PANDEGLANG, Beritatercepat.com — Upaya pencarian terhadap 5 jurnalis yang dilaporkan hilang kontak di sekitar kawasan Pulau Sertung, Perairan Selat Sunda, hingga kini masih terus dilakukan oleh Tim Search and Rescue (SAR) gabungan. Keberadaan para insan pers tersebut belum menemukan titik terang setelah mereka melakukan peliputan erupsi Gunung Anak Krakatau. Medan yang berat serta dinamika aktivitas vulkanik yang tidak menentu menjadi penghalang utama tim penolong di lapangan.
Kepala Kantor SAR Banten mengonfirmasi bahwa kendala terbesar dalam operasi penyisiran ini adalah status rawan erupsi Gunung Anak Krakatau yang berada pada Level III (Siaga). Zona bahaya yang ditetapkan membentang hingga radius 5 kilometer dari kawah aktif, menjadikan kawasan Pulau Sertung masuk dalam wilayah dengan risiko paparan material vulkanik yang sangat tinggi. Oleh karena itu, pergerakan perahu penyelamat dan helikopter SAR harus memperhitungkan faktor keselamatan personel secara ketat.
Tim SAR gabungan yang terdiri dari unsur Basarnas, TNI AL, Polairud, serta sukarelawan lokal telah menyiagakan sedikitnya 40 personel terpadu. Kendati demikian, semburan abu vulkanik yang tebal dan ancaman lontaran batu pijar dari kawah aktif membuat kapal penyisir belum dapat mendekati bibir pantai Pulau Sertung secara optimal.
Tantangan Geografis dan Risiko Keselamatan Tim SAR
Operasi pencarian di perairan Selat Sunda selalu menghadirkan tantangan ganda, yakni cuaca laut yang dinamis serta ancaman bencana sekunder dari aktivitas vulkanik. Pulau Sertung terletak sangat dekat dengan Gunung Anak Krakatau, menjadikannya titik kritis yang rentan diterjang hujan abu lebat, gas beracun, hingga bahaya gelombang tinggi akibat pergeseran material daratan.
"Kami harus terus memantau rekaman seismik dan arah angin dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) sebelum menerjunkan armada penyisir ke titik koordinat terakhir korban," ujar pejabat Basarnas dalam keterangan resminya. "Prinsip utama operasi SAR adalah tidak menambah korban baru, sehingga kewaspadaan terhadap erupsi susulan menjadi prioritas mutlak."
Untuk memberikan gambaran mengenai situasi teknis di lapangan, berikut adalah perbandingan parameter kondisi operasional pencarian saat ini:
| Parameter Operasional | Kondisi Normal Perairan | Kondisi Area Pencarian Saat Ini |
|---|---|---|
| Status Gunung Api | Level I / II (Normal/Waspada) | Level III (Siaga) |
| Radius Aman Kawah | 1 - 2 Kilometer | 5 Kilometer |
| Ketinggian Gelombang | 0,5 - 1,0 Meter | 1,5 - 2,5 Meter |
| Jarak Pandang Navigasi | > 10 Kilometer | < 2 Kilometer (Hujan Abu) |
Protokol Peliputan Media dan Evaluasi Keselamatan
Peristiwa hilangnya 5 jurnalis ini menggarisbawahi pentingnya penerapan standar operasional prosedur (SOP) keselamatan yang ketat bagi para awak media saat bertugas di area bencana berisiko tinggi. Peliputan di kawasan terdampak vulkanik memerlukan perlengkapan perlindungan diri khusus seperti respirator gas, pelampung standar laut, serta alat komunikasi satelit yang mandiri.
Ketiadaan sinyal telekomunikasi reguler di sekitar Pulau Sertung diduga kuat menjadi penyebab utama terputusnya komunikasi para wartawan tersebut dengan redaksi masing-masing. "Ketahanan logistik dan ketersediaan alat navigasi darurat merupakan hal vital yang wajib dibawa saat memasuki wilayah terisolasi di perairan Selat Sunda," kata seorang analis keselamatan bencana pelayaran.
Hingga berita ini diturunkan, posko SAR terpadu di Labuan, Pandeglang terus mengumpulkan data pantauan udara dari drone dan citra satelit guna memetakan posisi terakhir perahu yang digunakan oleh para jurnalis. Masyarakat serta keluarga korban diimbau untuk tetap tenang dan menyaring informasi hanya dari saluran resmi Basarnas dan instansi berwenang.
Comments (0)