Produksi Kedelai RI Cuma 8 Persen dari Kebutuhan, Impor Membeludak
JAKARTA — Ketergantungan Indonesia pada kedelai impor masih sangat akut. Data terbaru pemerintah menunjukkan produksi dalam negeri hanya mampu menutupi 8,14 persen dari total kebutuhan nasional yang...
JAKARTA — Ketergantungan Indonesia pada kedelai impor masih sangat akut. Data terbaru pemerintah menunjukkan produksi dalam negeri hanya mampu menutupi 8,14 persen dari total kebutuhan nasional yang mencapai 2,62 juta ton per tahun. Artinya, lebih dari 90 persen pasokan berasal dari luar negeri.
Fakta Kunci
- Produksi 2025: 78.693 ton — merosot sejalan penyusutan luas panen 11,68 persen ke 137 ribu hektare.
- Produksi 2026 (hingga Mei): baru 7.691 ton, sangat timpang terhadap target.
- Kebutuhan total nasional: rata-rata 2.620.294 ton per tahun.
- Kekurangan pasokan: sekitar 2,43 juta ton yang dipenuhi lewat impor.
- Industri tahu-tempe-kecap: menyerap 95,68 persen dari total konsumsi kedelai nasional.
Pemerintah mengakui ketimpangan ini masih jauh dari kata aman. Rata-rata pertumbuhan produksi kedelai memang mencatatkan angka 11,4 persen dalam beberapa tahun terakhir, tetapi lonjakan itu belum cukup untuk mengejar selisih raksasa antara panen lokal dan permintaan pasar.
Luas tanam yang kini tersebar dari Sumatera hingga Papua pun belum mampu membalikkan tren defisit. Anjloknya area panen pada 2025 menjadi pukulan telak yang membuat kapasitas produksi domestik kian tertinggal. Sementara itu, konsumsi industri tahu, tempe, dan kecap terus melaju tanpa henti.
Untuk mengejar swasembada, sejumlah langkah percepatan disiapkan. Pemerintah berencana memperluas lahan, menyediakan benih unggul, memperkuat irigasi, serta menggenjot pendampingan petani. Paket kebijakan itu juga mencakup kepastian pasar dan hilirisasi agar petani tidak lagi ragu menanam kedelai.
Namun, di tengah ambisi besar itu, realitas di lapangan berbicara lain. Pada saat yang sama, Indonesia masih harus mengimpor lebih dari 2 juta ton per tahun untuk menjaga dapur industri tetap mengepul. Ketahanan pangan nasional pun kembali dipertanyakan.
Comments (0)