PKB XLVIII Ditutup, 1,8 Juta Pengunjung Padati Bali
Setelah berlangsung sebulan penuh, Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII resmi ditutup oleh Gubernur Wayan Koster di Taman Budaya, Denpasar, Sabtu malam. Suasana penutupan berlangsung meriah dengan penampi...
Setelah berlangsung sebulan penuh, Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII resmi ditutup oleh Gubernur Wayan Koster di Taman Budaya, Denpasar, Sabtu malam. Suasana penutupan berlangsung meriah dengan penampilan kolosal ribuan seniman. Menurut data panitia, gelaran 30 hari ini berhasil menyedot 1,8 juta pengunjung, melampaui target. “Ini adalah bukti bahwa masyarakat sangat merindukan dan mencintai seni budaya Bali,” ujar Koster.
30 Hari Pesta Rakyat
PKB tahun ini diikuti oleh tidak kurang dari 200 grup kesenian dari berbagai kabupaten/kota, serta delegasi seniman dari luar Bali dan mancanegara. Setiap harinya, panggung terbuka di Taman Budaya dan sejumlah lokasi lain di Denpasar diramaikan oleh pagelaran tari, musik, teater, hingga pameran kerajinan. Puncak acara pada malam penutupan menampilkan fragmen kolaboratif bertajuk “Kerthi Loka” yang menyajikan perpaduan gamelan, tari kontemporer, dan proyeksi visual spektakuler.
Kepadatan pengunjung tidak hanya terjadi di area pertunjukan utama, tetapi juga merambah ke stan-stan kuliner dan kerajinan yang berjejer di sepanjang jalan menuju Taman Budaya. Pedagang kaki lima dan UMKM lokal mengaku omzet mereka melonjak drastis selama festival. “Biasanya sepi, sekarang bisa jualan sampai habis,” ucap salah seorang pedagang makanan khas Bali, yang dagangannya ludes setiap malam.
Magnet Wisata Budaya
Gubernur Koster menekankan PKB bukan sekadar ajang hiburan. Ia menyebut festival ini sebagai etalase budaya yang mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif dan pariwisata berkualitas. “PKB telah membuktikan bahwa Bali tidak hanya indah alamnya, tetapi juga kuat akar budayanya. Ini yang membedakan kita dari destinasi lain,” katanya. Ia pun mengapresiasi seluruh panitia, seniman, dan masyarakat yang telah menyukseskan acara tahunan ini.
Pesta Kesenian Bali pertama kali digelar pada tahun 1979 atas gagasan budayawan dan mantan Gubernur Ida Bagus Mantra. Kini, setelah 48 edisi, PKB tetap menjadi barometer pelestarian seni dan tradisi di tengah arus modernisasi. Edisi tahun 2026 ini menjadi salah satu yang terbesar dalam sejarah, terlihat dari rekor jumlah pengunjung yang dicatat panitia.
Harapan ke Depan
Di akhir sambutannya, Koster berharap PKB ke depan dapat semakin menjadi wadah bagi generasi muda untuk mencintai dan mengembangkan seni warisan leluhur. Ia juga menginstruksikan Dinas Kebudayaan untuk mulai mempersiapkan PKB tahun berikutnya dengan konsep yang lebih segar tanpa meninggalkan pakem tradisi.
Dengan ditutupnya PKB XLVIII, perhatian selanjutnya tertuju pada bagaimana Bali akan mempertahankan dan mengelola minat wisata budaya yang terus meningkat. Festival sekelas PKB dinilai berhasil menjadi instrumen pemulihan pariwisata pascapandemi dan membawa optimisme baru bagi para pelaku seni dan ekonomi kreatif di Bali.
Comments (0)