Sep 17, 2026
Nasional

Pakar Peringatkan Orang Tua Hentikan Pola Asuh 90-an pada Gen Alpha

JAKARTA — Fenomena orang tua generasi Milenial yang bernostalgia dengan masa kecil era 1990-an kian marak ditemui. Namun, sejumlah praktisi psikologi anak

Pakar Peringatkan Orang Tua Hentikan Pola Asuh 90-an pada Gen Alpha

JAKARTA — Fenomena orang tua generasi Milenial yang bernostalgia dengan masa kecil era 1990-an kian marak ditemui. Namun, sejumlah praktisi psikologi anak dan pakar pengasuhan mengingatkan bahwa tidak semua metode pendidikan era tersebut relevan maupun aman untuk diterapkan kepada Generasi Alpha (anak-anak kelahiran 2010–2024).

Perbedaan lanskap sosial, teknologi, serta pemahaman kesehatan mental menuntut adanya penyesuaian radikal dalam mendidik anak di era modern. Menerapkan pola pengasuhan usang dinilai berisiko menghambat perkembangan emosional dan intelektual anak.

"Anak-anak Generasi Alpha hidup di dunia yang sangat terbuka dan terkoneksi. Pola asuh otoriter atau pengabaian emosi yang lazim pada dekade 90-an berpotensi merusak kesehatan mental mereka secara jangka panjang," ujar psikolog anak keluarga, Ratih Ibrahim.

Pergeseran Paradigma Pola Asuh Antargenerasi

Perubahan dinamika sosial dalam tiga dekade terakhir membentuk karakter anak yang sangat berbeda dibandingkan generasi sebelumnya. Berikut adalah kilas balik evolusi tantangan parenting:

  1. Era 1990-an: Pola asuh cenderung berpusat pada kepatuhan mutlak, minimnya validasi emosi, serta pendekatan fisik dalam mendisiplinkan anak tanpa ruang dialog.
  2. Era 2000-an: Mulai berkembangnya kesadaran hak anak, transisi menuju komunikasi dua arah, dan pengenalan teknologi komputer dasar di lingkungan rumah.
  3. Era 2010–Sekarang (Gen Alpha): Keterikatan penuh dengan ekosistem digital cerdas, tingginya kebutuhan akan empati, serta penekanan pada literasi emosional dan berpikir kritis.

5 Kebiasaan Era 90-an yang Wajib Ditinggalkan

Berdasarkan evaluasi para ahli perkembangan anak, terdapat lima kebiasaan pengasuhan klasik yang sebaiknya tidak lagi diwariskan kepada anak-anak masa kini:

  • 1. Menekan Emosi Anak (Emotional Invalidation): Ungkapan seperti "Jangan menangis, begitu saja cengeng" atau "Anak laki-laki tidak boleh nangis" kerap menormalisasi penolakan emosi. Praktik ini membuat anak kesulitan mengidentifikasi dan meregulasi perasaan saat dewasa.
  • 2. Hukuman Fisik sebagai Disiplin: Penggunaan kekerasan fisik ringan seperti cubitan atau pukulan untuk menegakkan aturan terbukti meningkatkan kecenderungan agresi dan menurunkan rasa percaya diri anak.
  • 3. Membandingkan Prestasi Anak: Membandingkan kemampuan akademis atau fisik anak dengan saudara maupun anak tetangga terbukti memicu sindrom inferioritas serta kecemasan berlebih.
  • 4. Kepatuhan Buta Tanpa Dialog: Menuntut anak patuh hanya karena otoritas orang tua ("Pokoknya kamu harus dengar kata Ayah/Ibu") mematikan daya kritis serta kemampuan pengambilan keputusan mandiri.
  • 5. Menomorduakan Kesehatan Mental: Menganggap keluhan stres atau kelelahan mental anak sebagai bentuk kemalasan adalah kekeliruan fatal yang dapat memicu depresi dini.

Strategi Positif Menghadapi Generasi Alpha

Menghadapi Generasi Alpha membutuhkan pendekatan yang mengedepankan positive parenting. Orang tua disarankan membangun komunikasi terbuka, memberikan batasan gawai secara konsisten, serta memvalidasi setiap emosi yang dirasakan anak sebelum memberikan konsekuensi logis atas perilakunya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS fitri-handayani

Reporter Breaking News. Siap siaga 24/7 untuk peristiwa besar.

Comments (0)

User