Monumen Kudatuli Diresmikan Megawati, Kenang Tiga Dekade Tragedi 1996

JAKARTA — Megawati Soekarnoputri resmi membuka Monumen Kudatuli pagi ini, tepat 30 tahun sejak tragedi berdarah 27 Juli 1996 mengguncang ibu kota. Peresmian berlangsung khidmat di lokasi bersejarah ...

Jul 28, 2026 - 03:23
0 0
Monumen Kudatuli Diresmikan Megawati, Kenang Tiga Dekade Tragedi 1996

JAKARTA — Megawati Soekarnoputri resmi membuka Monumen Kudatuli pagi ini, tepat 30 tahun sejak tragedi berdarah 27 Juli 1996 mengguncang ibu kota. Peresmian berlangsung khidmat di lokasi bersejarah di kawasan Menteng, Jakarta Pusat.

Acara dihadiri oleh keluarga korban, aktivis prodemokrasi, sejumlah tokoh nasional, dan para kader Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Suasana haru tampak jelas saat Megawati menggunting pita dan menekan tombol sirine sebagai tanda peresmian.

Monumen Kudatuli berdiri setinggi tujuh meter dengan dominasi warna hitam dan merah. Pahatan tangan-tangan terkepal melambangkan solidaritas dan perlawanan rakyat terhadap represi. Di sekeliling tugu, terpahat nama-nama korban yang gugur dalam insiden tersebut.

Bangunan ini didesain oleh arsitek temama dengan filosofi 'nyala abadi demokrasi.' Material utama adalah perunggu dan batu andesit, sengaja dipilih agar tahan cuaca dan menjadi saksi bisu perjalanan sejarah bangsa.

Dalam sambutannya, Megawati menegaskan bahwa tragedi Kudatuli adalah luka kolektif yang harus menjadi pelajaran. 'Kita tak akan pernah lupa. Monumen ini adalah bukti bahwa rakyat Indonesia pantang menyerah melawan ketidakadilan,' ujarnya lantang.

Tragedi 27 Juli 1996 bermula dari konflik internal PDI. Kubu Megawati yang menolak kongres Medan didukung oleh akar rumput, sementara kubu Soerjadi direkayasa oleh rezim Orde Baru untuk merebut kepemimpinan partai. Puncaknya, kantor DPP PDI di Jalan Diponegoro diserbu pada dini hari.

Ratusan pendukung Megawati yang saat itu tengah bertahan di dalam kantor dihajar secara brutal. Saksi mata melaporkan suara letusan, asap tebal, dan jeritan histeris mewarnai malam itu. Banyak yang melarikan diri, tetapi puluhan orang hilang, disiksa, atau tewas.

Catatan resmi Komnas HAM menyebutkan sedikitnya 5 orang meninggal, 149 terluka, dan 23 orang hilang tanpa jejak. Angka ini diyakini lebih besar karena banyak kasus yang tidak tercatat. Hingga kini, keadilan bagi para korban masih menjadi pekerjaan rumah yang belum selesai.

Seorang saksi mata, yang enggan disebut namanya, menuturkan kenangan pahit itu. 'Saya melihat langsung bagaimana mereka menyeret dan memukuli orang-orang tak bersenjata. Suara teriakan minta tolong masih terngiang di telinga saya,' kenangnya dengan suara bergetar.

Masyarakat sekitar menyambut positif pendirian monumen ini. Mereka berharap monumen tersebut bukan sekadar objek wisata, melainkan juga laboratorium demokrasi bagi generasi muda. 'Anak-anak kami harus tahu bahwa kemerdekaan berbicara dan berpolitik seperti sekarang ini diperjuangkan dengan darah,' ujar seorang warga.

Sejumlah tokoh nasional yang hadir, termasuk Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Jimly Asshiddiqie dan aktivis HAM almarhum Munir, turut memberikan penghormatan. Mereka menekankan pentingnya pendidikan sejarah agar peristiwa serupa tidak terulang.

Megawati menutup sambutannya dengan pesan mendalam. 'Ini bukan tentang saya atau partai. Ini tentang seluruh rakyat Indonesia yang menolak tunduk pada ketidakadilan. Monumen ini adalah milik kita bersama.'

Acara diakhiri dengan tabur bunga oleh keluarga korban, diiringi lagu kebangsaan Indonesia Raya dan doa bersama untuk para pahlawan demokrasi yang telah gugur. Monumen Kudatuli kini resmi dibuka untuk publik dan dapat dikunjungi setiap hari secara gratis.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User