BERITATERCEPAT.COM, PALANGKA RAYA — Bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah, kian meluas sepanjang musim kemarau tahun ini. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Palangka Raya mencatat sebanyak 1.201 hektare lahan telah hangus terbakar dari total akumulasi 567 kejadian karhutla yang tersebar di lima kecamatan.
Kondisi topografi Palangka Raya yang didominasi kawasan lahan gambut berkedalaman tebal menjadi faktor utama sulitnya proses pemadaman api. Tim Satuan Tugas (Satgas) Karhutla terus dikerahkan tanpa henti guna melokalisasi kobaran api yang terus bermunculan di titik-titik rawan.
Kronologi Eskalasi dan Sebaran Titik Kebakaran
Lonjakan insiden karhutla terjadi secara bertahap seiring penurunan intensitas curah hujan di wilayah Kalimantan Tengah. Satgas Gabungan merangkum urutan eskalasi bencana karhutla sebagai berikut:
- Awal Musim Kemarau: Munculnya titik panas (hotspot) sporadis di kawasan semak belukar pinggiran kota dan lahan tidur yang tidak terkelola.
- Puncak Kekeringan: Lonjakan tajam laporan kebakaran harian mencapai belasan titik per hari, terutama di Kecamatan Jekan Raya, Pahandut, dan Sabangau.
- Perluasan ke Kawasan Gambut Dalam: Api mulai membakar lapisan bawah gambut (ground fire), memicu kepulan asap tebal serta menyulitkan deteksi visual titik bakar utama.
- Penetapan Status Tanggap Darurat: Pemerintah daerah mengerahkan pengerahan armada penuh bersama TNI, Polri, BPBD, Manggala Agni, dan barisan relawan pemadam kebakaran swakarsa.
"Kami menghadapi tantangan luar biasa di lapangan karena mayoritas titik api berada di lahan gambut yang telah mengering. Ketika permukaan atas padam, bara di bawah tanah sedalam beberapa meter kerap masih aktif dan mudah berkobar kembali jika terhembus angin kencang," ujar juru bicara BPBD Palangka Raya.
Tantangan Pemadaman dan Dampak Terhadap Warga
Proses pembasahan (water bombing) maupun penyemprotan jalur darat sering terkendala oleh minimnya sumber air di lokasi kejadian. Banyak kanal dan sumur bor darurat yang mengering akibat cuaca panas ekstrem. Petugas terpaksa membentangkan selang hingga ratusan meter menembus hutan demi menjangkau lokasi kepala api.
Dampak langsung dari rentetan 567 kejadian kebakaran ini adalah penurunan kualitas udara di sejumlah titik perkotaan. Asap tipis hingga sedang sempat menyelimuti sejumlah ruas jalan protokol, khususnya pada pagi dan malam hari.
Sebagai langkah strategis jangka pendek dan penegakan regulasi, BPBD bersama pihak kepolisian mengintensifkan upaya-upaya berikut:
- Patroli Terpadu: Pengawasan berkala pada zona merah karhutla selama 24 jam penuh untuk deteksi dini kemunculan api.
- Penegakan Hukum: Penyelidikan ketat terhadap dugaan pembukaan lahan dengan cara membakar yang disengaja.
- Sosialisasi Komunitas: Pembagian masker kepada kelompok rentan dan imbauan proaktif kepada petani lokal untuk menerapkan metode pembukaan lahan tanpa bakar (PLTB).
Pemerintah Kota Palangka Raya terus mengimbau seluruh elemen masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan bersama dan segera melaporkan titik api sekecil apa pun kepada pos komando terdekat guna mencegah bencana kabut asap yang lebih parah.
Comments (0)