Sep 17, 2026
Hukum

Pemprov Bali Gelar Utsawa Dharmagita XXXIII Demi Lestarikan Sastra Hindu

DENPASAR — Upaya melestarikan nyanyian suci keagamaan dan sastra lisan di Pulau Dewata terus diperkuat oleh Pemerintah Provinsi Bali. Melalui perhelatan Ut

Pemprov Bali Gelar Utsawa Dharmagita XXXIII Demi Lestarikan Sastra Hindu

DENPASAR — Upaya melestarikan nyanyian suci keagamaan dan sastra lisan di Pulau Dewata terus diperkuat oleh Pemerintah Provinsi Bali. Melalui perhelatan Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026, pemerintah daerah memusatkan ruang pembinaan dan regenerasi seni sastra Hindu yang bertempat di UPTD Taman Budaya Provinsi Bali (Art Center), Denpasar.

Ajang bergengsi yang mengangkat tema 'Dharmagita Atmanam Dharma' ini tidak semata-mata menjadi panggung kompetisi unjuk kebolehan antarkontingen kabupaten/kota, melainkan wahana vital dalam memastikan warisan kidung suci dan nilai-nilai sastra adiluhung tidak tergerus oleh laju modernisasi zaman.

Kronologi Pelaksanaan Utsawa Dharmagita XXXIII

Rangkaian agenda Utsawa Dharmagita tingkat provinsi ini disusun secara sistematis guna memberikan ruang kompetisi yang sehat sekaligus edukatif:

  1. Kamis, 10 September 2026: Tahap persiapan akhir sarana dan prasarana di Gedung Ksirarnawa Taman Budaya Bali, disertai pemantapan teknis seluruh koordinator lomba dari berbagai cabang sastra keagamaan.
  2. Jumat, 11 September 2026: Pembukaan seremonial secara resmi oleh Gubernur Bali Wayan Koster, menandai dimulainya rangkaian perlombaan antargenerasi muda dari sembilan kabupaten/kota se-Bali.
  3. 11 – 16 September 2026: Pelaksanaan aneka perlombaan dharmagita yang mencakup pembacaan Sloka, Palawakya, Kakawin, hingga Kidung tradisi, diakhiri dengan evaluasi dewan juri dan upacara penutupan.

Menjadikan Sastra Suci sebagai Fondasi Kebudayaan

Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Ida Bagus Alit Suryana, menegaskan bahwa seni dharmagita merupakan pilar yang tidak dapat dipisahkan dari tata kehidupan kultural dan spiritual masyarakat Hindu di Bali. Kegiatan pelestarian ini diarahkan langsung menyasar generasi muda agar proses pewarisan nilai berlangsung berkesinambungan.

"Ini merupakan kesempatan yang sangat baik, sangat luar biasa. Bagaimanapun, kita di Bali, kegiatan ini memang salah satu aktivitas kita berkaitan dengan kesusastraan kita di Bali. Sastra itu merupakan sumber dari semua kegiatan budaya yang kita laksanakan di Bali," tutur Ida Bagus Alit Suryana saat ditemui di Gedung Ksirarnawa, Denpasar.

Lebih lanjut, Dinas Kebudayaan memandang sastra suci bukan sekadar hafalan bait-bait tembang, melainkan pedoman budi pekerti yang membentuk karakter kepribadian masyarakat. Melalui UDG XXXIII, pelantunan nada suci diharapkan kembali menggema di lingkungan keluarga, desa adat, serta institusi pendidikan formal.

Fokus Utama Pembinaan dan Regenerasi

Penyelenggaraan tahun ini menitikberatkan pada perluasan dampak sosial di tengah masyarakat. Beberapa sasaran strategis yang menjadi fokus pembinaan antara lain:

  • Peningkatan Minat Anak Muda: Membuka kategori lomba usia dini dan remaja guna menumbuhkan kecintaan terhadap tembang tradisi sejak dini.
  • Penguatan Pemahaman Makna: Peserta tidak hanya dinilai dari keindahan vokal dan cengkok nada, melainkan ketepatan intonasi sastra, pemenggalan kata, dan penghayatan makna filosofis.
  • Standarisasi Pembinaan Daerah: Menjadi tolok ukur bagi lembaga pembina sastra di tingkat banjar dan kecamatan dalam mengoptimalkan pendidikan nonformal berbasis kearifan lokal.

Melalui konsistensi penyelenggaraan Utsawa Dharmagita, Pemprov Bali berkomitmen menjaga napas sastra spiritual leluhur agar tetap lestari dan relevan sebagai identitas kebudayaan daerah ke depan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS irwan-setiawan

Reporter Foto. Visual storyteller dengan 12 tahun pengalaman.

Comments (0)

User