Aug 31, 2026
breaking

Panggung Teatrikal Kudatuli: 30 Tahun Kemarahan Jadi Doa

JAKARTA, DETIK INI JUGA — BARU SAJA, hening sontak pecah oleh teriakan dan dentuman. Ratusan tubuh bertumbangan di atas panggung terbuka. Asap mengepul. Api obor menyala. Itu bukan kerusuhan sungguh...

Panggung Teatrikal Kudatuli: 30 Tahun Kemarahan Jadi Doa

JAKARTA, DETIK INI JUGA — BARU SAJA, hening sontak pecah oleh teriakan dan dentuman. Ratusan tubuh bertumbangan di atas panggung terbuka. Asap mengepul. Api obor menyala. Itu bukan kerusuhan sungguhan, melainkan pertunjukan teatrikal kolosal yang dipersembahkan untuk mengenang 30 tahun Peristiwa Kudatuli — Kerusuhan 27 Juli 1996 yang mengguncang republik.

Mereka melakoni kembali hari berdarah itu. Massa berbaju merah, simbol pendukung Megawati Soekarnoputri kala itu, dikepung oleh kelompok berbaret hitam, memerankan massa kubu Soerjadi. Adegan penyerbuan Kantor DPP PDI di Jalan Diponegoro dihidupkan kembali. Suara teriakan, pecahan kaca, dan pukulan membabi buta dikoreografi dengan presisi mengerikan. Penonton menahan napas. Sebagian meneteskan air mata.

Ritual Adat Jadi Jembatan Duka

Namun, sajian ini bukan sekadar napak tilas kelam. Sebelum adegan kekerasan dimulai, puluhan tetua adat dari berbagai suku menggelar ritual selamatan dan pembakaran dupa. Mereka membawa sesaji, menabur bunga, dan melantunkan kidung doa. “Ini untuk mengirimkan doa kepada para leluhur dan korban yang tak dikenal,” ujar salah satu pelaku ritual.

Ritual adat dipilih sebagai simbol bahwa luka 30 tahun silam harus disembuhkan dengan kearifan, bukan amarah. Seorang penabuh gendang bertelanjang dada memimpin tempo. Gerak penari kontemporer menyatu dengan gerakan massa, melambangkan perlawanan yang berubah menjadi refleksi spiritual.

Kronologi yang Tak Akan Lenyap

Peristiwa Kudatuli, 27 Juli 1996, hingga kini masih menyisakan borok sejarah. Kantor DPP PDI yang saat itu dikuasai pendukung Megawati digempur oleh massa pro-Soerjadi yang diduga didalangi rezim Orde Baru. Ratusan luka, puluhan hilang, dan lima orang tewas. Tragedi itu dianggap menjadi katalis yang mempercepat gelombang Reformasi 1998.

Dalam pementasan ini, narasi disampaikan lewat monolog seorang ibu yang kehilangan anaknya. “30 tahun, dan saya masih bertanya: di mana dia sekarang?” ucapnya lirih, disambut keheningan.

Siluet Harapan di Penghujung Pentas

Setelah adegan puncak yang brutal, panggung berubah. Lampu sorot meredup. Seratus layang-layang putih diterbangkan. Musik berubah syahdu. Seluruh pemain dan penonton berdiri, mengheningkan cipta. Teatrikal ditutup dengan pesan kuat: “Kami ingat, kami rawat, kami lawan lupa.”

Seorang saksi mata mengaku merinding. “Ini bukan cuma pertunjukan. Ini peringatan agar generasi sekarang paham betapa mahalnya demokrasi,” katanya.

Peringatan 30 tahun Kudatuli melalui seni dan adat ini menjadi bukti bahwa ingatan kolektif tidak akan padam. Dari kemarahan massa, berubah menjadi doa dan tarian. Dari jalanan yang mencekam, menjadi panggung yang mempersatukan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS admin

Comments (0)

User