Pro Mega Mewarnai Peringatan 30 Tahun Kudatuli, Ini Maknanya
BARU SAJA: Peringatan 30 tahun Tragedi Kudatuli di Kantor DPP PDIP, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (27/7) diwarnai pemandangan mencolok. Sejumlah kader dan petinggi partai kompak mengenakan atribut ber...
BARU SAJA: Peringatan 30 tahun Tragedi Kudatuli di Kantor DPP PDIP, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (27/7) diwarnai pemandangan mencolok. Sejumlah kader dan petinggi partai kompak mengenakan atribut bertuliskan "Pro Mega". Ikat kepala dan kemeja dengan slogan itu menjadi penanda visual yang kuat dalam acara tersebut.
Ketua DPP PDIP M. Prananda Prabowo terlihat mengenakan kemeja "Pro Mega", sementara fungsionaris lain memakai ikat kepala serupa. Bukan sekadar gaya, atribut ini ternyata menyimpan sejarah panjang.
Makna di Balik "Pro Mega"
Andreas Hugo Pareira, Ketua DPP PDIP Bidang Keanggotaan dan Organisasi, mengonfirmasi bahwa penggunaan atribut ini bukanlah simbol gerakan baru. Ini adalah penghormatan kepada massa militan pendukung Megawati Soekarnoputri yang muncul pada pertengahan 1990-an. Kelompok yang dikenal sebagai PDI Pro Mega itu lahir setelah Kongres Luar Biasa PDI 1993 di Surabaya.
"Mereka adalah basis akar rumput yang dengan gagah berani melawan rezim Orde Baru," jelas Andreas. Kelompok ini menjadi tulang punggung perlawanan terhadap pemerintahan Soeharto.
Kudatuli: Puncak Tekanan, Bukti Ketahanan
Tragedi Kudatuli pada 27 Juli 1996 menjadi puncak represi terhadap pendukung Megawati. Namun, peristiwa itu justru menunjukkan daya tahan gerakan Pro Mega. Andreas menegaskan bahwa peristiwa tersebut adalah bukti kezaliman Orde Baru sekaligus katalis perubahan.
Setelah Kudatuli, gerakan ini terus membara dan menjadi salah satu pendorong lahirnya Reformasi 1998 yang menumbangkan Soeharto. Pro Mega kemudian bertransformasi menjadi cikal bakal PDI Perjuangan, partai yang memenangkan Pemilu 1999.
Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri, hadir langsung dalam acara yang juga meresmikan Monumen Kudatuli. Kehadirannya semakin memperkuat makna simbol "Pro Mega" yang dikenakan para kader.
Monumen Kudatuli di Kantor DPP PDIP menjadi penanda permanen dari peristiwa berdarah itu. Sementara atribut "Pro Mega" menjadi pengingat bergerak yang menghubungkan generasi baru kader dengan akar sejarah partai.
Andreas menekankan bahwa semangat Pro Mega adalah semangat perlawanan rakyat kecil yang terorganisir. "Mereka bukan sekadar pendukung, tapi pejuang yang mempertaruhkan nyawa," imbuhnya. Hal ini relevan dengan posisi PDIP saat ini sebagai partai yang mengklaim diri sebagai representasi wong cilik.
Comments (0)