Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kian meningkat seiring berlangsungnya puncak musim kemarau di berbagai wilayah Indonesia. Mengantisipasi potensi bencana tersebut, PT Surya Hutani Jaya (SHJ) mengambil langkah proaktif dengan memperketat pengawasan wilayah konsesi melalui peningkatan intensitas patroli malam serta penerapan sistem mandah bagi personel di lapangan.
Langkah mitigasi ini dirancang guna memangkas jeda waktu respons (response time) sejak titik panas (hotspot) pertama kali terdeteksi hingga upaya pemadaman awal dilakukan. Dengan menempatkan personel langsung di kantong-kantong rawan, perusahaan berupaya memastikan tidak ada percikan api yang luput dari pantauan dan berkembang menjadi kebakaran skala besar.
Optimalisasi Sistem Mandah di Titik Rawan
Dalam praktiknya, sistem mandah merupakan skema operasional di mana tim pemantau mendirikan posko lapangan atau berkemah sementara di area yang dinilai memiliki kerentanan tinggi terhadap kebakaran. Pendekatan ini efektif mengatasi kendala jarak tempuh yang kerap memperlambat mobilisasi regu darurat.
"Sistem mandah menjadi terobosan penting untuk mempercepat penanganan kebakaran di titik-titik krusial. Keberadaan tim yang siaga langsung di tapak memangkas risiko api meluas tanpa kendali," ungkap perwakilan manajemen operasional perusahaan.
Melalui sistem ini, petugas tidak hanya bersiaga, tetapi juga melakukan pemantauan visual berkala pada jam-jam kritis. Pengawasan intensif difokuskan pada bentang lahan kering, kawasan gambut, serta area perbatasan konsesi yang bersinggungan langsung dengan aktivitas manusia.
Patroli Malam dan Kesiapsiagaan 24 Jam
Selain penempatan posko mandah, PT SHJ turut mengaktifkan patroli malam yang digerakkan secara bergilir oleh Regu Pemadam Kebakaran (RPK). Patroli pada malam hingga dini hari dipandang esensial karena pada waktu-waktu tersebut aktivitas pembakaran ilegal kerap terjadi secara sembunyi-sembunyi.
Personel RPK dibekali dengan sarana deteksi mutakhir, seperti perangkat radio komunikasi terintegrasi, senter berkekuatan tinggi, hingga pemantauan udara berbasis drone thermal untuk mendeteksi anomali suhu tanah di tengah kegelapan.
Perbandingan Efektivitas Respons Karhutla
Penerapan strategi preventif terpadu ini menunjukkan perbedaan signifikan dalam kecepatan deteksi dan respons awal jika dibandingkan dengan pola pengawasan konvensional:
| Parameter Operasional | Metode Konvensional | Sistem Mandah & Patroli Malam |
|---|---|---|
| Waktu Tanggap (Response Time) | 60 – 120 menit (bergantung jarak) | Kurang dari 15 menit |
| Durasi Pemantauan Lapangan | Hanya jam kerja siang hari | Siaga penuh 24 jam nonstop |
| Cakupan Pengawasan Malam | Terbatas pada pos statis | Patroli bergerak menyisir titik rawan |
Sinergi Berkelanjutan Bersama Masyarakat
Upaya deteksi dini yang digalakkan PT SHJ turut melibatkan kolaborasi erat dengan Masyarakat Peduli Api (MPA) dan instansi pemerintah terkait. Edukasi larangan membuka lahan dengan cara membakar terus disosialisasikan demi menjaga kelestarian lingkungan secara berkelanjutan.
- Pencegahan Aktif: Patroli darat terkoordinasi bersama warga lokal di sekitar konsesi.
- Kesiapan Armada: Pengecekan rutin pompa air, tangki pasokan, dan sekat bakar.
- Pemantauan Digital: Pemanfaatan data satelit untuk memverifikasi titik api secara real-time.
Comments (0)