Menkes Gempur Komplek Kusta Jongaya, Perkuat Sinergi Penanganan
BARU SAJA — Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyerbu Komplek Kusta Jongaya di Makassar pagi ini. Tindakan cepat diambil untuk memperkuat sinergi penanganan kusta tingkat nasional. Wakil Wali ...
BARU SAJA — Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyerbu Komplek Kusta Jongaya di Makassar pagi ini. Tindakan cepat diambil untuk memperkuat sinergi penanganan kusta tingkat nasional.
Wakil Wali Kota Makassar Aliyah Mustika Ilham langsung mendampingi Menkes. Keduanya meninjau kondisi pasien dan fasilitas di komplek yang menjadi pusat rehabilitasi utama kawasan timur Indonesia.
Data Dinas Kesehatan menunjukkan 150 kasus baru kusta per tahun di Makassar. Angka ini menjadikan kota tersebut sebagai salah satu wilayah endemis prioritas nasional.
Fakta Kunci Kunjungan
- Menkes mengalokasikan dana Rp 2 miliar untuk renovasi total komplek
- Pengiriman 10 dokter kulit spesialis dalam 14 hari
- Pemkot Makassar menyiapkan rumah singgah baru untuk pasien telantar
- Skrining massal dimulai besok pukul 06.00 WITA di lima kelurahan
- WHO menjanjikan donasi 5.000 paket multi drug therapy (MDT)
Semua langkah ini masuk dalam paket sinergi darurat yang diteken langsung di lokasi. “Kita tidak bisa lagi jalan sendiri-sendiri. Kusta harus dihantam dari pusat sampai kelurahan,” tegas Menkes.
Sejarah Kelam Komplek Jongaya
Komplek Kusta Jongaya berdiri sejak 1978. Dulu, tempat ini seperti penjara sosial bagi para penderita yang dikucilkan. Kini, wajahnya perlahan berubah menjadi pusat rehabilitasi dan pemberdayaan.
Saat ini terdapat 45 pasien menetap di komplek. Sebagian sudah sembuh secara medis, tetapi enggan pulang karena stigma masih kuat di masyarakat.
Salah satu pasien, sebut saja Andi (52), mengatakan dirinya sudah 20 tahun tinggal di komplek. “Saya sudah sehat, tapi di kampung tidak ada yang mau terima saya kembali,” ucapnya dengan suara bergetar.
Janji Menkes: Fasilitas Baru dan Keterampilan
Menkes Budi Gunadi Sadikin berjanji membangun pusat keterampilan di area komplek dalam tiga bulan ke depan. Pasien akan dilatih menjahit, bengkel las, dan budi daya ikan lele agar bisa mandiri setelah sembuh.
Anggaran Rp 2 miliar itu juga akan digunakan untuk memperbaiki 10 kamar tidur, klinik rawat jalan, dan instalasi air bersih. “Saya tidak mau lihat lagi pasien hujan-hujanan di sini,” kata Menkes sambil menunjuk atap bocor.
Dukungan Pemkot Makassar
Wakil Walikota Aliyah Mustika Ilham menegaskan komitmen penuh. “Kami akan kawal langsung di lapangan. Anggaran daerah sudah kami siapkan untuk pendampingan,” ungkapnya singkat namun tegas.
Pemkot Makassar juga berencana menggelar kampanye “Hapus Stigma” di setiap kecamatan mulai pekan depan. Sasaran utama adalah keluarga pasien dan lingkungan sekitar.
Target Ambisius 2025
Indonesia menargetkan eliminasi kusta pada tahun 2025. Syaratnya adalah prevalensi di bawah 1 per 10.000 penduduk. Saat ini, prevalensi Makassar masih di angka 0,9 per 10.000, sangat tipis dari ambang batas. Namun, penemuan kasus baru yang tinggi menjadi alarm bahaya.
Strategi nasional yang dibawa Menkes meliputi deteksi dini massal, pengobatan gratis tanpa putus, dan rehabilitasi ekonomi pasien. “Kalau kita serius, 2025 bisa tercapai,” kata Menkes optimistis.
Perang Lawan Stigma
Menkes menekankan bahwa kusta bukan kutukan dan bisa disembuhkan. Terapi MDT yang diminum rutin selama 6-12 bulan mampu membunuh bakteri dan mencegah kecacatan.
“Jangan kucilkan mereka. Merekalah pejuang yang harus kita dukung. Kusta itu penyakit biasa, sama seperti diabetes atau hipertensi,” seru Menkes di depan petugas kesehatan.
UPDATE: Tim medis gabungan pusat dan daerah akan menyisir lima kelurahan prioritas mulai besok pukul 06.00 WITA. Skrining massal ini untuk menjaring kasus tersembunyi yang selama ini tidak terdeteksi.
Menkes meninggalkan lokasi pada pukul 10.30 WITA sambil memastikan seluruh obat dan logistik sudah terdistribusi. Perang melawan kusta di Makassar memasuki babak baru dengan sinergi yang lebih gres dan garang.
Comments (0)