Menjaga Rupiah, Menjaga Pertumbuhan

Jakarta - Setelah sempat menguat beberapa hari pasca keputusan Bank Indonesia (BI) menaikkan BI-rate menjadi 5,75%, nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat kembali tertekan. Mata uang Garud

Jul 06, 2026 - 13:03
0 0
Menjaga Rupiah, Menjaga Pertumbuhan

Jakarta - Setelah sempat menguat beberapa hari pasca keputusan Bank Indonesia (BI) menaikkan BI-rate menjadi 5,75%, nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat kembali tertekan. Mata uang Garuda kini berada di level sekitar Rp 17.950 per USD. Perkembangan ini menimbulkan pertanyaan luas mengenai apakah bank sentral telah cukup agresif dalam menjalankan kebijakan moneter. Namun, menurut laporan Beritatercepat.com, ada pertanyaan yang lebih fundamental yang perlu diajukan: apakah kebijakan yang dijalankan saat ini sedang mengobati penyebab persoalan, atau hanya meredakan gejalanya saja?

Dalam beberapa bulan terakhir, Bank Indonesia memang telah mengeluarkan berbagai langkah strategis. Suku bunga acuan dinaikkan, imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) diatur semakin menarik, serta berbagai instrumen moneter lainnya dikerahkan untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Seluruh kebijakan ini dijalankan di tengah situasi global yang tidak bersahabat.

Tekanan Global yang Tidak Ringan

Penguatan Dolar AS yang signifikan, ketidakpastian geopolitik, serta perubahan arah kebijakan bank sentral negara maju memberikan tekanan luar biasa terhadap hampir seluruh negara berkembang. Kondisi tersebut menciptakan volatilitas tinggi di pasar keuangan global dan memicu arus keluar modal dari pasar emerging markets.

Berbagai langkah moneter BI berhasil meredam tekanan dalam jangka pendek, namun pelemahan Rupiah secara struktural belum berhasil dihentikan.

Meskipun kebijakan tersebut berhasil meredam tekanan dalam jangka pendek serta menjaga kepercayaan pasar, laju pelemahan Rupiah belum benar-benar terhenti. Hal ini mengindikasikan bahwa solusi yang ada mungkin hanya bersifat temporer.

Perlu Melihat Persoalan Lebih Mendasar

Kini, publik dan pemangku kepentingan perlu berani melihat persoalan yang lebih mendasar. Jika Rupiah terus-menerus membutuhkan "pereda nyeri" berupa suku bunga yang semakin tinggi, kemungkinan besar persoalan utamanya memang bukan lagi berada pada ranah kebijakan moneter. Faktor-faktor seperti defisit transaksi berjalan, ketergantungan impor, hingga daya saing ekonomi secara keseluruhan bisa jadi merupakan akar permasalahan yang sebenarnya. Tanpa penanganan menyeluruh terhadap faktor-faktor struktural tersebut, upaya menjaga stabilitas Rupiah berisiko terus bergantung pada instrumen moneter yang pada akhirnya bisa menekan laju pertumbuhan ekonomi nasional.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
pandu-rangga

Editor Ekonomi. Editor ekonomi breaking dan update pasar terkini.

Comments (0)

User