Sep 17, 2026
Maluku

Porter Pelabuhan Ambon Bertaruh Nyawa Berebut Muatan Penumpang Kapal

Suasana hiruk-pikuk dan ketegangan fisik mewarnai aktivitas dermaga Pelabuhan Yos Sudarso Ambon, Maluku, setiap kali kapal penumpang milik PT Pelni bersand

Porter Pelabuhan Ambon Bertaruh Nyawa Berebut Muatan Penumpang Kapal

Suasana hiruk-pikuk dan ketegangan fisik mewarnai aktivitas dermaga Pelabuhan Yos Sudarso Ambon, Maluku, setiap kali kapal penumpang milik PT Pelni bersandar. Ratusan buruh angkut barang atau porter pelabuhan rela mempertaruhkan keselamatan jiwa, memanjat tangga kapal yang curam hingga melompat sebelum tali tambat terikat sempurna, demi mendapatkan pelanggan yang membawa barang bawaan banyak.

Pemandangan ekstrem ini menjadi rutinitas harian yang mencerminkan kerasnya perjuangan hidup sektor informal di kawasan Indonesia Timur. Di tengah minimnya lapangan kerja formal, profesi tenaga bongkar muat penumpang menjadi gantungan hidup utama bagi ratusan kepala keluarga di Kota Ambon.

Kronologi Perebutan Penumpang Saat Kapal Merapat

Aktivitas di dermaga pelabuhan memiliki dinamika waktu yang ketat dan berlangsung cepat. Berikut alur ketegangan para buruh angkut sejak kapal terlihat di teluk:

  1. Pukul 05.30 WIT — Kesiapan di Dermaga: Puluhan hingga ratusan porter berkumpul mengenakan seragam rompi bernomor, memantau posisi kapal KM Dobonsolo atau KM Tidar yang mulai memasuki Teluk Ambon.
  2. Pukul 06.00 WIT — Aksi Menyerbu Pintu Kapal: Begitu kapal mendekat ke dermaga beton dan sebelum tangga turun resmi dibuka untuk penumpang, para porter sudah bersiap di posisi terdekat. Sebagian nekat melompat ke dinding lambung kapal untuk mencuri start.
  3. Pukul 06.15 WIT — Negosiasi Kilat di Selasar Dek: Terjadi tawar-menawar harga di lorong-lorong sempit dek ekonomi. Para buruh langsung memanggul kardus, koper besar, hingga karung komoditas hasil bumi.
  4. Pukul 07.30 WIT — Bongkar Muatan dan Penurunan: Porter menuruni tangga curam dengan beban di pundak mencapai 30 hingga 50 kilogram menuju area terminal keluar.
"Kalau kami menunggu kapal benar-benar berhenti dan tangga resmi dipasang, penumpang sudah habis diambil orang lain. Kami harus cepat naik ke dek atas, meski taruhannya terpeleset jatuh ke laut," ujar La Ode (42), salah satu buruh angkut yang telah bekerja selama belasan tahun di Pelabuhan Ambon.

Tarif Tak Menentu dan Risiko Ketiadaan Asuransi

Pendapatan yang diperoleh para porter tidak sebanding dengan risiko fisik yang mereka hadapi. Upah jasa angkut sepenuhnya bergantung pada kesepakatan lepas tanpa standar tarif resmi dari otoritas pelabuhan.

  • Tarif per Barang: Berkisar antara Rp20.000 hingga Rp50.000 per koli, tergantung bobot serta jarak angkut menuju kendaraan penumpang.
  • Pendapatan Rata-rata: Sekitar Rp100.000 hingga Rp250.000 per kedatangan kapal, yang umumnya hanya singgah dua hingga tiga kali dalam sepekan.
  • Perlindungan Kerja: Mayoritas pekerja angkut mandiri belum terdaftar dalam program jaminan kecelakaan kerja formal seperti BPJS Ketenagakerjaan.

Kerasnya persaingan di pelabuhan menuntut adanya penataan sistem kerja yang lebih manusiawi dan teratur. Tanpa manajemen keselamatan yang ketat dari otoritas pelabuhan dan penyedia jasa transportasi laut, para porter di Ambon akan terus bertaruh nyawa di antara deru mesin kapal dan ombak dermaga demi menyambung hidup.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS fitri-handayani

Reporter Breaking News. Siap siaga 24/7 untuk peristiwa besar.

Comments (0)

User