KUDUS, BARU SAJA — Praktik mengemis dengan cara memaksa di kawasan wisata religi Menara Kudus kembali memicu keresahan. Seorang perempuan berinisial J (40) dilaporkan kerap mendatangi warga dan peziarah, lalu meminta uang dengan nada memaksa. Yang mengejutkan, penghasilannya ditaksir menembus Rp540 ribu dalam sehari.
Informasi ini langsung menjadi perbincangan hangat warga Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Banyak yang tidak menyangka aktivitas meminta-minta bisa menghasilkan uang sebesar itu.
- Pelaku: perempuan inisial J, usia 40 tahun
- Lokasi: kawasan Menara Kudus dan sekitarnya
- Modus: meminta uang dengan cara memaksa
- Sasaran: warga lokal dan peziarah
- Penghasilan: ditaksir Rp540 ribu per hari
Modus Memaksa Bikin Tidak Nyaman
Sejumlah saksi mata menyebut J tidak sekadar duduk menunggu uluran tangan. Ia disebut aktif mendekati targetnya. Ia menghampiri peziarah yang baru turun dari kendaraan. Ia juga menyambangi warga yang melintas di sekitar kompleks makam dan menara.
Jika permintaannya tidak dituruti, J dilaporkan terus membuntuti. Cara ini membuat banyak orang merasa terdesak. Sebagian akhirnya memberi uang hanya agar bisa segera pergi.
"Kasihan kalau tidak dikasih, tapi caranya itu yang bikin tidak enak. Dipegang-pegang tangannya, diikuti terus," ujar seorang warga yang enggan disebut namanya.
Penghasilan Harian Tembus Rp540 Ribu
Dari penelusuran di lapangan, J ditaksir mengantongi rata-rata Rp540 ribu per hari. Angka itu bisa melonjak saat akhir pekan. Kunjungan peziarah biasanya membeludak pada Sabtu dan Minggu.
Jika dihitung sebulan, potensi pendapatannya menembus belasan juta rupiah. Angka itu jauh melampaui upah minimum Kabupaten Kudus. Fakta ini memicu dugaan mengemis telah menjadi profesi, bukan lagi jalan terakhir bertahan hidup.
Sebagai perbandingan, upah minimum kabupaten setempat berada di kisaran Rp2,3 juta per bulan. Artinya, pendapatan J dalam empat sampai lima hari sudah menyamai gaji sebulan pekerja formal.
Fenomena ini bukan hal baru di sejumlah kota. Titik keramaian seperti tempat wisata religi, lampu merah, dan pasar kerap menjadi lahan favorit. Arus uang dari pengunjung yang datang silih berganti menjadi magnet utama.
Peziarah Jadi Sasaran Empuk
Kawasan Menara Kudus setiap hari didatangi ribuan peziarah dari berbagai daerah. Banyak peziarah datang dengan niat beramal. Kondisi ini dimanfaatkan para peminta-minta untuk meraup rupiah.
Seorang pengunjung asal luar kota mengaku dimintai uang lebih dari sekali dalam satu kunjungan. Ia menyebut pengalaman itu mengganggu kekhusyukan berziarah.
"Baru turun dari bus sudah didekati. Belum sampai ke makam, dimintai lagi. Niatnya mau ziarah tenang, jadi tidak fokus," katanya.
Warga Minta Aparat Bertindak
Warga sekitar kini mendesak aparat turun tangan. Mereka meminta penertiban dilakukan secara rutin, bukan hanya sesekali. Keberadaan peminta-minta dinilai merusak citra kawasan wisata religi kebanggaan Kudus.
Praktik meminta-minta di tempat umum sebenarnya bisa dikenai sanksi. Sejumlah daerah memiliki peraturan daerah yang melarang kegiatan tersebut. Pelaku dapat dijaring razia lalu dibawa ke panti sosial untuk pembinaan.
Namun penertiban selama ini dinilai belum efektif. Para peminta-minta kerap kembali ke lokasi semula setelah dilepas. Pola kucing-kucingan dengan petugas pun terus berulang.
Pengamat sosial menilai penanganan tidak bisa hanya mengandalkan razia. Dibutuhkan pembinaan berkelanjutan dan pemberian keterampilan kerja. Tanpa itu, mereka akan kembali ke jalan karena penghasilannya menggiurkan.
UPDATE: Pantauan Terkini
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari instansi terkait mengenai langkah penanganan terhadap J. Warga berharap ada tindakan tegas dalam waktu dekat. Masyarakat yang merasa terganggu diminta melapor kepada petugas terdekat.
Redaksi terus memantau perkembangan di lapangan. Informasi terbaru akan diperbarui pada artikel ini. Simak terus perkembangannya hanya di sini.
Comments (0)