Megawati Tabur Bunga di Kudatuli, Doa untuk Korban Tragedi 27 Juli
JAKARTA – Hening menyelimuti Monumen Kudatuli saat Megawati Soekarnoputri tiba, tepat pukul 08.07 WIB. Dengan langkah gontai, ia menabur kelopak mawar putih. Tangannya terangkat dalam doa yang getir...
JAKARTA – Hening menyelimuti Monumen Kudatuli saat Megawati Soekarnoputri tiba, tepat pukul 08.07 WIB. Dengan langkah gontai, ia menabur kelopak mawar putih. Tangannya terangkat dalam doa yang getir. Tiga dekade berlalu, luka itu belum sepenuhnya kering.
Momen ini adalah peringatan 30 tahun peristiwa kelam 27 Juli 1996 – penyerbuan kantor DPP PDI oleh kekuatan yang didukung rezim Orde Baru. Hari itu, ratusan pendukung Megawati diserang, puluhan hilang, dan beberapa di antaranya tak pernah kembali. Monumen yang kini berdiri di Jalan Diponegoro menjadi saksi bisu.
Rangkaian Ziarah Sunyi
Megawati tidak banyak bicara. Ia hanya berbisik, "Aku datang untuk mereka." Bersama putrinya, Puan Maharani, dan sejumlah kader PDIP, ia meletakkan karangan bunga bertuliskan "Untuk Pahlawan Demokrasi." Petugas keamanan sempat menutup akses jalan sekitar selama 15 menit untuk memberi ruang bagi prosesi.
DATA KUNCI:
- Tanggal: 27 Juli 2026, pukul 08.07 – 08.35 WIB
- Lokasi: Monumen Kudatuli, Menteng, Jakarta Pusat
- Peserta Inti: Megawati Soekarnoputri, Puan Maharani, elite PDIP
- Penjagaan: 200 personel gabungan TNI-Polri
Sejumlah saksi mata yang hadir menyebut suasana begitu emosional. Seorang kader senior terlihat menyeka air mata. "Kita harus ingat, demokrasi kita dibangun di atas darah," ujar salah satu petinggi partai yang enggan disebutkan namanya.
Konteks Tragedi yang Tak Boleh Dilupakan
Peristiwa Kudatuli adalah babak hitam transisi politik Indonesia. Serangan terhadap kantor DPP PDI terjadi setelah Megawati digulingkan dari kursi ketua umum melalui kongres ilegal buatan pemerintah. Aparat keamanan saat itu membiarkan massa pro-pemerintah menguasai markas, memukul mundur para pendukung Megawati dengan kekerasan.
Komnas HAM mencatat, sedikitnya 5 orang tewas, 149 luka-luka, dan 23 aktivis dinyatakan hilang secara paksa. Hingga kini, kasus tersebut belum terselesaikan secara hukum. "Ini bukan sekadar ritual tahunan. Ini komitmen agar sejarah tidak diulangi," tegas seorang sejarawan yang turut mengamati prosesi.
Angka Tragedi:
- 5 tewas terkonfirmasi
- 149 luka-luka
- 23 orang hilang – 13 di antaranya tak pernah ditemukan
- 197 saksi diperiksa, 0 tersangka diadili
Doa Lintas Iman
Setelah tabur bunga, Megawati mengikuti doa bersama yang dipimpin oleh perwakilan enam agama. Pembacaan puisi "Derita Demokrasi" oleh sastrawan senior menggema di halaman monumen. Peserta menyalakan lilin dalam bentuk formasi "30".
Putri proklamator itu meninggalkan lokasi pukul 08.35 tanpa memberikan keterangan pers. Namun, pesannya jelas: perjuangan demokrasi belum usai, dan pengorbanan para pahlawan Kudatuli akan terus menjadi api bagi gerakan rakyat.
UPDATE: Pihak Istana melalui juru bicara menyampaikan penghormatan kepada para korban dan mendorong pengungkapan pelanggaran HAM masa lalu. Sementara itu, PDIP berencana membawa permohonan resmi ke Kejaksaan Agung agar berkas Kudatuli dibuka kembali.
Peringatan tahunan ini menjadi kian relevan di tengah ketegangan politik jelang pemilihan legislatif mendatang. Kudatuli, bagi banyak pihak, adalah pengingat abadi bahwa suara rakyat tidak boleh ditindas.
Comments (0)