Potret Trump Bertemu Pemimpin NATO, Akui Frustrasi Karena Tidak Didukung Serang Iran

WASHINGTON — Mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, secara terbuka melontarkan kekecewaannya terhadap aliansi militer Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) yang dianggapnya tidak memberika

Jul 06, 2026 - 13:45
0 0
Potret Trump Bertemu Pemimpin NATO, Akui Frustrasi Karena Tidak Didukung Serang Iran

WASHINGTON — Mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, secara terbuka melontarkan kekecewaannya terhadap aliansi militer Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) yang dianggapnya tidak memberikan dukungan signifikan dalam rencana penyerangan terhadap Iran. Pernyataan kontroversial ini disampaikan Trump dalam sebuah pertemuan tatap muka dengan Sekretaris Jenderal NATO, Mark Rutte, yang tengah menjadi sorotan media internasional.

Berdasarkan laporan yang dihimpun redaksi Beritatercepat.com dari sejumlah sumber diplomatik, pertemuan tersebut berlangsung di tengah meningkatnya tensi geopolitik terkait polemik program nuklir Teheran. Dalam kesempatan itu, Trump tidak menutupi rasa frustrasinya lantaran negara-negara anggota NATO tak kunjung mengirimkan sinyal bantuan militer yang konkret ketika dirinya masih menjabat sebagai Presiden ke-45 AS.

Trump menyayangkan sikap lamban dari para sekutu Eropa yang dinilainya hanya menjadi “penonton” di saat Washington membutuhkan solidaritas penuh untuk membendung ambisi Iran di Timur Tengah. Ia menekankan bahwa operasi militer yang dirancangnya saat itu membutuhkan koalisi yang solid, namun justru tidak mendapatkan respons sesuai harapan dari Brussel.

Kritik Pedas di Depan Mark Rutte

Dalam dialog yang berlangsung cukup intens tersebut, Trump menyebut NATO sebagai organisasi yang kerap kali membebani anggaran Amerika Serikat tanpa memberikan kontribusi setimpal dalam aksi ofensif strategis. Sumber internal yang enggan disebutkan identitasnya kepada media kami menirukan pernyataan keras Trump kepada Rutte.

“Kami sudah menghabiskan triliunan dolar untuk melindungi mereka, tapi saat kami ingin menyerang Iran, tidak ada satu pun anggota besar NATO yang mau ikut serta. Itu sangat mengecewakan,” ujar Trump seperti dilansir media kami, Kamis (24/4/2026).

Pernyataan itu dipercaya menjadi sinyal kuat bahwa hubungan transatlantik masih dihantui oleh trauma era kebijakan “America First” yang membuat banyak sekutu tradisional AS merasa tersisih. Trump dengan tegas mengkritik ketidakberanian negara-negara Eropa untuk mengambil risiko politik ketika berhadapan dengan ancaman langsung terhadap kepentingan AS.p>

Di sisi lain, Mark Rutte selaku pemimpin baru NATO disebut mencoba meredakan ketegangan dengan menjelaskan prinsip-prinsip pertahanan kolektif yang diatur dalam Pasal 5. Namun, upaya diplomatik Rutte tersebut tampaknya belum mampu melunakkan penilaian keras Trump terhadap efektivitas aliansi tersebut dalam menghadapi ancaman non-konvensional di luar kawasan Atlantik Utara.

Tidak Minta Invasi, Hanya Dukungan Operasional

Meski mengaku kecewa, Trump menekankan bahwa dirinya tidak pernah meminta NATO untuk mengerahkan pasukan darat dalam jumlah besar ke Teluk Persia. Ia hanya menginginkan bantuan logistik, pengintaian udara, dan dukungan politik agar operasi yang digelar terlihat sebagai aksi multilateral yang sah dan bukan sekadar aksi unilateral Amerika Serikat.

Lebih lanjut, Trump menyebut bahwa sejumlah pemimpin Eropa saat itu justru sibuk melakukan negosiasi dagang dengan Teheran di balik layar, sehingga menggagalkan solidaritas aliansi. Sikap ini dinilai Trump sebagai bentuk pengkhianatan diplomatik yang membuat posisi tawar Washington di Timur Tengah melemah secara drastis.

Pertemuan antara Trump dan Rutte ini memicu diskusi panas di kalangan analis pertahanan global. Banyak pihak menilai bahwa pengakuan Trump tersebut membuka kembali lembaran kelam sejarah hubungan AS dengan para sekutunya yang sempat retak, khususnya menyangkut ketidakpercayaan terhadap sistem pengambilan keputusan kolektif di NATO.

Bagi para pendukungnya, pernyataan ini adalah bukti bahwa Trump adalah pemimpin yang berani membela kepentingan negaranya tanpa tedeng aling-aling. Sementara bagi para kritikus, pernyataan itu justru dianggap berbahaya karena berpotensi merusak arsitektur pertahanan kolektif yang telah dibangun sejak puluhan tahun lalu. Hingga berita ini diturunkan oleh Beritatercepat.com, belum ada pernyataan resmi lebih lanjut dari kubu Donald Trump atau pihak Sekjen NATO Mark Rutte terkait detail isi pertemuan tertutup tersebut.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
fitri-handayani

Reporter Lapangan. Reporter lapangan peristiwa terkini.

Comments (0)

User