PADANG — Akademisi Sebut Buya Hamka Ulama Multidimensi

Ruangan itu sunyi, hanya terdengar gesekan pulpen di atas kertas dan desau angin dari jendela tua Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas. Di sudut meja,

Jul 11, 2026 - 21:48
0 0
PADANG — Akademisi Sebut Buya Hamka Ulama Multidimensi

Ruangan itu sunyi, hanya terdengar gesekan pulpen di atas kertas dan desau angin dari jendela tua Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas. Di sudut meja, setumpuk buku bersampul lusuh tentang sastra dan agama menggunung. Salah satunya adalah novel Tenggelamnya Kapal Van der Wijck—karya yang telah menggetarkan hati pembaca lintas generasi. Sang dosen, Fadlillah, menatap sampul buku itu dengan tatapan penuh hormat. Baginya, dan bagi banyak akademisi lain, penulis novel itu bukan sekadar pujangga. Ia adalah Buya Hamka, sebuah nama yang memantik kekaguman multidimensi.

“Buya Hamka itu laksana samudra,” ujar Fadlillah, Dosen Program Studi Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas, membuka percakapan. “Semakin kita menyelam, semakin kita sadar betapa dalam dan luasnya pemikiran beliau.”

Di kalangan akademisi, Buya Hamka bukan sekadar nama besar dalam sejarah Islam Indonesia. Ia adalah objek kajian yang tak pernah kering. Disertasi, tesis, jurnal, dan seminar nasional masih terus membedah warisan intelektualnya. Mengapa? Karena Hamka, dengan segala keterbatasan pendidikan formalnya, berhasil melampaui zaman dan batas disiplin ilmu.

Melampaui Mimbar dan Meja Tulis

Jika kebanyakan ulama hanya berkutat di mimbar dan kitab kuning, Hamka justru melebarkan sayapnya hingga ke dunia sastra, jurnalistik, dan politik. Ia adalah sastrawan Angkatan Balai Pustaka yang produktif, sekaligus ulama pembaharu yang berani. Di mata para akademisi, justru perpaduan inilah yang menjadikannya istimewa.

“Kita sering mengkotak-kotakkan tokoh: ini ulama, ini sastrawan. Hamka mendobrak itu semua. Dalam dirinya, nilai-nilai Islam dan estetika sastra berkelindan secara alami, bukan dibuat-buat,” jelas Fadlillah dengan nada antusias.

Fadlillah mencontohkan novel Di Bawah Lindungan Ka’bah. Di permukaan, novel itu adalah kisah cinta tragis antara Hamid dan Zainab. Namun di lapis yang lebih dalam, Hamka menyelipkan kritik sosial terhadap adat yang membelenggu, sekaligus menyuarakan nilai tauhid yang murni. “Ini bukan sekadar roman picisan. Ini adalah dakwah bil qalam yang halus dan menusuk,” tambahnya.

Akademisi Lintas Disiplin Ikut Bersuara

Tidak hanya di Fakultas Ilmu Budaya, nama Hamka juga bergema di Fakultas Ushuluddin, Ilmu Sosial, hingga Hukum. Dr. Andi Saputra, pakar tafsir dari UIN Imam Bonjol, menilai Tafsir Al-Azhar sebagai magnum opus yang melampaui zamannya.

“Tafsir Al-Azhar ditulis dalam bahasa Indonesia yang indah, saat sebagian besar tafsir masih berbahasa Arab atau Melayu tinggi. Hamka mendekatkan Al-Qur’an ke hati rakyat biasa. Itu adalah revolusi literasi keagamaan,” kata Andi dalam sebuah simposium daring.

Senada dengan itu, Dr. Elvira Rosyada, sejarawan dari Universitas Gadjah Mada, menyoroti peran Hamka sebagai jurnalis pejuang. Melalui majalah Pedoman Masyarakat yang didirikannya pada 1935, Hamka menyuarakan anti-kolonialisme dengan bahasa yang cerdas dan berani. “Majalah itu menjadi mimbar rakyat. Beliau paham bahwa pena sama tajamnya dengan pedang,” ujarnya.

Warisan Hidup yang Terus Dikaji

Di era digital ini, pemikiran Buya Hamka justru menemukan relevansi baru. Kajian-kajian akademik terkini menyoroti bagaimana konsep etika Islam Hamka bisa menjadi alternatif di tengah krisis moral modern. Tulisannya tentang kesederhanaan, integritas, dan perjuangan melawan kemunafikan terasa makin kontekstual.

Sejumlah mahasiswa pascasarjana bahkan mengambil tema “Dekonstruksi Patriarki dalam Novel Hamka” atau “Konsep Negara dalam Pemikiran Politik Hamka”. Ini menunjukkan bahwa Hamka bukan sekadar kenangan masa lalu, melainkan cahaya yang terus menerangi.

“Mahasiswa saya sering terkejut saat menemukan betapa progresifnya pemikiran Hamka tentang perempuan, jauh sebelum gerakan feminisme populer di Indonesia,” ungkap Fadlillah. “Beliau menulis bahwa perempuan adalah tiang negara. Jika perempuannya rusak, rusaklah negara. Itu buah pikir tahun 1930-an!”

Di usia senja, Hamka tetap produktif dan konsisten. Ia memilih melepas jabatan sebagai Ketua MUI pada 1975 karena menolak mencabut fatwa Natal Bersama yang dikeluarkannya sendiri—sebuah sikap yang di mata akademisi menunjukkan integritasnya yang membaja. “Hamka mengajarkan bahwa menjadi ulama berarti menjaga amanah, bukan sekadar jabatan,” tegas Andi Saputra.

Mengapa Hamka Tetap Diperbincangkan?

Para akademisi sepakat: Buya Hamka adalah cermin Indonesia yang ideal. Ia tidak memisahkan agama dari kebangsaan, tidak mengasingkan sastra dari dakwah. Ia menulis, berkhotbah, dan berjuang tanpa kehilangan kerendahan hati. Itulah sebabnya, di ruang-ruang kuliah dan seminar, namanya tetap menjadi magnet diskusi. “Buya Hamka tidak hanya lahir untuk zamannya, tapi juga untuk zaman kita, dan mungkin untuk zaman yang akan datang,” tutup Fadlillah, seraya merapikan buku-bukunya. “Beliau adalah jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang belum sempat kita tanyakan.”

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User