Meriahnya Tradisi Balema, Gotong Royong Memasak Lemang Massal Warga Kerinci
Suasana kebersamaan dan kekeluargaan begitu kental terasa di tengah masyarakat Kerinci, Jambi. Sebuah tradisi turun-temurun bernama Balema kembali digelar, menghadirkan pemandangan unik berupa aktivit
Suasana kebersamaan dan kekeluargaan begitu kental terasa di tengah masyarakat Kerinci, Jambi. Sebuah tradisi turun-temurun bernama Balema kembali digelar, menghadirkan pemandangan unik berupa aktivitas memasak lemang secara massal yang melibatkan seluruh elemen warga. Bukan sekadar kegiatan kuliner biasa, ritual adat ini merupakan penanda penting dalam rangkaian prosesi menuju puncak acara adat terbesar di wilayah tersebut, yakni Kenduri Sko, sekaligus momentum pelantikan para depati atau pemangku adat.
Pantauan media kami di lokasi menunjukkan antusiasme tinggi warga sejak persiapan dimulai. Bambu-bambu muda pilihan sepanjang satu hingga satu setengah meter disiapkan sebagai wadah utama. Daun pisang muda dilinting rapi untuk menjadi lapisan dalam bambu, sementara beras ketan berkualitas terbaik yang telah direndam berjam-jam dicampur dengan santan kelapa segar. Prosesi memasukkan adonan ke dalam bambu dilakukan bersama-sama, menciptakan harmoni gerak dan tawa di antara para peserta, baik tua maupun muda.
Simbol Persatuan dalam Buluh Bambu
Balema bukan hanya soal menghasilkan hidangan lemang yang gurih dan nikmat. Jauh di balik asap yang mengepul dari barisan bambu yang dibakar, tersimpan filosofi mendalam tentang kehidupan sosial masyarakat Kerinci. Setiap batang lemang merepresentasikan kebersamaan dan persatuan yang kokoh. Teknik memasak dengan cara membakar bambu secara berdiri atau disandarkan di atas bara api menuntut kesabaran dan kekompakan. Proses ini secara simbolis mengajarkan bahwa membangun kepemimpinan, sebagaimana pelantikan depati yang akan berlangsung, memerlukan waktu, panasnya ujian, dan fondasi kebersamaan yang kuat. Api unggun besar disiapkan untuk membakar puluhan hingga ratusan batang lemang secara serentak. Asap tebal membumbung tinggi, menyebarkan aroma khas beras ketan dan santan yang mulai matang. Para pria dewasa mengambil peran utama dalam menjaga api agar tetap stabil selama berjam-jam, sementara kaum perempuan sibuk meracik bumbu dan memastikan tabung bambu terisi dengan komposisi yang pas. Anak-anak pun tak ketinggalan, mereka berlarian di sekitar area, menikmati suasana kampung yang mendadak berubah menjadi arena gotong royong besar."Balema adalah perekat sosial kami. Sebelum para ninik mamak dan depati dikukuhkan dalam Kenduri Sko, kami harus membuktikan bahwa masyarakat masih kompak, masih saling bantu. Lemang ini nantinya bukan hanya untuk dimakan, tetapi menjadi sajian adat yang didoakan," ujar seorang tetua adat kepada tim kami.Setelah proses pembakaran yang memakan waktu cukup lama, bambu-bambu itu dibelah. Terlihatlah gulungan lemang berwarna putih kekuningan yang mengepulkan uap panas. Teksturnya yang kenyal dan rasanya yang gurih langsung menjadi buruan warga yang telah menunggu. Sebagian lemang akan dibagikan kepada seluruh hadirin sebagai simbol keberkahan, sementara sebagian lainnya disimpan untuk sesaji dan jamuan resmi pada puncak acara pelantikan depati. Ritual Balema yang sarat makna ini menjadi bukti nyata bahwa tradisi leluhur masih dijaga dengan erat oleh masyarakat Kerinci. Di tengah arus modernisasi yang begitu deras, kearifan lokal seperti gotong royong memasak lemang massal ini tetap bertahan, menjadi identitas budaya yang tak ternilai harganya. Diharapkan, dengan dilangsungkannya tradisi ini secara rutin, generasi muda Kerinci tidak akan pernah melupakan akar budaya mereka sendiri. Kegiatan Balema ini merupakan cerminan kekayaan budaya Sumatera yang terus hidup. Beritatercepat.com akan terus mengabarkan ragam tradisi unik dari berbagai penjuru Tanah Air.
Comments (0)