Sep 19, 2026
Hukum

Rupiah Melemah ke Rp17.547 Akibat Lonjakan Minyak dan Konflik Geopolitik

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terpaksa berbalik arah dan ditutup melemah pada perdagangan hari ini. Pergerakan negatif ini sekalig

Rupiah Melemah ke Rp17.547 Akibat Lonjakan Minyak dan Konflik Geopolitik

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terpaksa berbalik arah dan ditutup melemah pada perdagangan hari ini. Pergerakan negatif ini sekaligus menghentikan tren penguatan signifikan yang sempat terjadi selama dua hari berturut-turut di pasar spot valuta asing.

Berdasarkan pantauan data pasar keuangan Bloomberg, mata uang Garuda sudah menunjukkan tren tertekan sejak pembukaan pasar hingga akhir sesi perdagangan sore hari. Rupiah ditutup melemah sebesar 0,21 persen atau terkoreksi 36 poin ke level Rp17.547 per dolar AS, setelah pada penutupan perdagangan hari sebelumnya sempat bertahan di posisi Rp17.511 per dolar AS.

Eskalasi Konflik Timur Tengah Dongkrak Harga Minyak

Pelemahan nilai tukar domestik kali ini sangat dipengaruhi oleh kombinasi faktor eksternal, terutama melambungnya harga komoditas energi dunia dan meningkatnya eskalasi perang di kawasan Timur Tengah. Dinamika ini memicu kekhawatiran global terhadap keberlanjutan pasokan energi internasional.

Analis Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa ketegangan geopolitik yang bermula dari saling serang antara AS dan Iran kini kian meluas hingga melibatkan friksi antara kelompok Houthi di Yaman dan Arab Saudi. Situasi ini langsung mendorong kenaikan harga minyak mentah secara tajam di pasar internasional.

“Presiden AS Donald Trump mengatakan kepada para wartawan bahwa perang dengan Iran akan berakhir setelah pemilihan umum sela pada bulan November. Namun, sebuah laporan di Wall Street Journal mengungkapkan kemungkinan perang berlanjut hingga sisa masa jabatan Trump,” ujar Ibrahim dalam analisis pasar resminya.

Ketidakpastian politik luar negeri AS ini dinilai semakin memperpanjang volatilitas pasar energi, mengingat potensi gangguan distribusi minyak mentah di kawasan Teluk tetap terbuka lebar selama konflik belum mereda.

Antisipasi Rilis Data Inflasi dan PPI Amerika Serikat

Selain sentimen geopolitik dan energi, para pelaku pasar keuangan global saat ini terpantau mengambil sikap wait and see. Investor cenderung menahan diri menjelang rilis indikator ekonomi penting dari Negeri Paman Sam yang diperkirakan memengaruhi arah kebijakan suku bunga acuan bank sentral.

Beberapa sentimen utama yang saat ini menjadi fokus pelaku pasar meliputi:

  • Rilis Data Indeks Harga Produsen (PPI) AS: Menjadi indikator awal tekanan inflasi dari sisi input produksi.
  • Rilis Data Indeks Harga Konsumen (CPI) AS: Menentukan prospek daya beli konsumen serta arah kebijakan moneter The Fed.
  • Kenaikan Beban Impor Energi: Lonjakan harga minyak mentah meningkatkan kebutuhan devisa impor nasional, sehingga memberi tekanan tambahan pada neraca transaksi berjalan domestik.

Kondisi inflasi AS yang berpotensi tetap tinggi membuat dolar AS kembali diburu sebagai aset lindung nilai (safe haven). Hal ini secara langsung menekan mata uang negara berkembang, termasuk nilai tukar rupiah yang rentan terhadap arus modal keluar jangka pendek.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS yoga-mahendra

Editor Breaking News. Mantan assignment editor TV nasional.

Comments (0)

User