Menkeu Usulkan Potong Uang, Publik Kenang Sri Sultan HB IX

Jakarta, Beritatercepat.com – Di tengah himpitan ekonomi yang kian mencekik, Menteri Keuangan mengambil langkah tak terduga dengan mengeluarkan kebijakan y

Jul 11, 2026 - 11:47
0 0
Menkeu Usulkan Potong Uang, Publik Kenang Sri Sultan HB IX

Jakarta, Beritatercepat.com – Di tengah himpitan ekonomi yang kian mencekik, Menteri Keuangan mengambil langkah tak terduga dengan mengeluarkan kebijakan yang disebut banyak pihak sebagai radikal: meminta masyarakat untuk memotong uang mereka sendiri. Kebijakan ini sontak menuai gelombang protes dan sekaligus membuka kembali lembaran sejarah tentang sosok juru selamat yang dulu pernah menyelamatkan Indonesia dari krisis serupa, yaitu Sri Sultan Hamengkubuwono IX.

Krisis dan Respons Kontroversial Menkeu

Kondisi perekonomian Indonesia saat ini memang sedang tidak baik-baik saja. Inflasi yang terus merangkak naik, daya beli masyarakat yang melemah, dan ketidakpastian global telah menempatkan pemerintah dalam posisi sulit. Dalam situasi ini, Menteri Keuangan justru melontarkan gagasan yang mengejutkan: warga diminta untuk secara sukarela memotong lembaran uang mereka menjadi dua bagian. Kebijakan ini diyakini dapat mengurangi jumlah uang beredar secara drastis dan menstabilkan nilai tukar rupiah dalam waktu singkat.

“Ini adalah langkah drastis yang diperlukan. Dengan mengurangi massa uang fisik, kita dapat mengerem laju inflasi dan mengembalikan kepercayaan pasar,” ungkap seorang pejabat Kementerian Keuangan yang enggan disebutkan namanya.

Namun, para ekonom menyambut dingin ide tersebut. Banyak yang menganggapnya sebagai kebijakan populisme yang tidak berdasar, bahkan berpotensi memicu kepanikan massal. Di media sosial, tagar #TolakPotongUang sempat menjadi trending, menunjukkan betapa publik merasa kebijakan ini tidak masuk akal dan merugikan rakyat kecil yang sudah kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Kilas Balik: Sri Sultan HB IX, Sang Penyelamat Sejati

Di tengah keriuhan penolakan terhadap usulan pemotongan uang, ingatan kolektif bangsa justru tertuju pada sosok yang pernah menjadi penolong sejati saat negara di ambang keruntuhan ekonomi. Bukan presiden, bukan pula menteri keuangan kala itu, melainkan seorang raja dari Yogyakarta: Sri Sultan Hamengkubuwono IX.

Pada masa awal kemerdekaan, Indonesia menghadapi krisis keuangan yang sangat parah. Pemerintah yang baru berdiri nyaris tidak memiliki kas negara untuk menjalankan roda pemerintahan dan membiayai perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Dalam situasi genting itulah, Sri Sultan HB IX secara diam-diam menyerahkan sebagian besar kekayaan pribadinya kepada pemerintah pusat. Konon, jumlahnya mencapai sekitar 6 juta gulden—sebuah angka yang fantastis pada zamannya dan menjadi fondasi penting bagi kelangsungan republik muda ini.

“Beliau tidak pernah meminta imbalan atau pengakuan. Tindakannya murni didasari oleh rasa cinta tanah air dan tanggung jawab sebagai pemimpin,” tulis sejarawan dalam buku ‘Jejak Sang Sultan’.

Foto Sri Sultan HB IX yang tersenyum bijak dalam balutan pakaian adat Jawa kembali beredar luas di berbagai platform digital, seolah menjadi simbol kontras dari cara penanganan krisis masa kini. Netizen ramai membandingkan pengorbanan sang sultan dengan kebijakan yang dianggap justru mengorbankan rakyat.

Membedah Relevansi Sejarah untuk Kebijakan Kontemporer

Pakar ekonomi dari Universitas Indonesia, Dr. Andi Wijaya, menilai bahwa kebijakan pemotongan uang bukan hanya tidak lazim, tetapi juga mengabaikan esensi dari kepercayaan publik yang menjadi penopang utama sistem moneter. “Dulu, stabilitas ekonomi bisa diraih karena adanya kepercayaan yang tinggi kepada simbol-simbol pemersatu seperti Sultan. Kini, kepercayaan itu terkikis oleh kebijakan yang terkesan asal-asalan tanpa melibatkan dialog dengan masyarakat,” katanya.

Sri Sultan HB IX sendiri dikenal bukan hanya karena kemurahan hatinya, melainkan juga karena visinya yang jauh ke depan. Beliau mendorong pembangunan sektor pertanian dan pendidikan sebagai fondasi ekonomi yang berkelanjutan, alih-alih mengandalkan solusi instan. Prinsip inilah yang menurut banyak pengamat hilang dari model pengambilan kebijakan ekonomi kontemporer.

Sementara itu, pemerintah tetap bergeming dan menyatakan akan mengkaji lebih dalam usulan pemotongan uang tersebut. Meski begitu, gelombang nostalgia terhadap sosok juru selamat seperti Sri Sultan HB IX terus membesar, seiring dengan harapan publik akan munculnya figur pemimpin yang tidak hanya pintar beretorika, tetapi juga rela berkorban untuk kepentingan bangsa.

[SOCIAL_TWEET]: Usul kontroversial Menkeu minta rakyat potong uang bikin publik kembali kenang jasa Sri Sultan HB IX yang dulu rela sumbang 6 juta gulden demi selamatkan RI. Bisakah sejarah berulang? #EkonomiRI #SriSultanHBX #PotongUang[SOCIAL_TG]: 💸 Menkeu minta rakyat potong uang, publik malah kenang jasa Sri Sultan HB IX. Pelajaran sejarah yang bikin kita bertanya: di mana sosok pemimpin sejati saat ini? 🔍

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User