RSUD Tuan Besar Syarif Idrus Kubu Raya Perkuat Akses Disabilitas
Kubu Raya, Kalimantan Barat — Di tengah hamparan lahan gambut dan sungai-sungai yang membelah Kabupaten Kubu Raya, berdiri sebuah rumah sakit yang kini men
Kubu Raya, Kalimantan Barat — Di tengah hamparan lahan gambut dan sungai-sungai yang membelah Kabupaten Kubu Raya, berdiri sebuah rumah sakit yang kini menjadi simbol perubahan. RSUD Tuan Besar Syarif Idrus, yang sebelumnya dikenal sebagai fasilitas kesehatan terpencil dengan keterbatasan sarana, berbenah lewat Program Quick Win yang digulirkan pemerintah daerah. Pada Jumat (6/2/2026), tim Liputan6.com menyaksikan langsung bagaimana rumah sakit ini mengubah wajahnya menjadi lebih ramah bagi penyandang disabilitas.
Program Quick Win sendiri merupakan inisiatif percepatan pembangunan di daerah yang memprioritaskan sektor kesehatan dan pendidikan. Di Kubu Raya, program ini menyentuh langsung RSUD Tuan Besar Syarif Idrus dengan fokus utama peningkatan aksesibilitas bagi pasien difabel. Transformasi ini tidak hanya menjawab kebutuhan lokal, tetapi juga menjadi tonggak penting dalam pemerataan layanan kesehatan di wilayah 3T (terdepan, terpencil, tertinggal).
Infrastruktur Baru yang Mengubah Lanskap Layanan
Saat memasuki area rumah sakit, pengunjung langsung disambut oleh ramp landai dengan pegangan rambat di kedua sisi yang menghubungkan area parkir hingga lobi utama. Jalur pemandu bertekstur kuning membentang dari pintu gerbang menuju ruang pendaftaran, poliklinik, dan ruang perawatan. Ini adalah guiding block pertama yang dipasang di fasilitas kesehatan publik di Kalimantan Barat, sebuah lompatan besar bagi rumah sakit yang dulunya hanya mengandalkan jalan setapak semen biasa.
Di area dalam, tersedia tiga unit toilet khusus disabilitas dengan pintu geser otomatis dan kloset duduk yang dilengkapi alarm darurat. Setiap toilet juga memiliki ruang manuver kursi roda berdiameter minimal 1,5 meter, sesuai standar Kementerian PUPR. Tidak hanya itu, meja pendaftaran kini memiliki loket rendah yang bisa diakses langsung oleh pengguna kursi roda.
Pelayanan Tak Sekadar Ramah Fisik
Direktur RSUD Tuan Besar Syarif Idrus, dr. Haryanto Putra, menegaskan bahwa akses disabilitas tidak berhenti pada fisik bangunan. Dalam wawancara di sela peninjauan, ia mengatakan:
“Kami melatih 40 tenaga medis dan staf administrasi untuk memahami bahasa isyarat dasar serta teknik pendampingan pasien netra. Ruang konseling juga dilengkapi alat bantu dengar dan papan informasi Braille. Ini wujud nyata komitmen kami agar tidak ada warga Kubu Raya yang merasa terkucilkan saat berobat.”
Pelatihan tersebut merupakan bagian dari kerja sama dengan Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni) cabang Kalimantan Barat dan komunitas tuli setempat. Hasilnya, dalam dua bulan terakhir, tidak ada keluhan terkait diskriminasi akses dari pasien difabel—sebuah pencapaian signifikan mengingat sebelumnya rata-rata ada tiga aduan per bulan.
Angka dan Fakta: Dampak Nyata Program Quick Win
Untuk melihat perubahan secara terukur, berikut perbandingan beberapa indikator sebelum dan sesudah implementasi program:
| Indikator | Sebelum Quick Win (2025) | Sesudah Quick Win (2026) |
|---|---|---|
| Jumlah ramp aksesibel | 2 (hanya di UGD) | 9 (seluruh gedung) |
| Toilet disabilitas | 0 | 3 unit + 2 sedang dibangun |
| Jalur pemandu (guiding block) | Tidak ada | Total 120 meter |
| Staf terlatih bahasa isyarat | 0 | 40 orang |
| Pasien difabel terlayani/bulan | 25-30 | 55-70 (naik 100%) |
Data di atas menunjukkan lonjakan pasien difabel yang datang ke RSUD Tuan Besar Syarif Idrus. Menurut dr. Haryanto, ini bukan karena jumlah difabel di Kubu Raya bertambah, melainkan karena mereka kini merasa lebih percaya diri untuk mengakses layanan kesehatan formal.
Tantangan Geografis dan Solusi Jemput Bola
Meski fasilitas di dalam rumah sakit makin inklusif, tantangan terbesar tetap berada di luar pagar. Kubu Raya memiliki 16 desa yang terpisah sungai dan rawa. Warga difabel di dusun terpencil sering kali kesulitan mencapai rumah sakit. Untuk itu, RSUD menggandeng Dinas Perhubungan menyediakan ambulans air ramah disabilitas—sebuah perahu bermotor yang dilengkapi tandu hidrolik dan kursi roda lipat. Layanan ini beroperasi dua kali seminggu di tiga rute sungai utama.
Kepala Desa Sungai Deras, Mursyid, mengapresiasi langkah ini. “Dulu ibu saya yang lumpuh harus digendong naik sampan selama dua jam. Sekarang, ambulans air bisa menjemput langsung dari depan rumah,” katanya haru.
Model bagi RS Terpencil Lain
Kesuksesan RSUD Tuan Besar Syarif Idrus menarik perhatian Kementerian Kesehatan. Rumah sakit ini direncanakan menjadi model nasional untuk pengembangan rumah sakit inklusif di daerah 3T. Tim dari Direktorat Fasilitas Pelayanan Kesehatan akan melakukan studi tiru pada Maret mendatang. Jika replikasi berjalan lancar, sekitar 120 rumah sakit terpencil di seluruh Indonesia bisa mengadopsi paket kebijakan serupa dalam dua tahun ke depan.
Ke depan, manajemen RSUD berkomitmen menambah layanan telemedicine dengan antarmuka suara dan teks untuk pasien sensorik, serta membangun pusat rehabilitasi terpadu. “Kami ingin rumah sakit ini menjadi rumah bagi semua,” pungkas dr. Haryanto.
[SOCIAL_TWEET]: RSUD Tuan Besar Syarif Idrus Kubu Raya sulap diri jadi RS ramah disabilitas. Ramp, guiding block, toilet khusus, hingga ambulans air untuk warga difabel di desa terpencil kini tersedia. 🏥💪 #AksesDisabilitas #QuickWinKubuRaya #IndonesiaInklusif[SOCIAL_TG]: 🔹 RSUD Kubu Raya resmi jadi RS ramah disabilitas lewat Program Quick Win. ✨ Fasilitas baru: 9 ramp, 3 toilet khusus, guiding block 120 meter. 🚤 Ambulans air juga tersedia untuk desa terpencil. Cek selengkapnya!
Comments (0)