Prabowo: Pemimpin yang Menganjurkan Pembakaran Adalah Pengkhianat
JAKARTA — BARU SAJA, Menteri Pertahanan Prabowo Subianto melontarkan kecaman keras terhadap pemimpin yang menghasut aksi pembakaran saat mengalami kekalahan dalam pemilihan umum. Ia menyebut sosok s...
JAKARTA — BARU SAJA, Menteri Pertahanan Prabowo Subianto melontarkan kecaman keras terhadap pemimpin yang menghasut aksi pembakaran saat mengalami kekalahan dalam pemilihan umum. Ia menyebut sosok semacam itu sebagai pengkhianat terhadap bangsa dan negara.
Pernyataan di Forum Kebangsaan
Dalam acara Silaturahmi Nasional di Jakarta, Sabtu kemarin, Prabowo menyampaikan bahwa demokrasi Indonesia sedang diuji oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. "Ketika hasil pemilu tidak berpihak, mereka justru mengajak masyarakat untuk membakar fasilitas publik. Itu tindakan pengkhianatan," ujarnya dengan nada tegas.
Prabowo menegaskan bahwa pemimpin sejati harus menerima kemenangan dan kekalahan dengan lapang dada. "Menghasut rakyat untuk melakukan pembakaran dan perusakan adalah ciri pemimpin yang tidak berjiwa demokratis. Mereka adalah pengkhianat," imbuhnya.
Fakta Kunci
- Sasaran Kecaman: Pemimpin yang menganjurkan pembakaran pasca-kekalahan pemilu.
- Sebutan: Pengkhianat bangsa.
- Lokasi Pernyataan: Forum Silaturahmi Nasional, Jakarta.
- Waktu: Akhir pekan ini.
- Respons Publik: Mayoritas dukungan, sebagian kritik.
Pakar hukum tata negara menilai, pernyataan Prabowo ini memiliki dasar hukum yang kuat karena menghasut kerusuhan termasuk tindakan makar.
Konteks Perpolitikan
Pernyataan ini muncul di tengah memanasnya suhu politik menjelang pemilu. Aksi pembakaran dan kerusuhan pasca-pemilu di masa lalu masih membekas. Prabowo mengingatkan bahwa kerugian terbesar selalu ditanggung oleh rakyat kecil. "Jangan sampai sejarah kelam terulang karena hasutan segelintir orang yang hanya memikirkan kepentingan pribadi," paparnya.
Beberapa kali, provokasi pasca-pemilu berujung pada kerusuhan yang memakan korban jiwa, seperti kasus 1998 dan 2019. Namun, data BIN menunjukkan potensi serupa masih ada jika elite politik tidak menahan diri.
Dukungan dan Kontra
Sejumlah tokoh masyarakat dan organisasi keagamaan menyambut positif pernyataan ini. Mereka menilai, peringatan dini ini penting untuk menjaga stabilitas nasional. Di sisi lain, ada pula yang meminta agar penegakan hukum dilakukan tanpa tebang pilih. "Kita perlu konkret, bukan sekadar wacana," kritik seorang aktivis.
Ketua MUI setempat mendukung pernyataan ini dan meminta fatwa tentang haramnya aksi bakar-bakar yang merugikan umat.
Kronologi Pernyataan
Acara yang dihadiri ratusan peserta dari berbagai elemen ini menjadi panggung Prabowo untuk menyampaikan pandangannya. Awalnya ia berbicara tentang pentingnya persatuan, lalu tiba-tiba mengangkat isu soal pemimpin yang sering menghasut jika kalah. "Saya katakan tegas, mereka itu pengkhianat. Tidak bisa ditoleransi," cetusnya yang langsung disambut tepuk tangan hadirin.
Penekanan pada Keamanan
Prabowo, yang juga mantan Danjen Kopassus, menekankan bahwa keamanan nasional adalah harga mati. "Pemerintah tidak akan ragu menindak tegas siapa pun yang mencoba memecah belah bangsa dengan cara-cara membakar dan merusak," ujarnya. Ia meminta seluruh elemen untuk waspada terhadap provokasi yang dapat merusak sendi-sendi demokrasi.
Refleksi Demokrasi
Di akhir pidatonya, Prabowo mengajak semua pihak untuk menjadikan pemilu sebagai pesta demokrasi yang riang gembira, bukan ajang adu domba. "Kita tunjukkan pada dunia bahwa Indonesia adalah bangsa yang dewasa dalam berdemokrasi. Jangan ada lagi istilah 'pemimpin pengkhianat'," tutupnya dengan harapan.
Pernyataan ini juga viral di media sosial dengan tagar #PengkhianatBangsa menjadi trending topic. Netizen banyak yang mengaitkan dengan tokoh tertentu, namun Prabowo enggan menyebut nama.
Artikel ini ditulis berdasarkan pernyataan resmi dan laporan saksi mata di lokasi.
Baca juga:
Comments (0)