Pemerintah Ubah Kritik Jadi Energi Perbaikan, Tolak Pesimisme
Jakarta – Pemerintah menegaskan bahwa setiap kritik konstruktif adalah bahan bakar untuk perbaikan nasional, bukan medium untuk menebar pesimisme. Sikap ini disampaikan menanggapi pidato Presiden Pr...
Jakarta – Pemerintah menegaskan bahwa setiap kritik konstruktif adalah bahan bakar untuk perbaikan nasional, bukan medium untuk menebar pesimisme. Sikap ini disampaikan menanggapi pidato Presiden Prabowo Subianto dalam peringatan Harlah ke-28 PKB.
Direktur Jenderal Komunikasi Publik dan Media Kementerian Komdigi, Fifi Aleyda Yahya, dalam keterangan di Jakarta, Senin (27/7), mengajak publik membaca utuh pesan Presiden. Menurutnya, Kepala Negara membuka pintu lebar terhadap masukan, termasuk sorotan soal kondisi infrastruktur pendidikan yang rusak.
“Presiden justru memandang kritik sebagai masukan penting untuk diungkap. Temuan lapangan seperti sekolah rusak menjadi perhatian serius dan segera ditindaklanjuti melalui aksi perbaikan. Ini bukti nyata bahwa kritik beritikad baik adalah bagian dari pembangunan,” ujar Fifi.
Ia menambahkan, pemerintah telah menginstruksikan kementerian terkait untuk melakukan asesmen cepat di sejumlah daerah yang dilaporkan. Tim teknis diterjunkan untuk memastikan proses belajar-mengajar tidak terganggu lebih lama.
Kiasan 'Londo Ireng'
Terkait istilah ‘londo ireng’ yang sempat dilontarkan Presiden, Fifi menekankan bahwa itu murni kiasan politik. Presiden tidak bermaksud menyerang profesi jurnalis, media tertentu, atau kelompok mana pun.
“Itu adalah ajakan untuk waspada terhadap pihak-pihak yang sengaja merangkai narasi keputusasaan. Mereka mencoba membangun kesan seolah Indonesia tidak sedang bergerak maju. Kritik itu perlu, tetapi upaya membangun pesimisme secara sistematis sangat berbeda,” tegasnya.
Jaga Ruang Publik
Fifi juga menegaskan komitmen pemerintah terhadap kebebasan pers dan demokrasi. Namun, ia meminta semua elemen bangsa ikut menjaga ruang publik agar tidak didominasi narasi yang mengabaikan solusi yang telah berjalan.
“Pemerintah akan terus memilih jalur kerja nyata. Fokus kami menyelesaikan masalah satu per satu, dan kritik akan menjadi cambuk produktif. Tetapi jangan sampai diskusi publik hanya berkutat pada kesan pesimis yang mengaburkan langkah konkret,” kata Fifi.
Fakta Kunci
- Kritik Diterima: Laporan kerusakan sekolah ditindaklanjuti dengan asesmen dan perbaikan langsung.
- 'Londo Ireng' Kiasan: Bukan serangan terhadap profesi atau media, melainkan peringatan akan narasi pesimisme.
- Kerja Nyata: Pemerintah fokus pada aksi di lapangan, bukan debat istilah yang tidak produktif.
Dengan sikap ini, pemerintah ingin mengonversi energi kritik menjadi momentum perbaikan yang solid, sekaligus mencegah bangsa terperangkap dalam pesimisme yang dibangun pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.
Comments (0)