Penalti Kontroversial Warnai Laga Borneo FC vs Madura United
BALIKPAPAN — Wasit Naufal Adya Fairuski mengambil keputusan krusial pada menit ke-72 laga leg kedua semifinal Championship Series BRI Liga 1 2023/2024 anta
BALIKPAPAN — Wasit Naufal Adya Fairuski mengambil keputusan krusial pada menit ke-72 laga leg kedua semifinal Championship Series BRI Liga 1 2023/2024 antara Borneo FC dan Madura United di Stadion Batakan, Minggu (19/5/2024). Sang pengadil lapangan menunjuk titik putih setelah meninjau rekaman Video Assistant Referee (VAR), yang memicu pro dan kontra di kalangan pemain, pelatih, serta suporter. Keputusan itu menjadi salah satu momen paling dibicarakan dalam pertandingan yang berakhir dengan kemenangan tipis tim tuan rumah 2-1 (agregat 3-2 untuk Borneo FC), sekaligus mengantar Pesut Etam ke babak final.
Insiden berawal saat umpan silang dari sisi kanan pertahanan Madura United mengenai tangan pemain belakang Laskar Sape Kerrab, Cleberson, di dalam kotak penalti. Wasit awalnya mengabaikan protes pemain Borneo FC, namun setelah mendapat masukan dari petugas VAR, ia memeriksa monitor di pinggir lapangan selama beberapa saat. Setelah melihat tayangan ulang, Naufal memutuskan memberikan penalti. Eksekutor Borneo FC, David da Silva, sukses menaklukkan kiper lawan dan membawa timnya unggul 1-0 pada menit ke-78. Gol tersebut menjadi pembeda karena Madura United hanya mampu membalas sekali melalui tendangan bebas Raphael Maitimo di menit ke-88, sementara Borneo FC menambah gol kedua melalui Stefano Lilipaly di menit ke-83.
Dampak Keputusan VAR terhadap Jalannya Pertandingan
Keputusan penalti kontroversial ini menjadi sorotan utama karena beberapa alasan. Pertama, posisi tangan Cleberson dianggap tidak wajar oleh sebagian pengamat, namun ada pula yang menyebut lengan pemain tersebut berada dalam posisi alami saat berusaha menahan laju bola. Kedua, VAR baru digunakan di championship series musim ini, sehingga setiap penggunaannya menjadi perhatian publik.
Pelatih Madura United, Mauricio Souza, dengan tegas menyampaikan kekecewaannya dalam konferensi pers usai pertandingan. "Saya tidak melihat itu pelanggaran yang jelas. Tangan pemain saya tidak membuat tubuhnya melebar secara tidak wajar. VAR seharusnya digunakan untuk kesalahan yang jelas dan nyata, bukan untuk situasi yang masih membingungkan. Keputusan ini mengubah arah pertandingan," ujar Souza. Sementara itu, pelatih Borneo FC, Pieter Huistra, membela keputusan wasit: "VAR ada untuk membantu wasit membuat keputusan yang benar. Kami melihat tayangan ulang dan memang tangannya dalam posisi yang seharusnya dihukum. Tim kami layak mendapat penalti."
Opini ahli sepak bola dari lembaga analisis permainan, Andri Syahputra, menilai keputusan tersebut kurang tepat. "Berdasarkan pedoman IFAB, tangan pemain harus dianggap pelanggaran jika membuat tubuhnya secara tidak wajar menjadi lebih besar. Dalam video, lengan Cleberson masih dalam batas normal saat berlari. Saya rasa wasit seharusnya tidak memberikan penalti. Ini adalah contoh subjektivitas dalam penerapan VAR," komentar Andri. Di sisi lain, mantan wasit internasional, Jimmy Napitupulu, berpendapat sebaliknya: "Dari sudut pandang wasit, posisi lengan yang menjauh dari tubuh saat terkena bola sudah cukup untuk dianggap sebagai pelanggaran. Keputusan Naufal dapat dipertahankan."
Perdebatan ini tidak hanya terjadi di lapangan, tetapi juga di media sosial. Tagar #VARkontroversial sempat trending di Twitter Indonesia. Banyak netizen yang mengkritik inkonsistensi penggunaan VAR di Liga 1 sepanjang musim. Beberapa di antaranya membandingkan dengan keputusan serupa di pertandingan lain yang tidak ditinjau kembali.
| Aspek | Keputusan dengan VAR (musim ini) | Keputusan tanpa VAR (musim lalu) |
|---|---|---|
| Jumlah penalti dari insiden tangan | 12 dari 18 insiden yang ditinjau | 5 dari 22 insiden yang terdeteksi |
| Rata-rata waktu tinjauan VAR | 95 detik | Tidak ada VAR |
| Persentase protes wasit | 67% diterima sebagai pelanggaran | 23% dianggap pelanggaran oleh wasit di lapangan |
Data di atas menunjukkan bahwa dengan VAR, jumlah penalti untuk insiden tangan meningkat signifikan, namun juga memicu lebih banyak kontroversi karena subjektivitas interpretasi. Musim lalu, tanpa VAR, wasit cenderung lebih enggan memberikan penalti untuk situasi serupa karena risiko salah keputusan lebih besar.
Dari segi taktik, Madura United yang tertinggal 0-1 setelah penalti harus berani keluar menekan. Namun, serangan balik cepat Borneo FC justru membuat mereka kebobolan gol kedua. Meski berhasil memperkecil ketertinggalan, waktu tidak cukup bagi Laskar Sape Kerrab untuk menyamakan skor. Agregat akhir 3-2 memastikan langkah Borneo FC ke final, menunggu pemenang antara Persib Bandung dan Bali United.
Ke depannya, peran VAR di Liga 1 perlu dievaluasi agar lebih konsisten dan transparan. Komisi Wasit PSSI dapat merilis audio komunikasi antara wasit dan operator VAR untuk meningkatkan kepercayaan publik. Selain itu, pelatihan interpretasi posisi tangan secara seragam bagi seluruh wasit menjadi langkah penting.
[SOCIAL_FB]: Borneo FC sukses membalikkan agregat dan menyingkirkan Madura United di semifinal Championship Series. Namun, penalti hasil tinjauan VAR menjadi perdebatan panas. Simak analisis lengkapnya di Beritatercepat.com. [SOCIAL_THREADS]: Penalti kontroversial menghiasi laga Borneo FC vs Madura United. Apakah VAR sudah digunakan dengan benar? Bagaimana dampaknya terhadap hasil akhir? Cek analisis lengkapnya.
Comments (0)