Sep 18, 2026
Nasional

Rupiah Tertekan ke Rp17.735 Imbas Kenaikan Suku Bunga The Fed

JAKARTA — Tekanan terhadap mata uang Garuda kembali memuncak pada penutupan perdagangan pasar spot. Nilai tukar rupiah terperosok ke level Rp17.735 per dol

Rupiah Tertekan ke Rp17.735 Imbas Kenaikan Suku Bunga The Fed

JAKARTA — Tekanan terhadap mata uang Garuda kembali memuncak pada penutupan perdagangan pasar spot. Nilai tukar rupiah terperosok ke level Rp17.735 per dolar Amerika Serikat (AS), mencatatkan salah satu posisi terlemahnya seiring dengan langkah agresif bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), yang kembali mengerek suku bunga acuan guna meredam inflasi global.

Kondisi ini memicu capital outflow dari pasar negara berkembang (emerging markets), termasuk Indonesia, menuju aset-aset berdenominasi dolar AS yang menawarkan imbal hasil (yield) lebih menarik dan minim risiko.

Kronologi Pelemahan Rupiah Sepanjang Sesi Transaksi

Berdasarkan data transaksi valuta asing sepanjang hari, pergerakan nilai tukar rupiah menunjukkan tren pelemahan konsisten sejak pembukaan perdagangan:

  1. Pukul 09.00 WIB: Rupiah dibuka melemah 45 poin ke level Rp17.650 per dolar AS, langsung merespons pengumuman kebijakan moneter The Fed semalam.
  2. Pukul 12.00 WIB: Tekanan jual meningkat tajam pada jeda siang, mendorong kurs spot menyentuh level psikologis baru di Rp17.700 per dolar AS.
  3. Pukul 15.30 WIB: Pasar ditutup dengan posisi rupiah parkir di zona merah pada level Rp17.735 per dolar AS, melemah signifikan dibandingkan posisi penutupan hari sebelumnya.

Sentimen Hawkish The Fed Memperkuat Dolar AS

Kenaikan suku bunga oleh The Fed menegaskan komitmen otoritas moneter AS untuk mempertahankan rezim suku bunga tinggi lebih lama (higher for longer). Sikap hawkish ini secara instan melambungkan indeks dolar AS (DXY) ke atas level 105, menekan hampir seluruh mata uang utama Asia.

"Kombinasi antara kenaikan suku bunga The Fed dan ketidakpastian geopolitik global membuat investor global berbondong-bondong mengamankan modalnya ke aset safe haven, terutama US Treasury dan instrumen dolar AS lainnya," ungkap analis pasar uang di Jakarta.

Langkah Antisipasi dan Intervensi Bank Indonesia

Menghadapi volatilitas kurs yang kian tajam, Bank Indonesia (BI) menegaskan kesiapannya untuk menjaga stabilitas nilai tukar melalui bauran kebijakan moneter triple intervention. Strategi ini difokuskan pada:

  • Intervensi Pasar Spot: Memastikan ketersediaan likuiditas valuta asing secara langsung di pasar valas domestik.
  • Pasar Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF): Mengurangi tekanan spekulasi terhadap rupiah di pasar berjangka.
  • Pembelian SBN di Pasar Sekunder: Menjaga stabilitas pasar obligasi negara dari aksi jual masif investor asing.
  • Optimalisasi SRBI: Memaksimalkan penyerapan likuiditas melalui Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dengan imbal hasil kompetitif guna menarik aliran modal masuk.

Dampak Terhadap Sektor Riil dan Impor

Depresiasi rupiah hingga menembus angka Rp17.735 per dolar AS memicu kekhawatiran terkait fenomena imported inflation. Biaya impor bahan baku industri, energi, serta beban pembayaran utang luar negeri berpotensi membengkak jika tren pelemahan ini berlangsung berkepanjangan.

Pelaku usaha manufaktur dan importir diimbau segera melakukan lindung nilai (hedging) guna memitigasi risiko kerugian kurs yang lebih besar dalam beberapa bulan mendatang.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS pandu-rangga

Reporter Bencana. Spesialisasi mitigasi bencana dan tanggap darurat.

Comments (0)

User