangan di area padat pohon dan kewajiban menggunakan tali katun yang mudah terurai—pemandangan pohon yang penuh sampah bisa berkurang drastis. Masyarakat pun diimbau untuk lebih peduli dan tidak sekadar menikmati hiburan sesaat dengan mengorbankan kelestarian kota.
[SOCIAL_TWEET]: Pohon-pohon di Jakarta kini jadi 'tempat sampah' layangan putus. Volume sampah melonjak 30%, petugas kewalahan. Waktunya aturan main layangan diperketat. #SampahLayangan #JakartaBersih #LingkunganHidup[SOCIAL_TG]: 🪁 Pohon di Jakarta dipenuhi sampah layangan putus. Volume sampah naik 30%, petugas kewalahan bersihkan ketinggian. Aturan main layangan akan diperketat. #Jakarta #Lingkungan
Comments (0)