Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mengalami pelemahan signifikan hingga menyentuh level Rp17.700 per dolar AS pada penutupan perdagangan pasar spot. Tekanan berat ini dipicu oleh sikap kehati-hatian para pelaku pasar yang dilanda kecemasan menjelang rilis kebijakan suku bunga acuan terbaru dari bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve (The Fed).
Kondisi pasar keuangan domestik maupun regional terpantau bergerak defensif. Para investor global cenderung menarik dana dari aset-aset berisiko di negara berkembang dan mengalihkannya kembali ke aset likuid berdenominasi dolar AS demi menghindari potensi volatilitas tinggi.
Kronologi Tekanan Rupiah Sepanjang Hari Perdagangan
Berdasarkan pantauan aktivitas transaksi valuta asing di pasar uang, depresiasi rupiah terjadi secara bertahap seiring meningkatnya aksi jual aset portofolio:
- Sesi Pagi (09.00 WIB): Rupiah dibuka langsung melemah di posisi Rp17.620 per dolar AS, tertekan oleh penguatan indeks dolar AS (DXY) di pasar Asia.
- Sesi Siang (12.00 WIB): Tekanan berlanjut seiring aksi wait and see para pelaku pasar modal dan obligasi, menyeret rupiah menembus level psikologis baru di Rp17.675 per dolar AS.
- Sesi Sore (15.30 WIB): Memasuki penutupan perdagangan, arus modal keluar (capital outflow) semakin deras hingga menempatkan rupiah di level terlemahnya hari ini pada angka Rp17.700 per dolar AS.
"Pelaku pasar sedang diliputi kecemasan luar biasa menanti arah kebijakan moneter The Fed. Ketidakpastian mengenai kapan pemangkasan suku bunga benar-benar dimulai membuat dolar AS kembali diburu sebagai aset lindung nilai utama," ujar pengamat pasar uang dalam keterangannya.
Faktor Utama Pemicu Pelemahan Rupiah
Ada sejumlah faktor fundamental dan sentimen global yang membebani pergerakan mata uang Garuda, di antaranya:
- Sinyal Hawkish The Fed: Ekspektasi bahwa suku bunga AS akan bertahan tinggi lebih lama (higher for longer) menekan mata uang negara berkembang.
- Kenaikan Imbal Hasil US Treasury: Yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun kembali menanjak, menarik aliran modal global keluar dari pasar obligasi Indonesia.
- Defisit Neraca Pembayaran: Permintaan valas korporasi untuk pembayaran dividen dan utang luar negeri musiman turut menambah beban permintaan dolar di dalam negeri.
Langkah Intervensi Bank Indonesia
Menghadapi pelemahan tajam ini, Bank Indonesia (BI) terus mengoptimalkan bauran strategi stabilisasi nilai tukar. BI aktif melakukan intervensi melalui transaksi triple intervention di pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), serta pasar Surat Berharga Negara (SBN).
Selain itu, instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) terus dioptimalkan dengan menawarkan imbal hasil kompetitif guna menarik aliran masuk modal asing (inflow) serta menjaga cadangan devisa agar tetap kuat menopang stabilitas perekonomian nasional.
Comments (0)