JAKARTA — Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga)/Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Wihaji, menegaskan bahwa pelaksanaan program Keluarga Berencana Pascapersalinan (KBPP) merupakan langkah strategis sekaligus investasi penting dalam membangun kualitas keluarga Indonesia masa depan.
Menurut Wihaji, program KB pascapersalinan tidak semata-mata dimaknai sebagai upaya membatasi jumlah kelahiran anak, melainkan mekanisme perlindungan komprehensif bagi kesehatan ibu dan tumbuh kembang anak secara optimal. Melalui perencanaan jarak kelahiran yang matang, keluarga memiliki kesiapan psikologis, fisik, dan ekonomi yang jauh lebih kokoh.
Urgensi Pengaturan Jarak Kehamilan untuk Tekan Stunting
Penggunaan metode kontrasepsi sesaat setelah melahirkan dinilai krusial untuk mencegah kehamilan yang tidak diinginkan (KTD) maupun kehamilan berjarak terlalu dekat (short birth interval). Jarak kelahiran yang ideal, yakni minimal tiga hingga lima tahun, terbukti signifikan menurunkan risiko kematian ibu melahirkan, kematian bayi, serta masalah gagal tumbuh kembang atau stunting.
"KB pascapersalinan adalah bentuk investasi nyata bagi kualitas keluarga. Ketika kehamilan direncanakan dengan baik, ibu memiliki waktu pemulihan fisik yang cukup, dan perhatian serta pemenuhan gizi untuk anak pertama dapat diberikan secara maksimal selama masa 1.000 Hari Pertama Kehidupan," ujar Wihaji dalam keterangannya.
Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga memprioritaskan pemanfaatan Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP), seperti Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR/IUD) dan implan, yang dapat dipasang langsung sebelum ibu bersalin meninggalkan fasilitas pelayanan kesehatan.
Tahapan Implementasi Program KBPP di Fasilitas Kesehatan
Guna memperluas cakupan peserta KB pascapersalinan di seluruh daerah, kementerian menyusun serangkaian langkah operasional terpadu yang melibatkan tenaga kesehatan dan fasilitas medis:
- Konseling Sejak Masa Kehamilan (ANC): Tenaga kesehatan memberikan edukasi dan pemahaman mengenai pilihan kontrasepsi sejak pemeriksaan kehamilan trimester ketiga agar pasangan suami-istri dapat mengambil keputusan matang sebelum persalinan.
- Pelayanan Terpadu di Rumah Sakit dan Puskesmas: Penyediaan fasilitas pemasangan kontrasepsi langsung sesaat setelah proses persalinan berlangsung, baik bersalin normal maupun melalui operasi sesar.
- Peningkatan Kapasitas Tenaga Medis: Pelatihan berkelanjutan bagi dokter dan bidan untuk memastikan pemasangan alat kontrasepsi pascapersalinan berlangsung aman, nyaman, dan sesuai standar medis.
- Pendampingan Pasca-Tindakan: Tim Pendamping Keluarga (TPK) dan kader BKKBN memantau kondisi kesehatan akseptor di tingkat desa untuk meminimalisasi efek samping serta memastikan keberlanjutan pemakaian kontrasepsi.
Dukungan terhadap Kesejahteraan Ekonomi dan Ketahanan Keluarga
Lebih lanjut, Wihaji menggarisbawahi bahwa keberhasilan program KB pascapersalinan berbanding lurus dengan peningkatan produktivitas keluarga. Orang tua yang mampu mengatur jumlah dan jarak kelahiran anak memiliki ruang lebih leluasa dalam mengelola keuangan rumah tangga, membiayai pendidikan anak hingga jenjang tinggi, serta menjaga keharmonisan rumah tangga.
BKKBN terus memperkuat sinergi lintas sektor, termasuk bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan dan BPJS Kesehatan, guna menjamin ketersediaan logistik alat kontrasepsi serta memperluas jangkauan pembiayaan layanan KBPP di seluruh penjuru Tanah Air.
Kementerian Kependudukan/BKKBN dorong penggunaan Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) segera setelah melahirkan. Simak ulasan lengkapnya di Beritatercepat.com.
Comments (0)