Menko Zulhas Perkenalkan Lahsamor, Teknologi BRIN untuk Atasi Sampah Organik di Bali

DENPASAR — Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan meluncurkan terobosan besar dalam penanganan krisis sampah di Pulau Dewata. Sebuah teknologi pe

Jul 08, 2026 - 05:39
0 0
Menko Zulhas Perkenalkan Lahsamor, Teknologi BRIN untuk Atasi Sampah Organik di Bali

DENPASAR — Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan meluncurkan terobosan besar dalam penanganan krisis sampah di Pulau Dewata. Sebuah teknologi pengurai organik bernama lahsamor resmi diperkenalkan sebagai senjata pamungkas menghadapi gunungan limbah yang kian mencekik Bali. Inovasi ini lahir dari dapur riset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), menandai lompatan signifikan dari sekadar wacana menjadi aksi nyata.

Lahsamor bukan sekadar alat, ini revolusi cara kita memperlakukan sampah,” tegas Zulhas di hadapan awak media dan pemangku kepentingan. Sorot matanya tajam, menekankan urgensi di balik kalimat yang ia lontarkan. Teknologi yang digadang mampu mengurai sampah organik dalam waktu singkat ini diyakini bakal mengubah lanskap pengelolaan limbah di Bali—dan kelak, seluruh Indonesia.

Inovasi BRIN yang Menjawab Jeritan Pulau Dewata

Lahsamor dirancang bukan untuk menambal masalah, melainkan mengikisnya dari akar. BRIN mengawinkan pendekatan bioteknologi dan rekayasa sistem sehingga proses dekomposisi berlangsung hingga tiga kali lebih cepat dibanding metode konvensional. Hasil akhirnya tak cuma mengurangi volume, tetapi juga menghasilkan residu bernilai ekonomi dan ramah lingkungan.

Beberapa poin kunci yang membuat lahsamor layak disebut game changer:

  • Kecepatan olah: Mengurai sampah organik dalam hitungan jam, bukan hari.
  • Bebas gas metana: Mencegah pelepasan emisi rumah kaca dari tumpukan sampah busuk.
  • Produk samping bermanfaat: Menghasilkan kompos dan pupuk cair siap pakai.
  • Skalabilitas tinggi: Bisa diterapkan di tingkat rumah tangga, desa, hingga TPA besar.
“Bali sudah terlalu lama berperang dengan sampah. Lahsamor hadir sebagai gencatan senjata yang kita menangkan bersama. Teknologi ini sederhana, murah, dan langsung bisa dipakai masyarakat,” kata Zulkifli Hasan di sela demonstrasi alat di Denpasar.

Momentum Kebangkitan: Bali Bebas Sampah Organik

Provinsi Bali memproduksi lebih dari 4.000 ton sampah per hari, dengan porsi organik mencapai 60 persen. Selama ini, Tempat Pembuangan Akhir Suwung di Denpasar menjadi simbol ironi—harmonis alam Bali terkoyak oleh pegunungan limbahnya sendiri. Kehadiran lahsamor membuka napas baru: pemerintah menargetkan pengurangan sampah organik hingga 80 persen dalam dua tahun setelah alat ini disebarluaskan.

Gladiator sesungguhnya adalah masyarakat. Teknologi canggih tiada arti tanpa adopsi massif. Oleh sebab itu, pemerintah pusat bersama BRIN akan menggandeng desa adat, sekolah, dan kelompok swadaya untuk pelatihan dan distribusi perangkat lahsamor. Model pilot di Denpasar dan Badung akan dimulai bulan depan.

Di tengah optimisme, para ahli mengingatkan bahwa sinergi antara regulasi, pendanaan, dan perubahan perilaku tetap jadi kunci. “Ini bukan tongkat ajaib, tapi kalau kolaborasinya kuat, Bali bisa jadi contoh dunia,” ujar seorang peneliti BRIN yang enggan dikutip.

Dengan lahsamor, Bali tak sekadar membersihkan pantai dari sampah. Ia sedang menulis ulang narasi tentang hubungan manusia dengan sisa konsumsinya—dari beban menjadi berkah.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User